- Harga minyak turun namun masih menahan sebagian kenaikan sebelumnya karena harapan berakhirnya shutdown AS yang dapat meningkatkan permintaan minyak.
- Badan Energi Internasional memperkirakan permintaan minyak dan gas masih akan tumbuh hingga 2050, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang menyebut puncak permintaan terjadi dekade ini.
- Sanksi AS terhadap produsen minyak terbesar Rusia, Lukoil dan Rosneft, menekan pasokan dan mendukung harga.
Ipotnews -- Harga minyak melemah, Rabu, namun masih mempertahankan sebagian besar kenaikan dari sesi sebelumnya. Sentimen pasar tetap positif di tengah harapan berakhirnya penutupan pemerintahan (government shutdown) terpanjang dalam sejarah Amerika akan mendorong permintaan di negara konsumen minyak terbesar dunia itu.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, turun 22 sen AS atau 0,34 persen menjadi USD64,94 per barel pada pukul 13.25 WIB, setelah melonjak 1,7 persen pada sesi Selasa, demikian laporan Reuters, di Beijing, Rabu (12/11).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 22 sen AS atau 0,36 persen ke posisi USD60,83 per barel, setelah melesat 1,5 persen di sesi sebelumnya.
DPR Amerika yang dikuasai Partai Republik dijadwalkan melakukan pemungutan suara, Rabu petang waktu setempat, untuk mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui Senat, guna memulihkan pendanaan bagi lembaga pemerintah hingga 30 Januari.
"Pembukaan kembali pemerintahan akan meningkatkan kepercayaan konsumen dan aktivitas ekonomi, yang pada akhirnya mendorong permintaan minyak mentah," tulis analis IG, Tony Sycamore.
Penutupan pemerintahan AS yang menyebabkan puluhan ribu penerbangan terganggu dalam beberapa hari terakhir itu juga diperkirakan dapat memicu pemulihan sektor perjalanan serta konsumsi bahan bakar jet menjelang musim liburan.
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) dalam laporan World Energy Outlook tahunannya, Rabu, memperkirakan permintaan minyak dan gas masih akan terus meningkat hingga tahun 2050.
Proyeksi tersebut berbeda dari pandangan sebelumnya yang memperkirakan puncak permintaan minyak global akan terjadi pada dekade ini.
Perubahan pandangan tersebut muncul setelah IEA kembali menggunakan metode proyeksi berbasis kebijakan yang sudah berlaku, bukan berdasarkan komitmen iklim negara-negara.
Dalam skenario kebijakan saat ini--yang terakhir digunakan pada 2019--permintaan minyak diperkirakan naik sekitar 13 persen hingga pertengahan abad dibandingkan tingkat pada 2024.
Selain IEA, Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan Energy Information Administration (EIA) juga dijadwalkan merilis prospek bulanan mereka pada hari yang sama.
Dari sisi pasokan, dampak sanksi baru Amerika Serikat terhadap dua produsen minyak terbesar Rusia, Lukoil dan Rosneft, mulai terasa dan turut memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Menurut laporan Reuters , Selasa, Yanchang Petroleum China kini mencari pasokan minyak non-Rusia dalam tender terbarunya, sementara anak usaha Sinopec, Luoyang Petrochemical, menghentikan operasi untuk pemeliharaan sebagai dampak tidak langsung dari sanksi tersebut.
Sanksi yang diberlakukan bulan lalu itu merupakan tindakan langsung pertama Presiden AS Donald Trump terhadap Rusia sejak dimulai masa jabatan keduanya. (Reuters/AI)
Sumber : Admin