- Rating diturunkan ke idAA- dari idAA, mencerminkan tekanan kualitas aset dengan NPL naik ke 3,3%
- mempertahankan rating idA+/Stable berkat posisi bisnis kuat dan pendapatan berulang solid.
- Prospek stabil menunjukkan peluang pemulihan Bank bjb dan konsistensi fundamental di tengah risiko makroekonomi.
Ipotnews - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merilis hasil pemeringkatan terbaru terhadap dua emiten besar, yakni PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk () dan PT Summarecon Agung Tbk ().
Dalam laporan resmi yang dipublikasikan Pefindo akhir pekan kemarin, lembaga rating ini menurunkan peringkat dari "idAA" menjadi "idAA-" dengan prospek stabil. Penurunan ini juga berlaku untuk sejumlah instrumen obligasi subordinasi dan surat berharga perpetual.
Untuk Obligasi Keberlanjutan Berkelanjutan I yang diterbitkan menjadi "idAA-" dari "idAA" dan peringkat Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II, III, dan IV menjadi "idA" dari "idA+" serta peringkat Surat Berharga Perpetual Berkelanjutan I menjadi "idA-" dari "idA" kupon.
Tekanan terhadap profil keuangan Bank terutama berasal dari kualitas aset, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) meningkat menjadi 3,3 persen per Juni 2026 dari 2,8 persen pada akhir 2025. Rasio pencadangan terhadap NPL juga melemah menjadi 85,8 persen.
Peringkat dapat dinaikkan jika mampu memperkuat profil keuangannya secara substansial dan berkesinambungan, khususnya pada kualitas aset. Sebaliknya, peringkat dapat diturunkan apabila profil bisnis dan keuangan Bank melemah secara material dan berkelanjutan.
Sementara itu, Pefindo menetapkan peringkat "idA+/Stable" untuk dan Obligasi Berkelanjutan IV serta V. Peringkat ini mencerminkan posisi bisnis yang kuat di industri properti, kualitas aset yang baik, serta pendapatan berulang yang solid. Namun, risiko keuangan terkait pengembangan proyek baru dan paparan terhadap kondisi makroekonomi tetap menjadi faktor pembatas.
"Penurunan peringkat lebih mencerminkan tekanan jangka pendek pada kualitas aset, sementara rating stabil menunjukkan fundamental bisnis properti yang masih terjaga," ujar Analis Pefindo, Reynal di dalam keterangannya, Jumat (11/9).
Peringkat ini dibatasi oleh risiko keuangan terkait pengembangan proyek baru dan
paparan terhadap kondisi makroekonomi.
Peringkat dapat dinaikkan jika menunjukkan pertumbuhan yang solid dalam pengembangan properti yang tercermin melalui marketing sales, diiringi dengan peningkatan pendapatan dari segmen pendapatan berulang, disertai dengan profil keuangan yang lebih kuat secara berkelanjutan.
Namun peringkat dapat diturunkan jika perusahaan mencatat marketing sales yang jauh lebih rendah dan kemajuan konstruksi yang lebih lambat dari yang diharapkan, sehingga pendapatan jauh di bawah target. Peringkat juga bisa tertekan jika mengambil utang yang lebih tinggi tanpa diimbangi dengan prospek pendapatan yang lebih kuat, sehingga memengaruhi kemampuan Perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan tepat waktu.(Marjudin/AI)
Sumber : Admin