Sawit Menguat Ditopang Depresiasi Ringgit dan Kenaikan Minyak Nabati Global
Wednesday, March 11, 2026       13:15 WIB
  • CPO menguat 0,72% karena ringgit melemah dan harga minyak nabati global naik.
  • Penurunan minyak mentah kurangi daya tarik CPO untuk biodiesel.
  • Ekspor Malaysia melonjak, permintaan India meningkat akibat kekhawatiran pasokan.

Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia menguat, Rabu, terkatrol depresiasi ringgit dan kenaikan harga minyak nabati pesaing di pasar global, khususnya Chicago.
Kontrak minyak sawit patokan untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 32 ringgit, atau 0,72%, menjadi 4.460 ringgit (USD1.137,46) per metrik ton pada jeda tengah hari, setelah merosot ke 4.395 ringgit pada awal sesi, demikian laporan  Reuters,  di Jakarta, Rabu (11/3).
"Minyak sawit berjangka diperdagangkan lebih kuat, didukung terutama oleh melemahnya ringgit dan sebagian efek penguatan dari kompleks minyak nabati yang lebih luas, mengikuti kenaikan harga soyoil Chicago selama jam perdagangan Asia," kata analis yang berbasis di Singapura. Dia menambahkan, momentum kenaikan masih dibatasi oleh pertimbangan pasokan global yang terus mengalir.
Di pasar internasional, minyak kedelai (soyoil) Chicago Board of Trade melambung 2,04%. Kontrak soyoil paling aktif di Dalian meningkat 0,02% setelah sempat turun 0,19% pada sesi pagi, sementara kontrak minyak sawitnya naik 0,38% setelah melemah 0,25%.
Harga sawit cenderung mengikuti pergerakan minyak pesaingnya karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Melemahnya ringgit, mata uang kontrak perdagangan, sebesar 0,03% terhadap dolar AS membuat sawit menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang asing.
Namun, pelemahan harga minyak mentah, Rabu, akibat laporan Badan Energi Internasional (IEA) mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah, membuat CPO menjadi opsi yang kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-10 Maret melesat 45,3% dibandingkan periode 1-10 Februari, menurut perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia. Menurut cargo surveyor Intertek Testing Services, peningkatannya sebesar 37,9%.
Selain itu, kenaikan harga minyak nabati dan biaya pengiriman mendorong pembeli dari India memilih pengiriman segera. Hal ini dipicu kekhawatiran pengiriman soyoil dan minyak bunga matahari yang baru dibeli bisa tertunda akibat konflik Timur Tengah. (Reuters/AI)

Sumber : Admin