Rupiah Diproyeksi Berkisar Rp 17.930-17.980 pada Kamis 6 Agustus
Thursday, August 06, 2026       00:47 WIB

AI News - Rupiah diproyeksi akan bergerak antara Rp 17.930 dan Rp 17.980 per dolar AS pada perdagangan Kamis 6 Agustus, setelah menguat 0,52 % menjadi Rp 17.933 pada penutupan Rabu 5 Agustus. Penguatan ini terjadi seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid pada kuartal II 2026.

Poin Penting

  • Penutupan Rabu 5 Agustus: Rupiah menguat 94 poin atau 0,52 % ke Rp 17.933 per dolar AS.
  • Proyeksi nilai tukar Kamis 6 Agustus: kisaran Rp 17.930-Rp 17.980 per dolar AS.
  • Produk Domestik Bruto Rp 6,552,1 triliun; harga konstan Rp 3,576,2 triliun.
  • Deflasi bulanan Juli 2026 -0,14 % dengan inflasi tahunan 2,88 %.

Mengapa Rupiah Menguat pada Penutupan Rabu?


Menurut BeritaSatu, rupiah menguat pada penutupan Rabu karena meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi domestik yang kuat. Mediator Qatar mengumumkan kemajuan dalam upaya perdamaian antara AS dan Iran, yang menurunkan harga minyak mentah Brent di bawah US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli. Penurunan harga minyak mengurangi tekanan pada pasar keuangan global, sehingga aliran modal ke aset berbunga Indonesia menjadi lebih menarik. Dengan sentimen positif ini, mata uang Garuda memperoleh dukungan tambahan meskipun pasar global masih memantau data ekonomi AS.

Apa Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Sentimen Rupiah?


Kontan melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 % year-on-year, melampaui perkiraan konsensus 4,8-4,9 %. Kenaikan tersebut mencerminkan daya tahan sektor domestik meski terdapat pengetatan moneter global, yang memperkuat persepsi fundamental ekonomi. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 % dibandingkan kuartal I, dan secara kumulatif semester I-2026 naik 5,45 % dibandingkan tahun sebelumnya. Kuatnya fundamental ini memberi dukungan bagi rupiah, membantu mempertahankan apresiasi meski fluktuasi pasar internasional terus terjadi.

Bagaimana Prospek Data Ketenagakerjaan AS Mempengaruhi Kurs Rupiah Besok?


Kompas mencatat bahwa data ketenagakerjaan AS yang diproyeksikan melambat dapat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga mengurangi tekanan pada rupiah besok. Survei ADP memperkirakan penambahan 70.000 pekerjaan pada Juli, jauh di bawah 98.000 pada Juni, menandakan pasar tenaga kerja AS melambat. Jika data Nonfarm Payrolls (NFP) juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih lemah, pasar kemungkinan akan menilai kebijakan moneter AS tetap dovish. Kondisi ini dapat mengurangi arus keluar modal dari pasar emergen, memberikan ruang bagi rupiah untuk tetap stabil atau menguat pada perdagangan Kamis.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News