AI News - Rupiah diperkirakan akan bertransaksi dalam kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Kamis 9 Juli, setelah menembus level psikologis Rp18.000 pada Rabu 8 Juli. Pergerakan ini mencerminkan tekanan eksternal akibat ketegangan di Timur Tengah serta faktor fiskal domestik yang mempersempit ruang kebijakan moneter.
Poin Penting
- Penutupan spot pada Rabu 8 Juli: Rp18.014 per USD (penurunan 0,19%).
- Money changer Jakarta menunjukkan beli Rp18.030 dan jual Rp17.985 per USD.
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,525%.
- Defisit APBN semester I-2026 mencapai Rp196,5 triliun (0,76% PDB).
- Cadangan devisa Juni sebesar US$145,6 miliar, mendekati level terendah dua tahun terakhir.
Apa Penyebab Utama Rupiah Menembus Level Psikologis Rp18.000?
Menurut CNBC Indonesia, rupiah menembus level Rp18.000 akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dipicu serangan udara Amerika Serikat ke Iran. Ketegangan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting transportasi minyak. Kontan menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menambah beban bagi mata uang emerging, termasuk rupiah, karena aliran modal beralih ke aset berisiko lebih rendah. Kombinasi faktor eksternal ini memperlemah sentimen investor dan memicu penjualan rupiah di pasar spot. Akibatnya, volatilitas nilai tukar meningkat, menandai tekanan berkelanjutan pada mata uang domestik.
Bagaimana Defisit Anggaran dan Cadangan Devisa Memperparah Tekanan pada Rupiah?
Menurut Kontan, defisit anggaran yang signifikan bersama dengan penurunan cadangan devisa memperkuat tekanan pada rupiah. Defisit APBN sebesar ratusan triliun rupiah meningkatkan kebutuhan impor, khususnya energi, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan pada neraca berjalan. Pada saat yang sama, cadangan devisa yang berada di dekat level terendah dua tahun mengurangi buffer yang biasanya digunakan Bank Indonesia untuk menstabilkan pasar. Kondisi fiskal yang lemah sekaligus likuiditas devisa yang terbatas menyulitkan otoritas moneter untuk melakukan intervensi efektif tanpa menambah beban pada neraca transaksi. Secara keseluruhan, faktor-faktor ini menurunkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas nilai tukar jangka pendek.
Apa Proyeksi Nilai Tukar Rupiah untuk Perdagangan Kamis 9 Juli?
Menurut Kontan, analis memperkirakan rupiah akan beroperasi dalam rentang Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Kamis 9 Juli. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa tekanan geopolitik di Timur Tengah akan tetap berlanjut dan data fiskal domestik tidak menunjukkan perbaikan signifikan. Dengan kisaran nilai tukar tersebut, pasar diperkirakan akan tetap berada dalam zona merah, mengingat sentimen negatif yang masih mendominasi. Investor diperkirakan akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter dan dinamika geopolitik sebagai acuan utama keputusan perdagangan. Oleh karena itu, volatilitas diperkirakan tetap tinggi hingga adanya perubahan fundamental yang jelas.
Sumber : AI News