Obligasi Global Terpuruk, tetapi Belum Separah 2022
Wednesday, September 02, 2026       14:37 WIB
  • Aksi jual obligasi global mendorong yield ke level tinggi, tetapi masih jauh lebih ringan dibanding gejolak 2022.
  • Yield obligasi pemerintah global naik 17 bps dalam 20 hari, dibanding 62 bps pada 2022, sementara kerugian tahun ini 4,2% vs 23% pada 2022.
  • Tekanan masih berlanjut akibat inflasi energi, penerbitan utang besar, dan kebutuhan pendanaan AI, meski yield yang lebih tinggi memberi bantalan pendapatan bagi investor.

Ipotnews - Aksi jual yang melanda pasar obligasi global terlihat menyakitkan, tetapi belum sebanding dengan gejolak yang terjadi empat tahun lalu. Ketika itu, lonjakan inflasi memaksa bank sentral melakukan serangkaian kenaikan suku bunga secara cepat.
Perbedaannya terletak pada skala. Meskipun penurunan terbaru telah mendorong imbal hasil ( yield ) di pasar-pasar terbesar dunia ke level tertinggi dalam beberapa tahun, pergerakan tersebut hanya sebagian kecil dari gejolak yang terjadi pada akhir 2022.
Data yang dihimpun  Bloomberg  menunjukkan, yield obligasi pemerintah global naik 17 basis poin secara kumulatif dalam 20 hari terakhir. Angks tersebut masih jauh dibandingkan 62 basis poin pada periode yang sama pada akhir 2022. Berdasarkan pergerakan dari puncak ke titik terendah, obligasi yang telah kehilangan 4,2% tahun ini, juga masih jauh di bawah penurunan 23% pada 2022.
Meskipun aksi jual saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda, pergerakan yield yang relatif moderat sejauh ini memberikan sedikit ketenangan bagi para pengamat pasar berpengalaman.
"Cobalah untuk sedikit tenang," kata Stephen Miller, konsultan di perusahaan manajemen investasi GSFM di Sydney. Miller telah mengamati pasar obligasi sejak 1983.
Meskipun ia mengaku tidak dapat menyebut obligasi sebagai "pembelian yang sangat menarik", tetapi menurutnya, "pada tingkat yield seperti ini, obligasi mulai layak dipertimbangkan oleh investor yang berorientasi pada pendapatan," imbuhnya seperti dikutip Bloomberg, Rabu (2/9).
Gejolak 2022 yang mendorong obligasi global ke pasar  bearish  pertamanya dalam satu generasi, terjadi ketika bank-bank sentral yang dipimpin Federal Reserve melakukan pengetatan kebijakan paling terkoordinasi dan tercepat dalam setengah abad. Langkah tersebut diambil untuk memerangi lonjakan inflasi yang didorong oleh pemulihan permintaan pascapandemi dan diperburuk oleh perang di Ukraina.
Menurut Bloomberg, inflasi juga menjadi faktor utama kali ini, mengingat perang Iran dan dampaknya terhadap harga energi. Namun, terdapat faktor lain yang turut menambah tekanan terhadap pasar obligasi.
Belanja pemerintah yang besar di negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, dan AS membuat penerbitan surat utang tetap tinggi, sehingga investor menuntut kompensasi lebih besar untuk memiliki surat utang dengan jatuh tempo lebih panjang.
Pada saat yang sama, kebutuhan dana dalam jumlah besar untuk membiayai ledakan kecerdasan buatan (AI) semakin meningkatkan persaingan untuk memperoleh modal, mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Meski demikian, kerugian obligasi lebih terkendali, salah satunya karena yield saat ini naik dari level yang jauh lebih tinggi sehingga memberikan bantalan pendapatan lebih besar bagi investor untuk menghadapi penurunan harga. Sebaliknya, yield berada di dekat level terendah dalam sejarah menjelang 2022.
Obligasi dalam Bloomberg Global Treasury Total Return Index memiliki kupon rata-rata 2,68% tahun ini, naik dari 1,84% pada 2022.
"Situasinya tidak seburuk yang digambarkan oleh pasar obligasi bagi setiap perekonomian," kata Kerry Craig,  global market strategist  di JPMorgan Asset Management, Melbourne. Menurutnya, di beberapa pasar seperti Australia, investor bahkan mungkin melebih-lebihkan seberapa besar kenaikan suku bunga yang akan dilakukan bank sentral.
Sejumlah laporan ekonomi terbaru mendukung pandangan tersebut. Di AS, beberapa data penting tampil mengecewakan. Jumlah tenaga kerja ( payrolls ) turun pada Juli dan penjualan ritel secara tak terduga melemah. Ekonomi Jepang juga tumbuh lebih rendah dari perkiraan pada kuartal II.
Meski demikian, belum ada pihak yang dengan tegas menyatakan bahwa yield telah mencapai puncaknya.
Aksi jual obligasi masih berpotensi berlanjut karena inflasi yang didorong oleh gangguan pasokan energi membuat ekspektasi kenaikan suku bunga tetap terbuka. Sementara itu, penerbitan surat utang bernilai besar terus memberikan tekanan ke atas terhadap yield.
Kenaikan yield di Jepang juga berpotensi menjadi sumber tekanan tambahan karena dapat menarik kembali modal global kembali ke Jepang.
Yield US Treasury 10 tahun - yang menjadi acuan biaya pinjaman global - naik menjadi 4,81% pada Rabu ini, level tertinggi sejak akhir 2023. Kondisi ini semakin meningkatkan tekanan terhadap surat utang di negara-negara maju lainnya. Yield obligasi pemerintah Jepang 10 tahun pada Selasa menyentuh 3% untuk pertama kalinya pada abad ini.
Namun, volatilitas pasar yang lebih rendah juga menunjukkan bahwa investor menghadapi aksi jual terbaru ini dengan lebih tenang. Volatilitas yield surat utang pemerintah global turun menjadi 37 basis poin dari puncaknya sebesar 56 basis poin pada Mei lalu. Besaran tersebut melonjak pada 2022 sebelum mencapai sekitar 92 basis poin pada Maret tahun berikutnya.
"Faktor-faktor negatif bagi obligasi terus terakumulasi, tetapi sejauh ini belum ada katalis penentu yang cukup kuat untuk memaksa investor keluar dari pasar," kata Ayako Sera, senior market strategist di Sumitomo Mitsui Trust Bank Ltd di Tokyo. (Bloomberg)


Sumber : admin