Rupiah Diproyeksikan Berfluktuasi Antara Rp 17.870-18.300 pada Pekan Depan
Saturday, July 11, 2026       19:08 WIB

AI News - Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.870-18.300 per dolar pada minggu depan setelah melemah 0,38 % (70 poin) selama seminggu terakhir, sedangkan analis ICDX menilai rentang moderat antara Rp 18.000-18.120 per dolar.

Poin Penting

  • Rupiah melemah 0,38 % (70 poin) menjadi Rp 18.065 per dolar pada 10 Juli 2026.
  • Investor.id mencatat pembukaan melemah 32 poin (0,18 %) pada 6 Juli, dengan penutupan kembali di Rp 17.995.
  • Jisdor Bank Indonesia menunjukkan penguatan harian 0,11 % ke Rp 18.069 pada 10 Juli.
  • Proyeksi Ibrahim Assuaibi: Rp 17.870-18.300 per dolar untuk pekan depan.
  • Proyeksi Muhammad Amru Syifa: Rp 18.000-18.120 per dolar untuk pekan depan.

Mengapa Rupiah Melemah di Pekan Ini?


Rupiah mengalami tekanan penurunan karena kombinasi sentimen domestik yang negatif dan faktor eksternal yang menguat. Investor.id mengaitkan pelemahan 0,38 % tersebut dengan kekhawatiran geopolitik, khususnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun. Kontan menambahkan bahwa laporan Fitch Ratings menyoroti kerentanan makroekonomi Indonesia, termasuk penurunan cadangan devisa dan arus keluar modal yang signifikan, sekaligus menegaskan bahwa kepercayaan investor melemah akibat tata kelola ekonomi yang dinilai kurang optimal. Defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026, yang dicatat Badan Pusat Statistik, juga menambah beban pada nilai tukar. Secara keseluruhan, gabungan faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan berisiko bagi rupiah, menjadikannya rentan terhadap fluktuasi harian.

Apa Proyeksi Nilai Tukar Rupiah untuk Pekan Depan?


Berbagai analis memproyeksikan rentang nilai tukar yang cukup lebar untuk minggu mendatang, mencerminkan ketidakpastian pasar. Ibrahim Assuaibi, yang dikutip oleh Investor.id, memperkirakan rupiah akan berada di antara Rp 17.870-18.300 per dolar, menekankan bahwa fluktuasi dapat terjadi dalam rentang tersebut tergantung pada perkembangan sentimen eksternal. Sementara itu, Muhammad Amru Syifa dari Research and Development ICDX , sebagaimana dilaporkan Kontan, melihat potensi penguatan moderat dengan batas bawah Rp 18.000 dan batas atas Rp 18.120 per dolar, mencerminkan keyakinan bahwa dukungan cadangan devisa dan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dapat menahan tekanan lebih lanjut. Kedua proyeksi mengakui bahwa faktor global, terutama pergerakan dolar AS dan data inflasi inti Amerika, akan tetap menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah. Dengan demikian, investor diharapkan menyesuaikan strategi mereka sesuai dengan rentang yang diperkirakan.

Bagaimana Sentimen Eksternal dan Kebijakan Fed Mempengaruhi Rupiah?


Sentimen eksternal dan keputusan kebijakan moneter Amerika Serikat memainkan peran krusial dalam pergerakan rupiah. Kontan mencatat bahwa ketegangan antara AS dan Iran meningkatkan kecemasan pasar terhadap pasokan minyak global, yang pada gilirannya menambah tekanan pada dolar AS dan memicu volatilitas nilai tukar di pasar emerging. Selain itu, risalah rapat Federal Reserve pada Juni menunjukkan perpecahan di antara pembuat kebijakan mengenai perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut, menandakan kemungkinan pengetatan moneter yang dapat memperkuat dolar. Investor menantikan rilis data inflasi inti (Core CPI) Amerika; jika angka tersebut melampaui ekspektasi, pasar diperkirakan akan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, memperburuk tekanan pada rupiah. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memberi ruang bagi dolar untuk melemah, memberikan peluang bagi rupiah untuk menguat dalam batas proyeksi yang telah disebutkan sebelumnya.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News