Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Angka Inflasi AS Dan Tingginya Harga Minyak Jadi Penekan
Monday, September 14, 2026       09:31 WIB
  • Rupiah dibuka menguat tipis 0,02% ke Rp17.607 per dolar AS pada Senin (14/9), didukung sentimen domestik positif menjelang RDG Bank Indonesia.
  • Inflasi AS Agustus 2026 naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti melambat menjadi 2,4% dari 2,5%.
  • Rupiah berpotensi kembali tertekan akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak yang menembus USD100 per barel, dengan proyeksi bergerak Rp17.550-Rp17.700 per dolar AS.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar dibuka menguat sangat tipis pagi ini, meskipun data inflasi Amerika Serikat per Agustus 2026 masih menguat.
Dalam perdagangan sepekan lalu, rupiah tercatat terapresiasi 0,21 persen.
Mengutip data Bloomberg, Senin (14/9) pada pukul 09.08, rupiah sedang diperdagangkan pada level Rp17.607 per dolar AS, menguat sangat tipis 4 poin atau 0,02% dibandingkan akhir perdagangan Jumat (11/9) di level Rp17.611 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan sangat tipis kurs rupiah pagi ini karena sentimen domestik masih positif menjelag Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan depan. "Namun tekanan eksternal bisa membalikkan ini," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
Lukman memperkirakan rupiah melemah terhadap dolar AS hari ini setelah data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kenaikan kembali pada imbal obligasi AS. "Harga minyak mentah dunia yang juga terus naik melewati USD100 per barel ikut memberikan tekanan pada rupiah," ujar Lukman.
Lukman memprediksi kurs rupiah hari ini bergerak pada kisaran Rp17.550 - Rp17.700 per dolar AS.
Sebagaimana diketahui, inflasi konsumen AS kembali menguat pada Agustus 2026, terutama didorong kenaikan harga bensin. Bureau of Labor Statistics (BLS) mengumumkan Jumat kemarin, Consumer Price Index (CPI) naik 0,4% secara bulanan di Agustus.
Realisasi tersebut setara dengan konsensus proyeksi analis, yang juga memprediksi inflasi konsumen akan naik 0,4%. Harga bensin yang meningkat 3,9%, menyumbang lebih dari sepertiga kenaikan indeks secara keseluruhan.
Mengutip rilis BLS, CPI secara tahunan, meningkat 3,4%, sama dengan laju kenaikan pada Juli. Angka ini juga sesuai dengan konsensus proyeksi ekonom.
Namun, secara tahunan inflasi inti tersebut melambat menjadi 2,4% dari 2,5% pada Juli. Realisasi inflasi inti tersebut sejalan dengan konsensus proyeksi ekonom. (Adhitya/AI)

Sumber : Admin