- Brent naik 1% ke USD95,63 dan WTI 0,9% ke USD91,01 per barel.
- Serangan AS-Iran meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
- Persediaan minyak mentah AS turun 4,5 juta barel, jauh di atas ekspektasi.
Ipotnews - Harga minyak mentah Brent melonjak 1% pada perdagangan Rabu dalam sesi yang bergejolak, setelah serangan militer terbaru antara Amerika dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Perang AS-Iran kini memasuki bulan ketujuh. Serangkaian serangan terbaru menjadi pertukaran tembakan terbesar antara Teheran dan Washington sejak Juli. Pasukan Amerika menggempur wilayah pesisir selatan Iran, sementara Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di sejumlah wilayah.
Minyak mentah berjangka berjangka Brent, patokan internasional, ditutup menguat 98 sen atau 1% menjadi USD95,63 per barel, demikian laporan Reuters, di Houston, Rabu (2/9) atau Kamis (3/9) pagi WIB.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), naik 79 sen atau 0,9% menjadi USD91,01 per barel.
Sepanjang perdagangan, Brent dan WTI bergerak fluktuatif, masing-masing sempat melesat hingga USD2 per barel sebelum berbalik turun sekitar USD1. Level puncak kedua acuan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 24 Juli.
"Serangan terbaru menandai eskalasi signifikan setelah sekitar satu bulan relatif tenang, dengan Amerika menargetkan radar dan kemampuan Iran memasang ranjau, sementara Iran membalas dengan menyerang posisi AS di seluruh kawasan," tulis Mark Schaefer, Direktur Liquidity Energy, dalam catatan riset.
Menurut Schaefer, perhatian utama pasar minyak kini tertuju pada apakah pertempuran kembali meningkat dan menyebabkan memburuknya arus fisik minyak melalui kawasan tersebut.
Perang bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap target-target di Iran pada akhir Februari. Sejak saat itu, Iran secara efektif menghentikan sebagian besar lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum konflik membawa sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Negara-negara di seluruh dunia berupaya membatasi lonjakan harga dengan mencari sumber pasokan alternatif dan menggunakan cadangan minyak mereka. Namun, persediaan tersebut juga terus menyusut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran ( IRGC ) mengatakan serangan Amerika akan semakin membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Data awal perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz, Rabu, jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal. Garda Revolusi Iran juga mengatakan dua kapal tanker minyak terkena ranjau laut dan mengalami kerusakan ketika mencoba melewati selat tersebut.
Teheran turut menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan dan dapat dikenai denda, penyitaan, atau penahanan apabila mencoba berlayar melalui Selat Hormuz, menurut situs pemerintah Iran.
Namun, Menteri Energi AS Chris Wright, Selasa, mengatakan sekitar 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin. Dia menyebut volume tersebut sebagai yang terbesar yang melintasi jalur itu sejak perang Iran dimulai.
Di sisi lain, Irak meningkatkan ekspor minyak sepanjang Agustus dan pengiriman diperkirakan kembali naik pada September. Margin keuntungan yang besar serta persetujuan Iran bagi kapal tanker Irak untuk melewati Selat Hormuz mendorong pembeli meningkatkan permintaan, menurut sumber industri dan data pelayaran.
"Meski peningkatan konflik akan memperlambat transit melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek, pasar menyerap fakta bahwa pasokan minyak alternatif tetap dapat mencapai pasar pada akhirnya," kata Dennis Kissler, Vice President BOK Financial.
Sementara itu, Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya, atau OPEC +, kemungkinan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober dalam pertemuan Minggu. Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kelompok produsen minyak itu sedang menyelesaikan pembatalan satu lapisan pemangkasan produksi pada bulan ini dan mulai mengalihkan perhatian pada negosiasi kuota produksi 2027.
Gangguan pasokan juga terjadi di kawasan lain. Rusia melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di wilayah selatan Odesa, Ukraina, Rabu dini hari. Operator sistem transmisi Ukraina, Ukrenergo, mengatakan serangan tersebut menyasar infrastruktur energi.
Dari Amerika Serikat, persediaan minyak mentah melorot 4,5 juta barel pekan lalu, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA). Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penyusutan 1,1 juta barel. (Reuters/AI)
Sumber : Admin