
Harga minyak kembali menguat pagi ini dengan WTI mendekati level $100/barrel setelah US melakukan serangan ke Hub utama ekspor minyak milik Iran di kepulauan Kharg.
- S&P500 ditutup jatuh 0.6% Jumat lalu. Sementara di Asia, indeks ASX 200 dibuka turun 0.4%.
- Dollar kembali menguat ke atas level 100 -- menekan mayoritas komoditas seperti emas yang turun 0.6% ke bawah level $5,000/oz dan Nickel/Copper turun 2.7/1.7%.
Sentimen positif datang dari IEA pagi ini yang menyebut Asia akan mendapatkan akses distribusi segera dari kebijakan pelepasan cadangan minyak hingga total 400 juta barrel karena ketergantungan tinggi pada Timur Tengah, sementara Pentagon memperkirakan perang US-Iran akan hanya berlangsung selama 6 minggu.

Selain tetap panasnya tensi geopolitik, pekan ini pelaku pasar akan melihat respon bank sentral pada outlook inflasi dan suku bunga pasca pecah perang di Timur tengah.
- Bank Indonesia diperkirakan menahan suku bunga kebijakan BI7DRR dengan fokus pada rupiah.
- RBA Australia dan BOJ Jepang diperkirakan menaikkan suku bunga.
- Sementara Fed diperkirakan akan menahan suku bunga kebijakan FFR, namun outlook inflasi akan menjadi perhatian utama investor untuk mencari petunjuk arah kebijakan Fed selanjutnya.

Pemerintah hanya akan membuka peluang pemberlakukan kebijakan darurat yang secara sementara memperbolehkan defisit anggaran melewati batasan legal limit 3% dalam waktu singkat, jika kenaikan harga minyak dunia tetap terus terjadi dalam waktu panjang akibat perang US-Iran (Bloomberg)
> Karena ketergantungannya yang tinggi terhadap impor dan BBM yang di subsidi pemerintah, defisit anggaran hanya akan bertahan di bawah level 3% jika rata harga minyak berada < $92/barrel tahun ini -- menurut Menkeu.
Sementara itu, ancaman lain datang dari lonjakan inflasi di tengah momentum libur Idul Fitri dan membuat outlook kebijakan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia menjadi tidak menentu.
o Retailer
Peningkatan daya beli menjelang Lebaran 2026 tecermin dari tren positif penjualan dan . Namun, risiko pelemahan pertumbuhan penjualan tiap toko ( SSSG ) membayangi sektor jika harga BBM terus tinggi, di mana dinilai paling rentan terhadap harga BBM non-subsidi sementara rentan terhadap potensi kenaikan harga BBM subsidi. Meski demikian, valuasi sektor ritel yang kini turun mendekati level terendah sejak era pandemi membatasi risiko koreksi lebih lanjut r.ipot.id/?g=r/s/3cmhkr
o
Laba bersih FY25 sedikit meleset dari estimasi di angka Rp6.6 triliun ?0.5% yoy. Kinerja pada 4Q25 tertolong oleh efisiensi dan kenaikan harga jual (ASP) di tengah stagnasi tarif cukai, namun analis tetap memangkas proyeksi laba FY26-27F sebesar ? -4 sd -4.8% guna menyesuaikan normalisasi pendapatan bunga serta mengantisipasi risiko pelemahan daya beli.
o
Akan melakukan aksi buyback senilai Rp2 Triliun dimulai 16 Maret hingga 15 Juni 2026.
Agenda Korporasi
16/03: RUPS : ,
17/03: Cash Dividend Cumdate: ,
25/03: RUPS :
26/03: RUPS : ,
27/03: Cash Dividend Cumdate:
RUPS : , ,
Agenda Ekonomi
1. CN - Produksi Industri China (YoY) (Feb)
2. CN - Tingkat Pengangguran Tiongkok (Feb)
Pemantauan Khusus/FCA
- In :
- Out : , ,
Disclaimer On
IPOT Platinum Club
Sumber : IPS