- ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia menjadi 4,9% pada 2026, tetapi memperingatkan konflik Timur Tengah masih membebani rantai pasok dan biaya produksi.
- Inflasi diperkirakan turun ke 4,3% pada 2026 dan 3,4% pada 2027, meski risiko dari perang, gangguan pelayaran, dan El Nio tetap membayangi.
- Permintaan semikonduktor yang didorong AI menopang ekonomi Asia, namun ADB menilai manfaat AI tidak akan dirasakan merata di seluruh kawasan
Ipotnews - Pertumbuhan ekonomi di Asia diperkirakan tetap moderat meskipun prospeknya sedikit membai. Gangguan yang masih berlangsung akibat konflik di Timur Tengah terus membebani rantai pasok dan meningkatkan biaya produksi, menurut Asian Development Bank (ADB).
Bank yang berbasis di Manila tersebut memperkirakan ekonomi kawasan akan tumbuh 4,9% pada 2026, naik dari estimasi 4,7% dalam pembaruan khusus yang diterbitkan setelah konflik di Timur Tengah mengganggu pasar energi global. Meski demikian, proyeksi tersebut masih lebih rendah dibandingkan perkiraan 5,1% dalam laporan rutin Asian Development Outlook edisi April.
Inflasi diproyeksikan mencapai 4,3% pada 2026, turun dari proyeksi 5,2% dalam pembaruan ADB pada April seiring harga minyak dan kondisi pasokan yang berangsur stabil. Namun demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi 3,6% dalam laporan rutin April.
Inflasi diperkirakan kembali melandai menjadi 3,4% pada 2027, meskipun ADB memperingatkan bahwa dampak konflik dapat meluas melampaui pasar energi dan secara bertahap merambat ke perekonomian secara keseluruhan.
Menurut Kepala Ekonom ADB, Albert Park, permintaan yang kuat terhadap semikonduktor yang didorong oleh investasi kecerdasan buatan (AI) telah membantu meredam dampak kenaikan harga energi, terutama di negara-negara maju Asia seperti Taiwan, China, Korea Selatan, dan Hongkong.
Membaiknya prospek tersebut mencerminkan penurunan harga minyak dan meredanya gangguan rantai pasok sejak puncak konflik. Meski demikian, ADB menilai risiko masih cenderung mengarah ke sisi negatif, termasuk kemungkinan eskalasi kembali perang, ketidakpastian yang berkepanjangan di pasar energi, pengetatan kondisi keuangan, serta pelemahan sektor properti di China yang lebih dalam.
"Konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama daripada yang diasumsikan pada April, sehingga menyebabkan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi dan rantai pasok yang meningkatkan biaya produksi serta akan menekan aktivitas ekonomi kawasan lebih besar daripada yang sebelumnya diperkirakan," ungkap ADB seperti dikutip Bloomberg, Kamsi (9/7).
ADB juga menyoroti risiko gangguan terhadap jalur pelayaran serta cuaca buruk, termasuk fenomena El Nio, yang dapat mendorong kenaikan harga pangan karena memengaruhi produksi pertanian dan arus perdagangan.
ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju di Asia dan Pasifik menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,2% pada April. Revisi tersebut didorong oleh kuatnya permintaan eksternal terhadap produk elektronik dan mesin yang dipacu oleh pesatnya perkembangan AI di Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Singapura.
"Kami secara keseluruhan optimistis terhadap perkembangan AI," kata Park. "Pada akhirnya kita akan mulai melihat pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi di negara-negara yang mulai mengadopsi AI secara lebih luas," imbuhnya kepada Bloomberg.
Namun, ia mengingatkan bahwa manfaat AI kemungkinan tidak akan dirasakan secara merata di seluruh Asia, karena negara-negara yang belum memiliki kapabilitas digital yang memadai berisiko semakin tertinggal.
Sementara itu, ADB menyarankan pemerintah untuk tidak memberikan subsidi bahan bakar fosil guna memperkuat ketahanan fiskal sekaligus mempertahankan insentif bagi penghematan energi.
"Pemerintah sebaiknya mengandalkan langkah-langkah yang bersifat sementara dan tepat sasaran untuk melindungi rumah tangga yang rentan, tanpa mengorbankan keberlanjutan fiskal maupun mengurangi insentif untuk melakukan penghematan energi," tambah ADB. (Bloomberg/AI)
Sumber : admin