- Harga minyak melonjak lebih dari USD3 akibat ketegangan AS-Israel-Iran dan ancaman terhadap Selat Hormuz.
- Brent naik 4,1% jadi USD80,89, sementara WTI melonjak 3,6% ke USD73,78.
- Kekhawatiran gangguan pasokan minyak global meningkat, dengan produk olahan juga melejit.
Ipotnews - Harga minyak melonjak lebih dari USD3, Selasa, mencatatkan kenaikan tiga hari berturut-turut, seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika dan Israel versus Iran serta ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan dari kawasan penghasil utama di Timur Tengah.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melesat USD3,15 atau 4,1% menjadi USD80,89 per barel, pada pukul 14.45 WIB, demikian laporan Reuters, di Singapura, Selasa (3/3).
Pada sesi Senin, kontrak tersebut melejit hingga mencapai USD82,37, level tertinggi sejak Januari 2025, meski kemudian mengurangi kenaikan tersebut untuk ditutup melesat 6,7%.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melompat USD2,55, atau 3,6%, menjadi USD73,78 per barel. Pada sesi sebelumnya, kontrak ini sempat mencapai level tertinggi sejak Juni 2025 sebelum kembali turun dan ditutup melambung 6,3%.
Menurut Tony Sycamore, analis IG, "Dengan tidak adanya de-eskalasi yang cepat di depan mata, Selat Hormuz yang secara efektif ditutup, dan Iran yang menunjukkan kesediaan untuk menargetkan infrastruktur energi di kawasan tersebut, risiko kenaikan harga tetap ada, dan semakin besar seiring berlarutnya konflik ini."
Senin, perang udara Amerika dan Israel versus Iran semakin meluas dengan gempuran Israel ke Lebanon dan Iran yang membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan kapal tanker di Selat Hormuz.
Tanker dan kapal kontainer juga menghindari jalur perairan tersebut karena asuransi bagi kapal telah dibatalkan, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global meroket.
Kekhawatiran tentang keselamatan pelayaran di selat tersebut semakin meningkat setelah media Iran melaporkan, pejabat senior dari Garda Revolusi Islam Iran menyatakan Selat Hormuz telah ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal yang mencoba melintas.
Sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz, yang menjadikannya jalur vital bagi pasar energi global.
"Pasar terus mencerna risiko eskalasi di Timur Tengah," ujar analis ING. "Meski ada kekhawatiran mengenai aliran minyak melalui Selat Hormuz, risiko yang lebih besar bagi pasar adalah jika Iran menargetkan lebih banyak infrastruktur energi di kawasan tersebut. Ini bisa menyebabkan gangguan pasokan yang lebih lama."
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pada Senin, perang antara AS dan Israel melawan Iran mungkin akan memakan waktu "beberapa waktu", namun tidak akan berlangsung bertahun-tahun.
Analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang, sementara pasar fokus pada dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah.
Senin, Bernstein menaikkan proyeksi harga minyak Brent tahun ini menjadi USD80 per barel dari sebelumnya USD65, namun memperkirakan harga bisa mencapai USD120-150 dalam kasus konflik yang berlangsung lama.
Produk olahan minyak juga mencatatkan kenaikan seiring dengan risiko terhadap fasilitas pemrosesan energi di Timur Tengah. Senin, Arab Saudi menutup kilang minyak domestik terbesar setelah serangan drone.
Minyak solar ultra-rendah sulfur Amerika melambung 8,3% jadi USD3,1404 per galon setelah mencapai level tertinggi dalam dua tahun pada sesi Senin, sementara futures bensin melonjak 3,8% jadi USD2,4620 per galon setelah melesat 3,7% pada sesi sebelumnya.
Futures gasoil Eropa juga tercatat melejit 9,2% menjadi USD967,75 per metrik ton, setelah meroket 18%, kemarin. (Reuters/AI)
Sumber : Admin