AI News - Pada penutupan perdagangan Rabu 8 Juli 2026, nilai tukar rupiah melemah 0,19% ke level Rp 18.014 per dolar Amerika Serikat, menembus zona Rp 18.000 pertama kalinya sejak awal 2026.
Poin Penting
- Rupiah tutup pada Rp 18.014 per USD, melemah 0,19% (Rabu 8 Juli 2026).
- Dolar AS menguat 0,14% ke Rp 18.005 pada pukul 11.32 WIB.
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%.
- Defisit APBN semester I-2026 tercatat Rp 196,5 triliun atau 0,76 % PDB.
- Cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar.
Mengapa Rupiah Melemah Melebihi Rp 18.000 pada Rabu 8 Juli 2026?
Rupiah tertekan karena sentimen geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan Federal Reserve. Ibrahim Assuaibi, direktur PT Traze Andalan Futures, mengaitkan pelemahan dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran gangguan pelayaran di Selat Hormuz, menurut Investor.id. Pada saat yang sama data Bloomberg yang dikutip Detik mencatat dolar AS menguat 0,14% menjadi Rp 18.005 pada pukul 11.32 WIB, menandakan tekanan jual yang lebih kuat terhadap mata uang lokal. Kombinasi geopolitik tegang dan penguatan dolar memperparah permintaan jual rupiah, sehingga nilai tukar melampaui batas psikologis Rp 18.000. Bagi investor, kondisi ini menandakan volatilitas tinggi dan risiko nilai tukar yang meningkat dalam hari-hari mendatang.
Apa Dampak Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS Terhadap Rupiah?
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun menjadi 4,525% (naik 5,5 basis poin) menambah tekanan pada rupiah karena memperlebar selisih suku bunga antara AS dan Indonesia, menurut Investor.id. Selisih tersebut mengundang aliran kembali modal ke aset berbasis dolar, menurunkan permintaan terhadap rupiah di pasar spot. Data Investor.id juga menyebutkan bahwa pedagang kini menunggu notulen rapat FOMC Juni, yang diperkirakan akan memberikan gambaran kebijakan moneter The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh. Sementara itu, dolar AS terus menguat melawan mata uang utama, termasuk euro dan yen, memperkuat arus keluar dana emergent market. Dampaknya, rupiah mengalami depresiasi lebih lanjut, mempersempit margin keuntungan bagi importir dan meningkatkan beban biaya impor bagi perusahaan domestik.
Bagaimana Defisit Anggaran dan Cadangan Devisa Mempengaruhi Nilai Rupiah?
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) semester I-2026 sebesar Rp 196,5 triliun atau 0,76 % PDB menambah beban fundamental pada nilai tukar rupiah, menurut Investor.id. Defisit yang lebih lebar meningkatkan kebutuhan pembiayaan luar negeri, sehingga menambah permintaan dolar di pasar valuta asing. Pada saat yang sama, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat US$145,6 miliar, sedikit naik dari US$144,9 miliar pada akhir Mei, namun tetap berada di dekat level terendah dua tahun terakhir, menurut Investor.id. Meskipun cadangan sedikit bertambah, besarnya defisit mengindikasikan tekanan lanjutan pada likuiditas mata uang nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kebijakan moneter berada di ranah Bank Indonesia, yang belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah penstabilan rupiah, menandakan ketidakpastian kebijakan lebih lanjut bagi pasar.
Sumber : AI News