- Optimisme asing mulai terlihat dengan net buy Rp725 miliar dan Rp156 miliar dalam dua hari.
- Faktor pendukung meliputi stabilitas rupiah, imbal hasil obligasi tinggi, dan rotasi investasi global.
- Risiko pembalikan tetap ada, terutama jika rupiah melemah atau ketegangan global meningkat.
Ipotnews - Optimisme pasar mulai menguat seiring masuknya kembali arus dana asing ke pasar domestik. Setelah mencatat aksi jual berbulan-bulan, investor asing akhirnya melakukan pembelian bersih berturut-turut pada Jumat (17/7) dan Senin (20/7).
Tercatat net buy pada Jumat (17/7) sebesar Rp725 miliar dan kembali melanjutkan pembelian bersih pada perdagangan kemarin, Senin (20/7) sebesar Rp156,6 miliar. Meski secara kumulatif sepanjang tahun 2026 investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp90 triliun, namun catatan positif dalam dua hari perdagangan terakhir patut diperhatikan.
"Kondisi ini layak menjadi perhatian karena dalam banyak siklus pasar sebelumnya, perubahan tren arus dana asing umumnya diawali oleh akumulasi bertahap sebelum berkembang menjadi pembelian dalam skala yang lebih besar," kata Hendra dalam risetnya, Selasa (21/7).
Meski begitu ia memahami bahwa catatan dua hari pembelian bersih oleh asing belum dapat dijadikan bukti bahwa tren pembalikan kepercayaan investor asing telah sepenuhnya kembali. Hal ini dinilainya sebagai sinyal awal bahwa minat asing terhadap aset Indonesia perlahan kembali pulih.
Hendra menambahkan bahwa arus masuk asing didukung oleh sejumlah faktor, mulai dari stabilitas rupiah yang dijaga Bank Indonesia, imbal hasil obligasi pemerintah yang relatif tinggi, hingga ekspektasi membaiknya kinerja emiten kuartal II 2026. Di sisi global, rotasi investasi dari saham teknologi ke pasar negara berkembang juga membuka peluang tambahan bagi Indonesia.
Meski demikian, risiko tetap membayangi terutama terkait pelemahan rupiah hingga menembus level psikologis yaitu Rp18.000 per dolar AS. Apabila hal ini terjadi, maka dapat memicu kembali aksi jual asing. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan potensi kebijakan suku bunga ketat dari The Federal Reserve menjadi faktor eksternal yang harus diantisipasi.
"Investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko yang masih dapat menghambat proses pemulihan pasar. Faktor yang paling penting saat ini adalah pergerakan nilai tukar rupiah," katanya.(Marjudin/AI)
Sumber : Admin