Pasar Cermati Permintaan China dan Pasokan Global, Harga Tembaga Terkoreksi
Thursday, August 06, 2026       15:05 WIB
  • Tembaga turun akibat aksi ambil untung dan lemahnya permintaan China.
  • Pasokan global tetap ketat menopang harga.
  • Nikel anjlok karena tambahan kuota produksi Weda Bay.

Ipotnews - Tembaga terkoreksi, Kamis, setelah menyentuh level tertinggi baru dalam 12 pekan, karena lonjakan harga mulai menekan permintaan fisik di China, konsumen tembaga terbesar dunia. Sementara investor melakukan aksi ambil untung setelah reli selama tiga sesi berturut-turut.
Koreksi harga tersebut mengimbangi dukungan dari kondisi pasokan yang semakin ketat di luar Amerika Serikat, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Kamis (6/8).
Kontrak tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,35 persen menjadi USD14.060,50 per ton metrik pada pukul 14.00 WIB, setelah menyentuh USD14.178 per ton, level tertinggi sejak 13 Mei.
Di bursa Shanghai Futures Exchange ( SHFE ), kontrak tembaga paling aktif justru ditutup menguat 0,15 persen menjadi 107.330 yuan atau sekitar USD15.903,33 per ton. Harga sempat mencapai 108.030 yuan per ton, level tertinggi sejak 14 Mei.
Tekanan terhadap permintaan mulai terlihat dari pergerakan premi tembaga Yangshan, indikator utama minat pembeli China terhadap impor tembaga. Premi tersebut terus menurun sejak 22 Juli dan berada di level USD106 per ton pada Rabu.
Penurunan premi menunjukkan meningkatnya resistensi pembeli di China terhadap harga yang semakin tinggi. Pelaku pasar menilai konsumen mulai menahan pembelian karena harga tembaga mengalami kenaikan signifikan.
"Pelemahan ini juga mencerminkan aksi ambil untung setelah harga tembaga LME menembus level USD14.000 per ton," kata sejumlah trader.
Meski demikian, kondisi pasokan global di luar Amerika Serikat masih memperlihatkan tanda-tanda ketat. Premi tembaga tunai LME terhadap kontrak tiga bulan melebar menjadi USD113 per ton, Kamis, menunjukkan tingginya permintaan terhadap logam yang tersedia segera.
Ketidakpastian terkait kemungkinan penerapan tarif impor Amerika Serikat juga membuat harga tembaga di bursa COMEX tetap berada di atas harga acuan London. Kondisi tersebut mendorong masuknya stok tembaga ke gudang-gudang Amerika Serikat.
Data menunjukkan persediaan tembaga COMEX melonjak menjadi 720.140 short ton atau sekitar 653.300 ton, Rabu. Sebaliknya, stok di gudang LME dan SHFE mengalami penurunan.
Perusahaan riset komoditas StoneX memperkirakan sedikitnya 1,2 juta ton tembaga masuk ke Amerika Serikat sejak penyelidikan tarif berdasarkan aturan Section 232 dimulai pada Februari 2025. Kondisi tersebut membuat sekitar 64 persen dari persediaan tembaga global yang tercatat secara terbuka kini berada di Amerika Serikat.
Sementara itu, harga nikel mengalami tekanan tajam setelah laporan dari Shanghai Metals Market (SMM), lembaga informasi pasar China, menyebutkan bahwa tambang Weda Bay Nickel (WBN) memperoleh tambahan kuota produksi bijih nikel untuk semester kedua sekitar 25 juta ton.
Salah satu pemilik Weda Bay Nickel, Eramet, sebelumnya menyatakan tambang tersebut menghentikan produksi pada akhir Mei setelah menghabiskan kuota awal Rencana Kerja dan Anggaran Biaya ( RKAB ) 2026 sebesar 12 juta ton. Perusahaan kemudian mengajukan permintaan tambahan alokasi kepada pemerintah Indonesia.
Harga nikel LME anjlok 3,06 persen menjadi USD16.590 per ton, sementara kontrak nikel SHFE ditutup melorot 2,69 persen menjadi 127.460 yuan per ton.
Di pasar logam dasar lainnya, aluminium LME turun 0,14 persen, seng (zinc) melemah 0,11 persen, timbal (lead) berkurang 0,19 persen, dan timah menyusut 1,19 persen.
Sementara di bursa SHFE , aluminium naik 0,19 persen, seng melompat 1,37 persen, timbal bertambah 0,06 persen, dan timah meningkat 0,03 persen. (Reuters/AI)

Sumber : Admin