- Rupiah melemah tipis 0,02% ke Rp16.872 per dolar AS, tertekan penguatan dolar dan eskalasi perang Iran-AS-Israel yang memicu sentimen risk off serta lonjakan harga minyak.
- Pasar menanti pidato pejabat The Fed dan data tenaga kerja AS yang dapat menopang dolar di tengah ekspektasi suku bunga masih tinggi.
- Neraca dagang Januari 2026 surplus USD0,95 miliar (69 bulan beruntun), meski impor tumbuh lebih tinggi dari ekspor.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa sore (3/3), seiring meningkatnya eskalasi perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang kian meluas dan memicu sentimen risk off di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg pada sore ini pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 4 poin atau 0,02% ke level Rp16.872 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Senin sore (2/3) di Rp16.868 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan indeks dolar AS pada hari ini turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia menjelaskan, perang udara AS dan Israel terhadap Iran yang semakin meluas menjadi faktor utama yang membebani pasar keuangan global.
"Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Kapal tanker dan kapal kontainer juga menghindari jalur air tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal tersebut, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global telah melonjak," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global semakin meningkat setelah muncul laporan terkait penutupan Selat Hormuz.
"Kekhawatiran tentang transit di jalur air tersebut meningkat setelah media Iran melaporkan pada hari Senin bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya. Sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz," jelas Ibrahim.
Menurutnya, pernyataan Perdana Menteri Israel turut memperpanjang ketidakpastian pasar. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Senin bahwa perang AS dan Israel melawan Iran mungkin membutuhkan "beberapa waktu" tetapi tidak akan memakan waktu bertahun-tahun. Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang sementara pasar fokus pada dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Dari sisi eksternal lainnya, pelaku pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS.
"Hari ini pasar akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed dengan Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dijadwalkan untuk berbicara. Pernyataan yang cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat dolar AS," tambah Ibrahimm
Selain itu, fokus investor juga tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini.
Sementara itu fokus pasar minggu ini adalah data pasar tenaga kerja AS minggu ini, termasuk Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed. Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi, mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kinerja neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar USD0,95 miliar dan mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus Januari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD3,22 miliar, terutama dari lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Di sisi lain, neraca komoditas migas masih mencatat defisit USD2,27 miliar yang terutama berasal dari minyak mentah, hasil minyak dan gas.
Nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar USD22,16 miliar atau naik 3,39% dibandingkan Januari 2025. Ekspor migas tercatat USD0,89 miliar atau turun 15,62%, sementara ekspor nonmigas naik 4,38% menjadi US$21,26 miliar.
Adapun nilai impor mencapai USD21,20 miliar atau meningkat 18,21% secara tahunan. Impor migas tercatat USD3,17 miliar atau naik 27,52%, sedangkan impor nonmigas sebesar USD18,04 miliar atau tumbuh 16,71% secara tahunan.(Adhitya/AI)
Sumber : admin