Persepsi Keahlian Finansial yang Dimiliki  vs Kenyataan Kebiasaan Finansial yang Buruk
Thursday, March 26, 2026       15:53 WIB

Banyak dari antara kita yang merasa sudah cukup mengerti masalah keuangan, tetapi fakta yang ada seringkali mengatakan sebaliknya. Kita mungkin dulu pernah kuliah di fakultas kedokteran dan sekarang menjadi dokter spesialis yang terkenal dan dapat menangani bermacam kasus penyakit yang sulit, atau menjalankan prosedur operasi yang rumit. Atau, kita mungkin dulu kuliah di fakultas teknik sipil dan dapat menghitung struktur bangunan tinggi yang sangat rumit.
Seringkali, kita lalu berpikir bahwa kemampuan kita di bidang pekerjaan yang kita tekuni itu, kedokteran atau teknik, akan otomatis mengalir juga ke dalam kemampuan kita mengelola uang. Tetapi, kenyataannya, banyak dari dokter atau insinyur yang hebat itu ternyata tidak mengerti banyak tentang masalah uang (contoh yang sederhana, misalnya, bagaimana membaca laporan keuangan).
Mungkin Anda berpikir bahwa kuliah kedokteran atau teknik memang tidak pernah diajarkan tentang masalah keuangan. Sekarang kita tinjau lulusan fakultas ekonomi, yang seharusnya mengerti benar masalah akuntansi dasar seperti neraca, laba-rugi, dan arus kas. Tetapi, apakah sarjana lulusan fakultas ekonomi otomatis fasih berbicara masalah uang atau keuangan?
Seringkali terdapat kesenjangan yang besar antara kemampuan keuangan ( financial savviness ) yang dimiliki seseorang dengan kenyataan keuangan ( financial reality ) yang terjadi. Orang-orang yang cerdas masih sering membuat kesalahan keuangan, terutama ketika mereka percaya bahwa kecerdasan mereka di bidang yang ditekuni akan otomatis terbawa juga ke dalam kemampuan mengambil keputusan keuangan.
Sesungguhnya ada beberapa sinyal peringatan ketika Anda telah terlalu tinggi menaksir ( over-estimate ) kemampuan keuangan. Jika hal ini terjadi, maka Anda harus berusaha untuk terus meningkatkan edukasi keuangan agar dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih baik.
Studi  US Financial Industry Regulatory Authority  (FINRA) pada tahun 2025 yang bertajuk  National Financial Capability Study , ditemukan bahwa 64% masyarakat Amerika pikir bahwa mereka memiliki pengetahuan keuangan ( financial savviness ) yang tinggi.
Tetapi, apakah masyarakat Amerika benar-benar memiliki pemahaman yang baik tentang uang?
Kesenjangan dalam Keyakinan: ketika persepsi bentrok dengan kenyataan
Bertolak-belakang dengan keyakinan masyarakat Amerika sebagaimana yang ditemukan dalam studi FINRA di atas, masyarakat Amerika ternyata, secara keseluruhan, terlibat dalam berbagai tindakan (perilaku) keuangan yang semakin beresiko ( risky financial bahaviour ).
Sebagai contoh, studi itu menemukan bahwa, sejak tahun 2021, jumlah orang yang mengaku selalu membayar tagihan kartu kreditnya secara penuh setiap bulan ternyata menurun hingga 6% (" Financial Capability in the United States" Page 22 ).
Sebagai tambahan, masyarakat Amerika mengaku selalu membawa ( carry over ) saldo Kartu Kreditnya ke bulan berikutnya, dan hanya membayar jumlah minimum yang diwajibkan, meningkat dibandingkan pada tahun 2021. Hal ini tentu saja merupakan kebiasaan keuangan yang buruk, karena kita semua tahu bahwa bunga atas saldo debet kartu kredit sangatlah tinggi.
Mengapa orang cerdas melakukan kesalahan keuangan yang mahal?
Hal ini mungkin dapat dijelaskan dari persepsi seseorang atas kemampuan diri mereka. Seseorang yang memiliki persepsi-diri yang tinggi, akan berpikir bahwa tingkat inteligensi yang dimilikinya akan secara otomatis mengalir juga ke dalam pengambilan keputusan atas masalah-masalah keuangan. Tetapi, hal ini mungkin tidak selalu demikian.
Ilmu Keuangan ( finance ) adalah keahlian yang harus dipelajari dan dipraktekkan ( studied and learned ). Banyak orang cerdas yang memiliki dasar pengetahuan yang luas, tetapi mereka belum tentu teredukasi dengan baik tentang topik mengenai uang.
Memiliki basis pengetahuan yang luas saja, dapat membuat orang yang cerdas merasa memiliki  sense of security  palsu, sehingga membuat mereka cenderung mengambil resiko yang terlalu besar.
Hal ini banyak dialami oleh orang-orang cerdas ( intelligent ). Banyak dari dokter atau insinyur yang sangat cerdas di bidangnya, berpikir bahwa karena mereka sukses sebagai dokter atau insinyur, maka mereka juga akan sukses juga dalam mengatur keuangannya.
Sinyal Peringatan bahwa Anda telah  Over-Estimate  pada Keahlian Keuanganmu
Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita telah menganggap bahwa kita memiliki kemampuan keuangan lebih baik dari kemampuan kita yang sesungguhnya, atau  over-estimate  pada kemampuan keuangan kita?
Tanda-tanda peringatan ( warning signs ) bahwa kita telah  over-estimate  pada kemampuan keuangan kita termasuk (1) meningkatnya utang secara konsisten, dan (2) menurunnya dana cadangan secara konsisten.
Utang yang terus bertambah secara konsisten menunjukkan bahwa ada masalah pada manajemen keuangan kita. Meningkatnya utang seringkali diikuti pula dengan berkurangnya Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang dimiliki.
Bagaimana menjembatani kesenjangan antara Keyakinan vs Kemampuan
Bagaimana caranya untuk membawa persepsi diri kita supaya menjadi selaras dengan kenyataan yang ada ? Pertama-tama, kita harus mengedukasi diri kita untuk berbagai topik menyangkut keuangan. Pastikan bahwa kita tidak buta sama sekali mengenai topik keuangan yang sedang ramai dibicarakan. Kita tidak harus serba tahu untuk semua topik keuangan, tetapi kita harus memiliki dasar pengetahuan keuangan yang baik.
Misalnya, ketika berbicara tentang topik asuransi jiwa, kita tidak harus tahu cara menghitung premi asuransi jiwa sebagaimana seorang ahli aktuaria melakukannya, tetapi kita paham bahwa (1) semua manusia pasti akan mati dan karena itu asuransi jiwa sangat penting untuk keluarga yang ditinggalkan, (2) asuransi jiwa pada dasarnya adalah mempertanggungkan jiwa seseorang, sehingga berbagai manfaat tambahan pada produk asuransi jiwa yang ditawarkan kepada kita (misalnya bermacam manfaat investasi) bukanlah fokus utama kita dalam mengevaluasi produk asuransi jiwa yang ditawarkan. Kita membeli polis asuransi jiwa ke Perusahaan Asuransi Jiwa, tetapi kita membeli produk investasi kepada manajer investasi, yang merupakan ahli untuk bidang investasi.
Contoh lain adalah ketika kita ditawarkan produk investasi yang rumit, misalnya produk derivatif (turunan). Jangan malu atau ragu untuk mengatakan bahwa Anda belum paham atas penjelasan agen penjualnya. Saya sendiri pernah ditawari untuk membeli produk 'robot trading' yang sesungguhnya adalah produk derivatif opsi ( option ).
Saya berani mengatakan bahwa saya tidak mengerti cara kerja produk yang ditawarkan itu, dan bagaimana saya bisa mendapatkan keuntungan dari investasi pada 'robot trading'. Ternyata 'robot trading' hanyalah produk  investasi tipu-tipu  yang menyasar orang berduit yang sudah merasa nyaman dengan posisinya sekarang dan tidak banyak bertanya tentang mekanisme investasi yang terlibat.
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS