Pasar Tunggu Kepastian Mandat Biodiesel B50 Indonesia, Harga CPO Melorot
Thursday, July 09, 2026       13:05 WIB
  • CPO turun 0,43% ke 4.589 ringgit karena ketidakpastian B50 Indonesia.
  • Harga tertahan oleh kenaikan minyak mentah dan permintaan global.
  • CPO berpotensi menguat menuju 4.664 ringgit per ton.

Ipoynews - Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia melemah, Kamis, di tengah masih berlanjutnya ketidakpastian terkait alokasi mandat biodiesel B50 di Indonesia. Meski demikian, pelemahan itu tertahan oleh kenaikan harga minyak mentah yang meningkatkan daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 20 ringgit atau sekitar 0,43 persen menjadi 4.589 ringgit (USD1.125,58) per metrik ton pada jeda perdagangan siang, demikian laporan  Reuters,  di Kuala Lumpur, Kamis (9/7).
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, mengatakan belum adanya kejelasan mengenai alokasi implementasi program biodiesel B50 Indonesia membuat tren penguatan harga minyak sawit kehilangan momentum.
Menurut Bagani, pelaku pasar masih menunggu rincian mengenai alokasi bagi peserta yang memperoleh subsidi maupun yang tidak menerima subsidi, serta total volume yang akan dialokasikan dalam program tersebut.
Informasi tersebut dinilai sangat penting karena akan menentukan besarnya tambahan permintaan minyak sawit yang dihasilkan dari implementasi program B50.
Di sisi lain, lonjakan harga energi akibat meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah turut membantu menahan kejatuhan harga sawit. Selain itu, munculnya minat beli dari importir di India dan China sepanjang pekan ini juga memberikan dukungan terhadap pasar.
Pergerakan harga minyak nabati lain menunjukkan hasil yang beragam. Kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif di Bursa Dalian turun 0,13 persen, sementara kontrak minyak sawitnya naik 0,33 persen. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade ( CBOT ) menguat tipis 0,04 persen.
Pergerakan harga sawit umumnya mengikuti tren minyak pesaing lainnya karena seluruh komoditas tersebut berkompetisi dalam memenuhi kebutuhan pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Sementara itu, harga minyak melonjak lebih dari 1 persen setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran. Langkah tersebut memudarkan harapan akan tercapainya perundingan untuk mengakhiri konflik kedua negara sekaligus mengurangi optimisme terkait pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum konflik menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kenaikan harga minyak membuat sawit menjadi pilihan yang lebih menarik sebagai bahan baku produksi biodiesel sehingga turut menopang harga CPO.
Di sisi nilai tukar, ringgit Malaysia yang merupakan mata uang perdagangan sawit melemah sekitar 0,07 persen terhadap dolar AS. Pelemahan tersebut membuat harga sawit menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga berpotensi meningkatkan daya saing ekspor.
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan harga minyak sawit masih berpeluang melanjutkan penguatan hingga mencapai level 4.664 ringgit per metrik ton. Proyeksi tersebut didasarkan pada terbentuknya pola gelombang "wave c" dalam analisis teknikal yang mengindikasikan potensi kenaikan harga dalam jangka pendek. (Reuters/AI)

Sumber : Admin