Rupiah Menguat Tipis, Kesepakatan Iran-Oman Redakan Kekhawatiran Pasar
Thursday, August 06, 2026       15:54 WIB
  • Rupiah ditutup menguat tipis 10 poin (0,06%) ke Rp17.923 per dolar AS, didorong membaiknya sentimen global setelah kesepakatan Iran-Oman terkait jalur pelayaran Selat Hormuz meredakan kekhawatiran pasar energi.
  • Meredanya harga energi membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi sekitar 55%, sementara pasar menanti data ketenagakerjaan AS sebagai petunjuk arah kebijakan berikutnya.
  • Dari domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 sebesar 5,29% yang melampaui proyeksi menopang rupiah, meski pasar tetap mencermati hasil review indeks MSCI dan FTSE Russell yang berpotensi memengaruhi arus dana asing.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan sore ini, seiring membaiknya sentimen global setelah Iran dan Oman mencapai kesepakatan mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Mengutip data Bloomberg, pada Kamis (6/8) pukul 15.00 WIB rupiah ditutup di level Rp17.923 per dolar AS, menguat 10 poin atau 0,06% dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (5/8) yang berada di posisi Rp17.933 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah didukung meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global setelah muncul perkembangan positif terkait Selat Hormuz.
"Sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sebuah jalur air vital yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan LNG global," kata Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Menurut Ibrahim, meski demikian pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti jalur pelayaran telah kembali beroperasi sepenuhnya. Negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, serta pengaturan keamanan masih terus berlangsung.
Ia menambahkan, perkembangan tersebut ikut meredakan lonjakan harga minyak yang sebelumnya dipicu kekhawatiran terganggunya distribusi energi global. Penurunan harga energi kemudian mendorong investor menurunkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat.
"Penurunan harga energi mendorong investor untuk menurunkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve. Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 55% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, turun dari angka 67% yang tercatat dua hari sebelumnya," ujar Ibrahim.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya. Laporan ADP National Employment menunjukkan perlambatan perekrutan tenaga kerja sektor swasta selama Juli, sementara pasar kini menunggu rilis data nonfarm payrolls pada Jumat.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yang melampaui ekspektasi turut memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah.
"Pertumbuhan PDB tahunan kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,29% secara tahunan (year-on-year), angka ini sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal pertama namun tetap melampaui proyeksi, sehingga menjadikan pertumbuhan semester pertama sebesar 5,45%," jelas Ibrahim.
Meski demikian, pelaku pasar domestik masih mencermati sejumlah agenda penting pada Agustus, terutama hasil peninjauan indeks MSCI dan FTSE Russell yang dinilai berpotensi memengaruhi arus dana asing ke pasar modal Indonesia.
Ibrahim menjelaskan, keputusan penyedia indeks global tersebut masih sulit diprediksi sehingga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar dalam beberapa pekan mendatang.
"Walaupun reformasi yang telah dilakukan regulator /OJK menjadi perkembangan positif, namun belum menjamin perubahan sikap FTSE maupun MSCI dalam waktu dekat. Sementara itu, MSCI diperkirakan baru menyampaikan evaluasi lanjutan atas tuntutan reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026," tutur Ibrahim.
Ia menambahkan, besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global tercermin dari nilai aset kelolaan dana pasif yang mengikuti indeks tersebut. MSCI mengelola passive assets under management sekitar USD5 miliar, jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang diperkirakan memiliki passive AUM sekitar USD1,5 miliar hingga USD2 miliar.
Hal itu membuat setiap perubahan kebijakan maupun status Indonesia dalam indeks global berpotensi memengaruhi arus investasi asing ke pasar domestik secara signifikan.(Adhitya/AI)

Sumber : admin