Petunjuk Pengelolaan Utang yang Wajib Dipahami Setiap Orang
Thursday, July 10, 2025       15:09 WIB

Sekarang kita akan membahas tentang pengelolaan utang (yang wajib diketahui oleh setiap orang). Sudah sangat sering kita mendengar kisah-kisah sedih orang yang hidupnya terlilit utang. Pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah: apakah semua utang itu buruk? Kalau utang itu buruk, mengapa berutang dilakukan oleh hampir semua orang? Bukankah negara kita juga berutang sangat besar (utang luar negeri Indonesia jumlahnya USD 431,5 billion atau IDR 7.033,45 triliun per April 2025)?
Hal lain yang juga sering kita dengar adalah tentang utang yang buruk ( bad debt ) dan utang yang baik ( good debt ). Utang yang buruk adalah utang yang berbunga tinggi, atas aset-aset yang nilainya menyusut (atau bahkan utang atas 'aset tak berwujud', misalnya utang untuk konsumsi atau berutang untuk jalan-jalan ke luar negeri).
Termasuk di dalam utang buruk ini adalah utang KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) karena utang ini berbunga relatif tinggi dan kendaraan yang dibeli nilainya menyusut. Terutama jika kendaraan yang diperoleh dari berutang itu adalah kendaraan kedua dan seterusnya, yang tidak dipergunakan untuk transportasi, misal; pergi dan pulang kantor, yang menghasilkan pendapatan.
Sebaliknya, utang yang baik adalah utang yang berbunga wajar (tidak terlalu mahal) yang dipergunakan untuk meningkatkan harta bersih ( net worth ) seseorang, atau meningkatkan kemampuan usaha (bisnis) yang dikelola, atau meningkatkan kemampuan seseorang untuk mendapatkan gaji yang lebih baik di kemudian hari.
Termasuk dalam utang baik ini adalah utang KPR (Kredit Perumahan Rakyat), utang bisnis, atau utang untuk biaya pendidikan. Utang KPR, terutama untuk pembelian rumah pertama, dianggap sebagai utang yang baik karena dalam setiap angsuran KPR ada komponen biaya pokok yang dibayarkan dan karenanya dengan pembayaran utang KPR, maka nilai ekuitas ( net worth ) debitur menjadi bertambah.
Hal yang sama juga berlaku untuk utang bisnis yang diperoleh dari lembaga perbankan resmi yang mengenakan bunga wajar, karena utang bisnis ini akan meningkatkan kemampuan usaha yang dikelola.
Khusus untuk utang biaya pendidikan (yang diambil dengan harapan bahwa setelah lulus pendidikan, ia akan memperoleh gaji yang lebih tinggi), di Indonesia tidak tersedia secara terbuka. Utang biaya pendidikan pada umumnya (dugaan saya pribadi) disamarkan sebagai utang KTA (Kredit Tanpa Agunan).
Di AS, utang untuk biaya pendidikan ini dikenal sebagai  Student Loan , yang diambil oleh seorang calon mahasiswa ketika ia diterima di Universitas dan akan dibayar dari gajinya pada waktu ia telah lulus kuliah dan bekerja. Utang  student loan  ini lalu diteruskan oleh Universitas kepada satu Lembaga Pemerintah yang bertugas membeli  student loan  tersebut dengan menerbitkan SLABS ( Student Loan Asset Backed Securities ) di pasar modal.
I. Kredit: Hal yang terlebih dahulu ada sebelum muncul utang
Berbicara tentang utang, dengan hanya berdasarkan pembagian jenis-jenis utang atas utang yang baik dan utang yang buruk, belum menceritakan seluruh persoalan. Sebelum Anda berutang, Anda harus telah memiliki kredit.
Kredit merujuk pada kapasitas kita untuk meminjam uang, yaitu hal yang menyebabkan pemberi utang bersedia meminjamkan uangnya berdasarkan bermacam faktor, misalnya riwayat kredit Anda, pendapatan Anda, besarnya aset yang Anda miliki, utang-utang lain yang telah ada, dan sebagainya. Utang yang ada, sekali pun Anda menganggapnya sebagai utang yang baik, jika utang itu terlalu banyak, dapat berubah menjadi hal yang buruk untuk diri Anda.
Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini disebut hukum  diminishing marginal utilities -  manfaat tambahan yang didapat dari berutang akan menjadi semakin kecil, sampai satu titik di mana tambahan satu unit utang justru akan berdampak buruk (bukan baik).
II. Pandangan konvensional tentang utang: Utang Baik vs Utang Buruk
Kita telah membahas tentang kredit - hal yang ada sebelum munculnya utang. Sekarang kita akan membahas tentang pandangan (konvensional) tentang utang. Orang-orang sering membagi utang atas dua bagian yang saling bertolak belakang, yaitu utang yang baik ( good debt ) dan utang yang buruk ( bad debt ). Sesungguhnya, utang adalah utang; pandangan bahwa utang bisa berupa utang yang baik atau utang yang buruk hanyalah masalah persepsi orang semata.
Hal yang lebih penting mengenai utang sebenarnya adalah  bagaimana kita mengelola utang  itu. Dengan kata lain, hal yang lebih penting di sini adalah manajemen utang itu. Karena utang yang baik pun dapat berubah menjadi buruk jika kita, misalnya, mengambil utang yang baik itu terlalu banyak sehingga mengganggu kemampuan kita untuk membayar utang tersebut.
Demikian pula, suatu utang yang sebelumnya digolongkan sebagai utang yang buruk, dapat berubah menjadi utang yang baik melalui pengelolaan utang yang baik. Misalnya, berutang melalui kartu kredit, secara konvensional digolongkan sebagai cara yang buruk untuk berutang karena bunga kartu kredit yang sangat tinggi. Tetapi, jika kita selalu membayar semua tagihan kartu kredit yang datang dan tidak menyisakan sama sekali saldo terutang, maka kita tidak perlu membayar bunga sama sekali. Di sini, kita hanya memanfaatkan kartu kredit untuk memudahkan pembayaran tanpa harus membawa tunai dalam jumlah besar.
 Apakah yang dimaksud dengan Utang Baik?  
Apakah utang yang baik bisa berubah menjadi utang yang buruk?
 - Studi Kasus (1) Utang KPR:  
Berutang (ke bank) untuk membeli rumah (rumah tapak) dalam pandangan konvensional digolongkan sebagai utang yang baik ( good debt ), karena beberapa hal ini.  Pertama , harga rumah tapak secara historis cenderung meningkat setelah bebererapa waktu. Penyebabnya jelas, walau pun harga bangunan bisa terdepresiasi, namun harga tanah akan naik, karena tanah merupakan sumberdaya yang terbatas jumlahnya.
 Kedua , dari sejumlah angsuran yang dibayar untuk pembelian rumah itu secara kredit, ada komponen pelunasan utang pokok yang akan menambah besarnya kepemilikan ( equity ) dari debitur.  Ketiga , membeli rumah berarti Anda tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk menyewa rumah atau apartemen. Uang sewa ini dapat dipergunakan untuk mengurangi biaya cicilan utang KPR yang harus Anda bayarkan ke bank.
Pada sisi yang lain, membeli rumah kedua, rumah ketiga, dan seterusnya dengan cara berutang melalui KPR dapat membuat kemampuan kita untuk membayar cicilan berkurang dan kita menghadapi resiko meningkatnya suku bunga (kredit KPR jangka panjang di Indonesia umumnya berbunga mengambang, bukan berbunga tetap). Di sini terlihat bahwa keputusan untuk berutang KPR, yang biasanya dipandang sebagai utang yang baik ( good debt ) dapat berubah menjadi keputusan yang buruk karena manajemen utang yang salah.
 - Studi Kasus (2) Utang Biaya Pendidikan:  
Utang biaya Pendidikan, normalnya dianggap sebagai utang yang baik. Pendidikan tinggi (kuliah S-1, atau S-2 dan S-3) dipandang sebagai investasi yang baik, karena dengan pendidikan yang lebih tinggi, maka pendapatan di kemudian hari juga (diharapkan) akan meningkat (dan dapat memperkaya hidup dengan cara selain uang).
Akan tetapi, membiayai pendidikan dengan cara berutang dapat berakibat buruk bagi Anda (atau orangtua Anda) jika pembayaran kembali utang tersebut menjadi beban bagi Anda (atau orangtua Anda), karena besarnya peningkatan gaji yang diterima ternyata tidak sesuai dengan beban pembayaran utang tersebut.
 Apakah yang dimaksud utang yang buruk?  
Apakah utang yang buruk bisa berubah menjadi utang yang baik? Tidak semua utang yang dianggap buruk itu benar-benar buruk.
 - Studi Kasus (1) Utang Kartu Kredit (KK): 
Berutang (berbelanja) menggunakan kartu kredit, dan tidak membayar sampai lunas pada setiap tanggal tagihan, akan menyebabkan timbulnya beban bunga yang sangat besar. Bunga ini tidak dihitung dari sisa saldo merah yang tersisa pada bulan ini (setelah pembayaran KK dilakukan), tetapi dihitung dari sisa saldo merah yang belum dibayar pada bulan lalu. Jumlah saldo merah bulan lalu itu adalah jumlah utang sesungguhnya yang dinikmati oleh debitur.
Tetapi, untuk individu-individu lain yang dapat mengelola utangnya dengan baik (membayar semua tagihan Kartu Kredit tanpa ada saldo merah yang dibawa ke bulan berikutnya), maka Kartu Kredit (KK) dapat dipakai untuk memonitor arus kas, dan menerima berbagai manfaat lain dari penggunaan kartu kredit (misalnya pembebasan iuran tahunan, atau menikmati pembelian dengan cicilan berbunga nol persen).
-  Studi Kasus (2) Utang Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) 
KKB adalah kredit yang diambil untuk membeli kendaraan bermotor. Saat ini diperkirakan bahwa 70% kendaraan baru dibeli dengan cara kredit. Jika kendaraan bermotor (kendaraan pertama), yang Anda beli dengan cara berutang, dipergunakan sebagai alat transportasi untuk pergi dan pulang kantor, maka utang KKB Anda merupakan utang yang baik karena meningkatkan kemampuan Anda untuk mencari penghasilan.
Tetapi, jika KKB Anda dipakai untuk membeli mobil kedua (atau mobil ketiga dan seterusnya), maka KKB itu merupakan utang yang buruk karena tidak meningkatkan kemampuan Anda mencari penghasilan.
Persoalan lain yang membuat utang KKB sering dipandang sebagai utang yang buruk adalah kenyataan bahwa utang KKB dipakai untuk membiayai aset yang akan susut nilainya ( depreciating assets ) dengan berjalannya waktu. Aset mobil nilainya akan berkurang menjadi separuh nilai awalnya hanya dalam waktu 3 sampai 5 tahun saja. Bahkan untuk mobil baru, menit pertama mobil itu keluar dari ruang pajang ( show-room ), harganya pasti turun 15% sd 20%.
Untuk setiap utang yang tidak dapat Anda hindari, maka penting sekali untuk hanya berutang sejumlah yang Anda perlukan, dan dalam waktu tersingkat (paling pendek) sesuai kemampuan Anda. Setiap kali Anda membeli rumah atau kendaraan dengan cara berutang, yang lebih besar daripada jumlah yang Anda sanggup bayar kembali, maka utang yang baik pun ( good debt ) akan berubah menjadi utang yang buruk ( bad debt ).
Keputusan Anda untuk berutang, tidak kalah pentingnya dengan jenis utang yang menjadi beban Anda. Dengan lain perkataan, dengan berutang secara cerdas, Anda dapat mencapai sasaran-sasaran keuangan Anda, dan Anda dapat pula membuat keputusan strategis untuk memperbaiki arus kas dan nilai harta bersih Anda ( net-worth ).
III. Bagaimana cara mengelola utang
Mengetahui bagaimana cara mengelola utang artinya adalah mengetahui bagaimana memanfaatkan kredit dengan cara yang bijaksana.
 (1) Tahu batas-batas dari pinjaman yang boleh diambil 
Pikirkan kembali kapasitas keuangan diri Anda untuk mengembalikan utang yang akan Anda ambil. Jangan mengambil utang yang akan menimbulkan kewajiban yang lebih besar dari pada yang dapat Anda tanggung. Jangan hanya menghitung  kapasitas keuangan  Anda yang ada saat ini untuk berutang, tetapi juga  toleransi Anda terhadap resiko dari utang itu .
Misalnya, Anda merasa bahwa jumlah harta Anda lebih banyak daripada jumlah utang Anda, yang artinya Anda mempunyai kapasitas keuangan yang cukup untuk mengambil utang tersebut. Tetapi, Anda juga harus memperhitungkan toleransi Anda terhadap resiko yang mungkin terjadi di kemudian hari.
Misalnya, untuk kredit KPR yang berjangka panjang, tetapi tidak tersedia pinjaman KPR berbunga tetap ( fixed rate ), maka toleransi Anda terhadap resiko naiknya suku bunga pinjaman (inflasi) belum diketahui sampai Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini secara memuaskan: (a) sampai berapa persenkah suku bunga kredit bisa naik hingga Anda tidak akan sanggup lagi membayar KPR Anda? (2) sampai berapa lama bunga KPR dapat naik tinggi tanpa mengganggu pembayaran angsuran KPR Anda? (3) apakah ada risiko lain dari KPR ini yang belum diperhitungkan tetapi mungkin terjadi (misalnya resiko terjadi PHK pada diri Anda)?
Contoh lain adalah pinjaman KK (Kartu Kredit) atau KTA (Kredit Tanpa Agunan) yang diberikan kepada Anda dengan limit cukup besar karena kapasitas keuangan Anda dianggap cukup untuk berutang sejumlah limit tersebut. Tetapi, hanya karena Bank menganggap bahwa Anda mempunyai kapasitas keuangan yang cukup, tidak berarti bahwa Anda boleh menggunakan semua kredit yang diberikan kepada Anda bukan? Pergunakanlah kredit yang diberikan secara bijaksana. Kalau Anda terpaksa harus berutang, selalu harus berusaha untuk mengembalikan utang tersebut dalam waktu yang sesingkat mungkin.
 Pertanyakan kembali apakah meminjam uang akan membantumu mencapai sasaran?  
Orang sering menganggap bahwa memperoleh pinjaman yang besar dari lembaga keuangan yang bonafid merupakan pertanda yang baik, bahwa dirinya dipercaya oleh lembaga keuangan tersebut untuk meminjam uang. Pada tingkat perusahaan (korporat) keberhasilan memperoleh pinjaman bahkan sering diiklankan di surat-surat kabar supaya diketahui oleh khalayak ramai.
Untuk urusan perencanaan keuangan pribadi ( personal finance ), hal yang lebih penting untuk kita evaluasi adalah:  apakah meminjam uang akan membantu untuk mencapai sasaran keuangan yang dituju?  Ataukah meminjam uang justru hanya akan menghambat untuk mencapai sasaran keuangan yang ingin Anda capai?
Anda harus berpikir ulang untuk meminjam uang, apabila tidak dapat mengatakan bahwa meminjam uang akan menolong Anda untuk (1) mengelola utang secara strategis (misalnya, utang KK yang selalu dibayar lunas karena hanya dipakai untuk pengelolaan arus kas secara efisien), atau (2) menolong untuk hidup lebih nyaman dan semakin dekat pada sasaran-sasaran keuangan (misalnya, utang KKB yang diambil atas kendaraan pertama, sehingga Anda tidak harus bangun pagi sekali untuk mengejar jadual kereta api ke kantor), atau (3)menolong untuk membuat harta kekayaan bersih ( net-worth ) bertambah, (misalnya, utang KPR atas rumah pertama sehingga Anda lebih siap untuk meraih  financial freedom -  kebebasan keuangan).
Pertimbangkan dua sisi dari neraca untuk memahami bagaimana kewajiban-kewajiban keuangan Anda saat ini, serta kewajiban keuangan yang baru, akan menolong (atau justru akan menghambat) rencana keuangan Anda. Terakhir, jangan lupa merencanakan untuk hal-hal yang tidak terduga (misalnya PHK, kematian, atau kecelakaan  major  yang mungkin terjadi).
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS