Produksi Baja China Melemah, Namun Impor Bijih Besi Tetap Kuat
Tuesday, July 21, 2026       09:57 WIB
  • Produksi baja China pada semester I-2026 turun 3% secara tahunan menjadi 499,95 juta ton, sehingga total produksi tahun ini berpotensi kembali berada di bawah 1 miliar ton.
  • Permintaan domestik masih lesu, tercermin dari penurunan penjualan kendaraan dan melambatnya konsumsi baja, meski ekspor manufaktur dan sektor kendaraan listrik tetap menunjukkan ketahanan.
  • Di sisi lain, impor bijih besi melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan berkat tingginya kebutuhan stok dan turunnya harga global, meskipun prospek kenaikan harga dinilai terbatas akibat pasokan yang melimpah.

Ipotnews - Industri baja China masih menghadapi tantangan di tengah perlambatan ekonomi domestik. Meskipun produksi harian meningkat pada Juni, kinerja sepanjang semester pertama 2026 menunjukkan pelemahan yang mengindikasikan sektor tersebut belum sepenuhnya pulih.
Data menunjukkan produksi baja harian China mencapai 2,79 juta ton pada Juni, tertinggi sejak Maret dan meningkat dibandingkan 2,72 juta ton pada Mei. Namun, secara kumulatif produksi baja selama Januari-Juni 2026 hanya mencapai 499,95 juta ton, turun 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut memperbesar kemungkinan produksi baja China kembali berada di bawah 1 miliar ton sepanjang 2026. Prospek itu didasarkan pada pola musiman, di mana pabrik baja umumnya memangkas produksi pada paruh kedua tahun.
Sejumlah indikator lain juga mencerminkan masih lemahnya permintaan domestik. Penjualan kendaraan di China turun 4,1% pada semester I-2026, berbalik dari kenaikan 11,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) masih menjadi penopang industri manufaktur China. Permintaan ekspor kendaraan listrik terus meningkat seiring peralihan konsumen global dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan ramah lingkungan, yang juga didorong oleh volatilitas harga energi dan ketidakpastian pasokan akibat konflik Iran.
Ekspor produk manufaktur lainnya juga tetap bertahan. Pengiriman panel surya pada Juni masih mencatat pertumbuhan meskipun pemerintah telah menghapus insentif berupa pengembalian pajak ekspor.
Di pasar domestik, harga baja relatif stabil sepanjang setahun terakhir. Kontrak baja tulangan (rebar) acuan di Bursa Shanghai ditutup pada 3.104 yuan per ton pada Senin (21/7), berada di kisaran tengah rentang perdagangan tahun ini antara 3.051 yuan hingga 3.275 yuan per ton.
Sementara itu, persediaan baja tulangan meningkat menjadi 4,94 juta ton pada pekan yang berakhir 17 Juli, lebih tinggi dibandingkan 3,72 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan level 2024 sebesar 5,93 juta ton dan 2023 sebesar 5,49 juta ton.
Berbeda dengan baja, pasar bijih besi justru menunjukkan kinerja yang lebih kuat. Impor bijih besi China pada Juni mencapai 112,69 juta ton, tertinggi dalam enam bulan terakhir atau naik 6,4% dibandingkan Juni 2025.
Secara kumulatif, impor bijih besi sepanjang semester pertama 2026 meningkat 6,3% menjadi 628,87 juta ton. Kenaikan tersebut didorong oleh menurunnya produksi bijih besi domestik berdasarkan kandungan besi serta kebutuhan pengisian kembali persediaan.
Stok bijih besi di pelabuhan-pelabuhan China yang dipantau SteelHome turun menjadi 156,6 juta ton pada pekan yang berakhir 17 Juli dari rekor 166,9 juta ton pada pertengahan Maret. Meski demikian, jumlah tersebut masih sekitar 19,6% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Harga bijih besi sendiri cenderung melemah akibat melimpahnya pasokan dari produsen utama seperti Australia dan Brasil, serta bertambahnya produksi dari Guinea di Afrika Barat. Kontrak bijih besi di Singapore Exchange ditutup pada US$99 per ton, naik tipis dari level terendah setahun di US$97,63 pada awal Juli, namun masih jauh di bawah puncak US$111,91 per ton yang tercatat pada Mei.
Dengan tingkat persediaan yang masih tinggi dan prospek bertambahnya pasokan dari proyek Simandou di Guinea yang ditargetkan memproduksi sekitar 120 juta ton per tahun, ruang kenaikan harga maupun impor bijih besi diperkirakan terbatas.
Meski demikian, prospek industri baja China masih berpeluang membaik apabila pemerintah di Beijing meluncurkan stimulus ekonomi yang lebih agresif menyusul pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang hanya mencapai 4,3% secara tahunan, lebih rendah dari ekspektasi pasar.(Reuters)

Sumber : Admin