- Rupiah ditutup di Rp17.102/USD (menguat 93 poin/0,54%) pada Rabu (8/4) usai Presiden Donald Trump setujui gencatan senjata 2 minggu dengan Iran.
- Meredanya tensi geopolitik menekan indeks dolar AS. Namun pasar tetap waspada menanti rilis CPI AS Maret hari Jumat.
- Realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun (naik 10,5% yoy / 18,2% target APBN 2026), ditopang penerimaan perpajakan Rp462,7 triliun (naik 14,3% yoy).
Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat lumayan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (8/4) sore, terdorong sentimen positif dari pasar global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui gencatan senjata dengan Iran.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.00 WIB, mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.102 per dolar AS, menguat 93 poin atau 0,54% dibandingkan penutupan Selasa (7/4) di Rp17.105 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dipicu melemahnya indeks dolar AS seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Dari eksternal, pasar merespons positif keputusan Trump yang menyetujui gencatan senjata dengan Iran. "Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa ia akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menambahkan bahwa AS telah mencapai tujuan militer intinya," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang telah dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial untuk eskalasi besar. Sebelumnya pada hari itu, Trump telah memperingatkan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran gagal mematuhi kesepakatan tersebut.
Gencatan senjata yang ditengahi Pakistan setelah upaya diplomatik menit-menit terakhir bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat secara aman, jalur utama bagi sekitar 20% aliran minyak global. Iran juga mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi, dengan mengatakan bahwa jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi AS (CPI) Maret pada Jumat pekan ini yang diperkirakan memberi sinyal dampak kenaikan harga energi terhadap kebijakan The Fed.
"Para ekonom memperkirakan inflasi utama akan meningkat secara bulanan, sebagian besar didorong oleh biaya bahan bakar yang lebih tinggi, yang berpotensi mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari realisasi pendapatan negara yang tumbuh solid. Hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun, naik 10,5% secara tahunan (yoy) atau setara 18,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.
Capaian tersebut ditopang penerimaan perpajakan sebesar Rp462,7 triliun (naik 14,3% yoy) yang terdiri dari penerimaan pajak Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp67,9 triliun. Sementara PNBP tercatat Rp112,1 triliun dan hibah Rp100 miliar.
Perlu diketahui, tadi pagi mata uang Garuda sempat menguat drastis ke level Rp16.993 per dolar AS, melesat 112 poin atau 0,65% dibandingkan penutupan Selasa (7/4) di Rp17.105 per dolar AS.(Adhitya/AI)
Sumber : admin