- Minyak stabil, Brent naik 0,09% ke USD78,09 per barel.
- Konflik AS-Iran menopang harga karena risiko Selat Hormuz.
- Pasar tetap menghadapi volatilitas tinggi.
Ipotnews - Harga minyak relatif stabil, Kamis, setelah pasar mencerna dampak serangan terbaru Amerika terhadap Iran yang berpotensi menghambat kemajuan pembicaraan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali sepenuhnya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik tipis 7 sen atau 0,09 persen menjadi USD78,09 per barel pada pukul 14.13 WIB, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Singapura, Kamis (9/7).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menguat 17 sen atau 0,23 persen ke posisi USD73,69 per barel.
Kedua harga acuan itu, WTI dan Brent, melonjak lebih dari USD1 dalam perdagangan setelah penutupan pasar pada Rabu menyusul dimulainya serangan baru militer AS terhadap Iran.
Sebelum eskalasi terbaru itu, harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari dua pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Sebelumnya, harga minyak cenderung melemah karena pasar berusaha menyerap tambahan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang sebelumnya tertahan selama konflik, setelah adanya gencatan senjata serta munculnya tanda-tanda peningkatan stok minyak global.
Analis pasar dari platform perdagangan valuta asing XS.com, Linh Tran, mengatakan harga minyak WTI kemungkinan masih akan bergerak sangat fluktuatif dalam jangka pendek.
"Jika ketegangan AS-Iran terus berlanjut atau meningkat, harga minyak dapat memperpanjang kenaikan hingga mencapai USD80 per barel," kata Tran dalam catatannya.
Namun, apabila risiko geopolitik di Timur Tengah mulai mereda, pasar kemungkinan kembali berfokus pada faktor fundamental, termasuk peningkatan stok minyak Amerika, tingginya produksi domestik, serta rencana negara-negara produsen besar untuk meningkatkan output.
Data Badan Informasi Energi (EIA) Amerika menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak pertengahan April. Kenaikan tersebut terjadi karena aktivitas ekspor mengalami perlambatan.
Namun, sentimen pasar kembali berubah setelah militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap Iran yang bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas kapal.
Serangan tersebut dilakukan beberapa jam setelah Trump menyatakan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah "berakhir".
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyebut pasukan Amerika menyerang sekitar 90 sasaran militer Iran. Target tersebut mencakup sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pantai, lokasi penyimpanan rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta infrastruktur logistik militer di sepanjang garis pantai Iran.
Sebelumnya, Iran menyatakan telah menyerang fasilitas militer Amerika di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas serangan AS terhadap sejumlah infrastruktur Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar energi global. Sebelum perang Iran berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur perairan tersebut. Kendali Iran atas wilayah strategis itu menjadi salah satu alat tekan utama Teheran dalam konflik yang bermula dari serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar, mengatakan meski telah ada kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran, risiko geopolitik masih tetap tinggi.
Menurutnya, ketidakpastian konflik akan terus memberikan dukungan terhadap harga minyak dalam jangka pendek.
"Kami menilai Iran memiliki alasan kuat untuk memperpanjang proses pembicaraan, sehingga premi risiko perang dalam harga minyak kemungkinan tidak akan sepenuhnya hilang dalam beberapa bulan ke depan," ujar Sarkar.
Dia memperkirakan pasar minyak masih akan mengalami volatilitas tinggi, meski dalam jangka menengah tren harga tetap berpotensi bergerak turun akibat faktor fundamental seperti peningkatan pasokan global. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin