- Asia semakin menjadi pusat gravitasi pasar emas dunia, didukung permintaan fisik yang kuat dan penguatan infrastruktur perdagangan emas di Singapura serta Hong Kong.
- Meski harga emas turun sekitar 25% dari rekor tertinggi pada Januari, permintaan investor dan bank sentral di Asia dinilai tetap menopang pasar.
- Analis memperkirakan harga emas berpotensi kembali menguat menjelang akhir tahun jika risiko geopolitik meningkat, dolar AS melemah, atau ekspektasi suku bunga berubah.
Ipotnews - Asia semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat baru pasar emas global. Permintaan yang tetap kuat dari kawasan ini dinilai menjadi penopang utama harga emas, seiring langkah Singapura dan Hong Kong memperkuat infrastruktur perdagangan logam mulia melalui pengembangan fasilitas penyimpanan (vault), kliring, kustodian, dan perdagangan.
Perubahan pusat gravitasi pasar emas terjadi meski harga logam mulia tersebut telah terkoreksi sekitar 25% dari rekor tertinggi US$5.500 per troy ons yang dicapai pada Januari. Hingga Rabu (9/7), harga emas berada di kisaran US$4.078,56 per troy ons, atau turun sekitar 5% sejak awal tahun.
Tekanan terhadap harga sempat muncul ketika investor menjual emas untuk meningkatkan likuiditas selama konflik di Timur Tengah. Namun, para analis menilai permintaan yang kuat dari Asia berhasil membatasi pelemahan harga.
Salah satu indikatornya adalah arus dana ke exchange traded fund (ETF) berbasis emas fisik. Berdasarkan laporan World Gold Council (WGC), Asia mencatat arus masuk dana terbesar secara global pada semester I-2026, mencapai rekor US$12 miliar. Sebagai perbandingan, Eropa membukukan arus masuk US$3,2 miliar, sementara Amerika Utara justru mengalami arus keluar sebesar US$7,7 miliar, yang menjadi kinerja semester pertama terburuk sejak 2013.
Infrastruktur Emas Terus Diperkuat
Dalam beberapa bulan terakhir, Singapura dan Hong Kong meluncurkan berbagai inisiatif untuk memperdalam ekosistem perdagangan emas. Menurut para pelaku industri, koreksi harga emas dalam jangka pendek tidak akan menghambat ambisi kedua pusat keuangan tersebut karena pembangunan infrastruktur dilakukan dengan perspektif jangka panjang.
Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered, Suki Cooper, mengatakan pengembangan infrastruktur emas di Asia lebih didorong oleh meningkatnya permintaan fisik dan kebutuhan akan pembentukan harga (price discovery) yang lebih efisien, bukan semata-mata karena tingginya harga emas.
Pandangan serupa disampaikan Strategis Logam Mulia OCBC , Christopher Wong, yang menilai penurunan harga emas saat ini bukan kemunduran bagi ambisi Singapura maupun Hong Kong menjadi pusat perdagangan emas global.
Menurutnya, investasi tersebut merupakan strategi jangka panjang yang mendukung peran Asia dalam kepemilikan, penyimpanan, perdagangan, serta diversifikasi cadangan emas.
Peneliti Senior Asia Pasifik WGC, Marissa Salim, menambahkan bahwa harga yang lebih rendah justru memberikan peluang untuk meningkatkan stok emas fisik sesuai target kapasitas penyimpanan.
Asia Makin Berpengaruh pada Harga Emas
WGC juga mencatat bahwa sebagian besar pemulihan harga emas dalam perdagangan intraday sepanjang tahun ini terjadi pada jam perdagangan Asia. Hal ini menunjukkan semakin besarnya pengaruh investor dan konsumen Asia dalam menentukan arah harga emas dunia.
Selain pembelian oleh bank sentral, pertumbuhan kekayaan individu (private wealth) di kawasan juga menjadi salah satu pendorong meningkatnya permintaan emas.
Besarnya pengaruh Asia bahkan mendorong London Bullion Market Association ( LBMA ) mempertimbangkan memajukan jadwal lelang pagi emas agar lebih selaras dengan jam perdagangan di Asia.
Prospek Harga Masih Positif
Strategis Emas Asia Pasifik State Street Investment Management, Robin Tsui, memperkirakan investor ritel Asia dan bank sentral negara berkembang akan tetap menjadi sumber utama permintaan emas.
Menurutnya, kemampuan harga emas bertahan di atas level US$4.000 per troy ons mencerminkan kuatnya pembelian dari Asia. Kenaikan kembali menuju US$5.000 per troy ons kemungkinan akan dipicu oleh pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil riil, serta pulihnya permintaan dari investor Barat.
WGC memperkirakan, jika kondisi pasar tidak berubah secara signifikan, harga emas akan bergerak di kisaran US$4.100 per troy ons, dengan fluktuasi sekitar 5% pada paruh kedua tahun ini.
Lembaga tersebut menilai emas membutuhkan katalis baru untuk kembali melanjutkan tren kenaikan, seperti memburuknya kondisi ekonomi atau geopolitik, perubahan ekspektasi suku bunga, maupun kembalinya minat investor jangka panjang.
Sementara itu, HSBC Private Bank tetap mempertahankan rekomendasi overweight terhadap emas. Bank tersebut menilai logam mulia masih menarik sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, meningkatnya risiko geopolitik, serta potensi pelemahan dolar AS.
HSBC juga memperkirakan harga minyak yang lebih rendah dan berkurangnya tekanan terhadap cadangan devisa akan mendorong pembelian emas oleh bank sentral negara berkembang dalam beberapa kuartal mendatang, sehingga mendukung harga emas selama enam hingga 12 bulan ke depan.(Businesstimes.com.sg)
Sumber : admin