- PT Kalbe Farma Tbk () mencatat penjualan Kuartal I-2026 naik 10,1% menjadi Rp9,68 triliun, tetapi laba bersih turun 4,4% menjadi Rp1,03 triliun
- Penurunan laba dipicu lonjakan beban pokok penjualan 15,5% serta kenaikan berbagai biaya operasional seperti beban penjualan, administrasi, R&D dan beban operasi lainnya
- Dari sisi neraca, aset dan ekuitas tetap tumbuh di atas 4%, sementara kas naik tipis menjadi Rp4,39 triliun meski arus kas operasi turun 23,3% dibanding tahun sebelumnya
Ipotnews - Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Kalbe Farma Tbk () membukukan laba bersih Rp1,03 triliun atau menurun 4,4 persen (year-on-year), padahal penjualan (neto) di Kuartal I-2026 tercatat bertumbuh double digit.
Berdasarkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten farmasi yang terafiliasi dengan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk () melalui PT Griyainsani Cakrasadaya ini mencatatkan penjualan Rp9,68 triliun atau bertumbuh 10,1 persen dibandingkan Kuartal I-2025 sebesar Rp8,79 triliun.
Namun di Kuartal I-2026, beban pokok penjualan tercatat membengkak 15,5 persen (y-o-y) menjadi Rp5,97 triliun, sehingga laba bruto perseroan menjadi Rp3,71 triliun atau hanya meningkat 2,4 persen dibandingkan Kuartal I-2025 senilai Rp3,62 triliun.
Pada tiga bulan pertama di 2025, mencatatkan beban penjualan Rp1,9 triliun atau meningkat 7,8 persen (y-o-y), sedangkan beban umum dan administrasi mengalami kenaikan 3,3 persen (y-o-y) menjadi Rp385,59 miliar. Selain itu, beban R&D di 1Q26 meningkat 5,9 persen (y-o-y) menjadi Rp113,14 miliar dan beban operasi lainnya membengkak 100 (y-o-y) menjadi Rp29,18 miliar.
Pada periode Januri-Maret 2026, emiten milik PT Ladang Ira Panen dan PT Gira Sole Prima ini membukukan laba sebelum beban pajak penghasilan senilai Rp1,35 triliun atau merosot 5,4 persen dibandingkan dengan laba sebelum pajak di periode Januari-Maret 2025 sebesar Rp1,43 triliun.
Dengan adanya beban pajak penghasilan di 1Q26 sebesar Rp299,2 miliar, maka laba periode berjalan yang dicatatkan menjadi Rp1,05 triliun atau terkoreksi 5,2 persen (y-o-y). Adapun besaran laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk di Kuartal I-2026 senilai Rp1,03 triliun alias menurun 4,4 persen dibandingkan laba bersih Kuartal I-2025 sebesar Rp1,08 triliun.
Dari sisi neraca, jumlah ekuitas per 31 Maret 2026 tercatat Rp25,73 triliun atau bertumbuh 4,1 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp24,73 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas sebesar Rp6,25 triliun alias membengkak 4,7 persen (year-to-date), yang didominasi kewajiban jangka pendek Rp5,6 triliun.
Per 31 Maret 2026, total aset emiten yang sahamnya dimiliki PT Santa Seha Sanadi ini mencapai Rp31,99 triliun atau meningkat 4,2 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas sebesar Rp4,39 triliun atau mengalami kenaikan 1,4 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 senilai Rp4,33 triliun.
Jika mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, kenaikan kas tersebut terutama dipengaruhi penurunan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar 85,8 persen menjadi Rp60,16 miliar dari Rp423,13 miliar pada periode Januari-Maret 2026.
Pada sisi lain, selama tiga bulan pertama tahun ini hanya bisa meraup kas bersih yang didapat dari aktivitas operasi senilai Rp264,22 miliar alias melorot 23,3 persen (y-o-y). Perseroan menggunakan kas bersih untuk aktivitas investasi di Kuartal 1-2026 sebesar Rp146,55 miliar atau meningkat 23,5 persen (y-o-y).(Budi/AI)
Sumber : admin