- Harga minyak turun, IEA pertimbangkan pelepasan cadangan besar karena konflik AS-Israel vs Iran.
- Serangan dan gangguan kilang kurangi pasokan; Arab Saudi tingkatkan ekspor.
- Pelepasan cadangan lambat, risiko harga minyak naik hingga USD150/barel.
Ipotnews - Harga minyak kembali merosot, Rabu, terbebani laporan Badan Energi Internasional (IEA) mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarahnya. Langkah ini dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat konflik antara Amerika-Israel dan Iran.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, turun 81 sen, atau 0,92% menjadi USD86,99 per barel pada pukul 12.28 WIB, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Tokyo, Rabu (11/3).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyutu 20 sen, atau 0,2%, menjadi USD83,28 per barel.
Harga minyak WTI sempat melonjak hingga 5% saat pembukaan pasar, setelah kedua kontrak jatuh lebih dari 11% pada penutupan Selasa, yang menjadi penurunan persentase terbesar sejak 2022, sehari setelah Presiden AS Donald Trump memprediksi perang akan segera berakhir. Senin, WTI sempat menembus lebih dari USD119 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022.
Menurut Wall Street Journal , mengutip pejabat yang mengetahui masalah ini, rencana pelepasan cadangan IEA akan melampaui 182 juta barel yang dilepaskan oleh negara anggota IEA dalam dua gelombang pada 2022, ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina.
Analis Goldman Sachs menilai, pelepasan cadangan sebesar itu bisa menutupi 12 hari gangguan ekspor minyak Teluk yang diperkirakan mencapai 15,4 juta barel per hari.
Serangan Intensif
Amerika dan Israel melancarkan serangan udara paling intens sejak perang dimulai, menurut Pentagon dan laporan dari Iran. Militer AS juga "menghancurkan" 16 kapal penanam ranjau Iran di dekat Selat Hormuz. Trump menegaskan, setiap ranjau yang diletakkan Iran di Selat Hormuz harus segera dihancurkan.
Trump beberapa kali menyatakan kesiapan AS untuk mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan. Namun, sumber Reuters menyebut, Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan militer karena risiko serangan yang terlalu tinggi saat ini.
"Harga minyak terus menurun secara normal setelah lonjakan tajam pada Senin," kata analis UOB, menambahkan pasar akan tetap memantau perkembangan di Timur Tengah untuk memperkirakan berapa lama harga energi akan tetap tinggi.
Pejabat G7 mengadakan pertemuan online untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat guna meredam dampak pasar.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan mengadakan panggilan video dengan pemimpin G7 lainnya, Rabu, untuk membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap energi dan langkah-langkah penanganannya.
Meski demikian, beberapa analis masih skeptis terhadap proposal IEA. "Belum ada pelepasan resmi, dan ada keraguan terkait kecepatan pelepasan cadangan tersebut," kata Philip Jones-Lux, analis Sparta Commodities. Dia menambahkan, "Masalah utamanya bukan ukuran cadangan, tapi seberapa cepat cadangan tersebut bisa dilepas."
ADNOC, BUMN minyak Abu Dhabi, menutup kilang Ruwais akibat kebakaran di fasilitas kompleks tersebut pasca serangan drone, menandai gangguan terbaru pada infrastruktur energi terkait perang AS-Israel melawan Iran.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, meningkatkan pasokan melalui Laut Merah, meski masih jauh dari level yang dibutuhkan untuk menutupi penurunan aliran dari Selat Hormuz. Kerajaan ini mengandalkan pelabuhan Yanbu untuk membantu ekspor agar menghindari pemotongan produksi besar, sementara negara tetangganya, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, telah memangkas output.
Konsultan energi Wood Mackenzie menyatakan, perang saat ini mengurangi pasokan minyak dan produk minyak Teluk ke pasar sekitar 15 juta barel per hari, yang berpotensi mendorong harga minyak mentah ke USD150 per barel.
"Bahkan penyelesaian cepat kemungkinan tetap akan menyebabkan gangguan selama beberapa minggu bagi pasar energi," kata Morgan Stanley dalam catatannya.
Permintaan yang tetap tinggi juga tercermin dari penurunan stok minyak mentah, bensin, dan distilat di AS minggu lalu, menurut sumber pasar, mengacu pada data American Petroleum Institute. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin