Reli Emas Berlanjut, Pasar Bersiap Hadapi Arah Suku Bunga AS dan Geopolitik Global
Thursday, August 06, 2026       14:27 WIB
  • Emas naik ke level puncak tujuh pekan didorong pelemahan dolar AS.
  • Emas spot naik 0,37% menjadi USD4.262,42 per ons.
  • Ekspektasi penurunan suku bunga the Fed turut menopang harga emas.

Ipotnews - Harga emas melanjutkan penguatan untuk sesi keempat berturut-turut, Kamis, dan mencapai level tertinggi tujuh pekan, didorong pelemahan dolar AS serta meningkatnya perhatian investor terhadap kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz.
Emas spot naik 0,37 persen menjadi USD4.262,42 per ons pada pukul 14.16 WIB, setelah menyentuh level tertinggi sejak 18 Juni di awal sesi. Pada perdagangan Rabu, emas mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Bengaluru, Kamis (6/8).
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember menguat 0,31 persen ke posisi USD4.318,40 per ons.
Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan lonjakan harga emas terjadi seiring meningkatnya optimisme bahwa terobosan diplomatik di Timur Tengah semakin dekat untuk tercapai.
"Reli tajam ini muncul karena meningkatnya optimisme bahwa terobosan diplomatik di Timur Tengah hampir tercapai. Hal ini dapat menjaga tekanan terhadap harga minyak dan mengurangi kebutuhan bank sentral menaikkan suku bunga, sehingga menjadi pendorong positif bagi emas," ujar Sycamore.
Dia menambahkan, apabila harga emas mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari, logam mulia tersebut berpeluang melanjutkan pemulihan menuju level USD5.000 per ons.
Perhatian pasar saat ini tertuju pada proposal kesepakatan antara Iran dan Oman yang bertujuan membantu mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung selama lima bulan. Berdasarkan informasi dari sumber senior Iran dan dua pejabat regional kepada  Reuters , kesepakatan tersebut berpotensi memberikan Teheran kendali terhadap kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.
Sejak awal konflik Amerika Serikat-Iran pada 28 Februari, harga emas spot tercatat merosot sekitar 19 persen akibat kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memicu inflasi dan mendorong suku bunga tetap tinggi. Padahal, emas secara historis cenderung mendapat keuntungan dalam lingkungan suku bunga rendah karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika pada September juga mengalami penurunan. Peluang kenaikan suku bunga kini diperkirakan sekitar 55 persen, turun dari 67 persen hanya dua hari sebelumnya.
Selain faktor suku bunga, pelemahan dolar AS turut memberikan dukungan terhadap harga emas. Indeks Dolar (Indeks DXY) bergerak tertekan, sehingga komoditas yang dihargai dalam greenback menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Pelaku pasar kini menunggu rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat periode Juli yang dijadwalkan keluar Jumat. Data tersebut menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.
Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan sektor swasta dari ADP menunjukkan pertumbuhan jumlah pekerjaan di Amerika Serikat mengalami perlambatan pada Juli. Jika laporan tenaga kerja resmi memperlihatkan pelemahan, kondisi tersebut dapat semakin memperkuat prospek penurunan suku bunga dan memberikan dorongan tambahan bagi emas.
Namun, pendiri J. Rotbart & Co., Joshua Rotbart, memperingatkan bahwa data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan dapat memberikan tekanan jangka pendek terhadap harga emas karena pasar kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap jadwal kebijakan moneter the Fed.
Logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,5 persen menjadi USD61,78 per ons. Platinum naik 0,8 persen ke USD1.755,18 per ons setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Juni.
Sementara itu, harga paladium menguat 0,8 persen jadi USD1.748,08 per ons dan mencatat kenaikan untuk sesi ketiga secara berturut-turut. (Reuters/Bloomberg/AI)

Sumber : Admin