Prospek Pertumbuhan Asia Membaik, Namun Risiko Global Masih Membayangi
Thursday, July 09, 2026       15:57 WIB
  • ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia 2026 menjadi 4,9% dari sebelumnya 4,7%, didukung meredanya gangguan pasokan dan penurunan harga minyak.
  • Inflasi diperkirakan melambat menjadi 4,3% pada 2026, tetapi masih lebih tinggi dibanding proyeksi awal sebelum konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga energi.
  • ADB mengingatkan sejumlah risiko masih mengancam, mulai dari eskalasi konflik Timur Tengah, ketidakpastian pasar energi, perlambatan sektor properti China, hingga cuaca ekstrem yang dapat memicu kenaikan harga pangan.

Ipotnews - Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia akan sedikit membaik pada 2026, meski tetap berada di bawah proyeksi sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah. Gangguan berkepanjangan terhadap rantai pasok dan pasar energi dinilai masih menjadi tantangan utama bagi pemulihan ekonomi kawasan.
Dalam pembaruan proyeksi terbarunya, bank pembangunan yang bermarkas di Manila itu memperkirakan ekonomi Asia akan tumbuh 4,9% pada 2026, lebih tinggi dibanding estimasi khusus sebelumnya sebesar 4,7% yang dirilis setelah konflik Timur Tengah mengguncang pasar energi global. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibanding proyeksi 5,1% yang tercantum dalam Asian Development Outlook edisi April.
ADB juga merevisi turun proyeksi inflasi kawasan menjadi 4,3% pada 2026, dari estimasi 5,2% dalam pembaruan sebelumnya, seiring mulai stabilnya harga minyak dan kondisi pasokan. Meski demikian, tingkat inflasi tersebut masih lebih tinggi dibanding proyeksi awal April sebesar 3,6%.
Untuk 2027, inflasi diperkirakan kembali melandai menjadi 3,4%. Namun ADB mengingatkan bahwa dampak konflik Timur Tengah berpotensi meluas dari sektor energi ke aktivitas ekonomi secara keseluruhan dengan jeda waktu tertentu.
Menurut ADB, perbaikan prospek ekonomi didorong oleh turunnya harga minyak dan mulai pulihnya rantai pasok setelah puncak konflik. Kendati demikian, risiko terhadap prospek ekonomi masih cenderung mengarah ke pelemahan.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain kemungkinan meningkatnya kembali eskalasi perang di Timur Tengah, ketidakpastian berkepanjangan di pasar energi, pengetatan kondisi keuangan global, serta perlambatan sektor properti di China yang lebih dalam dari perkiraan.
"Konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama daripada asumsi pada April, sehingga memperpanjang gangguan terhadap pasokan energi dan rantai pasok. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi dan diperkirakan akan menekan aktivitas ekonomi kawasan lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya," tulis ADB.
Selain itu, ADB juga menyoroti potensi gangguan jalur pelayaran internasional serta cuaca ekstrem, termasuk fenomena El Nio, yang dapat mengganggu produksi pertanian dan arus perdagangan sehingga memicu kenaikan harga pangan.
Di sisi lain, ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju di kawasan Asia-Pasifik menjadi 2,6%, dari sebelumnya 2,2%. Revisi tersebut didukung kuatnya permintaan global terhadap produk elektronik dan mesin yang didorong oleh gelombang investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), terutama di Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Singapura.
ADB juga mendorong pemerintah di kawasan untuk mengurangi ketergantungan pada subsidi bahan bakar fosil guna memperkuat ketahanan fiskal tanpa mengurangi insentif penghematan energi.
Menurut ADB, dukungan pemerintah sebaiknya diberikan melalui kebijakan yang bersifat sementara dan lebih tepat sasaran kepada kelompok masyarakat rentan, sehingga tetap menjaga keberlanjutan fiskal sekaligus mendorong efisiensi konsumsi energi.(Bloomberg)

Sumber : admin