Rupiah Ditutup Menguat Di Tengah Ketidakpastian Tarif Dan Sikap The Fed
Friday, July 18, 2025       15:35 WIB

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar di akhir pekan, karena ketidakpastian arah kebijakan tarif Amerika Serikat dan sikap hati-hati Federal Reserve (The Fed).
Mengutip data Bloomberg pada Jumat sore (18/7) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup di level Rp16.296 per dolar AS, menguat 44 poin atau 0,27% dibandingkan Kamis sore (17/7) dilevel Rp16.340 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa pelemahan indeks dolar AS hari ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan tarif dan ketidakpastian sikap The Fed.
"Pasar mencermati ketidakpastian tarif dan kebijakan Fed setelah data minggu ini menunjukkan bahwa indeks harga konsumen AS sedikit di atas ekspektasi, menyoroti dampak awal tarif perdagangan Presiden Donald Trump," kata Ibrahim dalam siaran pers, sore ini.
Menurut Ibrahim, data inflasi konsumen (IHK) yang naik tipis telah memperkuat sikap hati-hati The Fed terhadap suku bunga. Beberapa pejabat The Fed menyatakan bahwa inflasi masih stagnan, dan kenaikan harga belakangan ini kemungkinan mencerminkan dampak awal dari tarif baru.
"Investor semakin yakin bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat," tambah Ibrahim.
Ketegangan politik juga memperburuk sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump menolak kabar bahwa ia akan mencopot Ketua The Fed Jerome Powell, namun tidak sepenuhnya menutup kemungkinan itu. Situasi ini memperuncing kekhawatiran atas independensi bank sentral AS.
Trump juga memperluas serangan tarifnya minggu ini, dan dengan tenggat waktu 1 Agustus yang semakin dekat, investor bersikap waspada terhadap arah kebijakan perdagangan AS.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Trump baru saja mengumumkan kesepakatan dagang baru antara Indonesia dan AS, yang diklaim sebagai babak baru hubungan perdagangan yang saling menguntungkan.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Indonesia akan membuka lebih banyak akses pasar bagi produk-produk AS, termasuk impor energi senilai USD15 miliar (sekitar Rp244,56 triliun), produk pertanian senilai USD4,5 miliar (sekitar Rp73,36 triliun), serta pembelian 50 unit pesawat Boeing, mayoritas tipe 777.
Namun demikian, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut menyimpan potensi risiko bagi Indonesia, mulai dari ketimpangan neraca perdagangan hingga ancaman terhadap kedaulatan energi dan pangan nasional.
Menurut Trump, kesepakatan ini membuka seluruh pasar Indonesia bagi AS untuk pertama kalinya dalam sejarah.
"Meskipun pemerintah menyambut kesepakatan ini sebagai kemenangan diplomatik, pelaku pasar tetap mencermati dampaknya terhadap stabilitas fiskal dan daya saing ekonomi nasional," pungkas Ibrahim.(Adhitya/AI)

Sumber : admin