- Minyak turun sekitar 1% karena harapan damai Rusia-Ukraina memudar dan kekhawatiran kelebihan pasokan.
- Retorika keras Putin dan ketidakpastian pasokan Rusia-India membuat pasar ragu tercapainya kesepakatan.
- Tekanan oversupply dibatasi serangan drone pada infrastruktur Rusia dan ketegangan AS-Venezuela, sementara OPEC + tahan produksi Q1/2026.
Ipotnews - Harga minyak merosot sekitar 1%, Selasa, dengan pasar menimbang kembali prospek perundingan damai Rusia-Ukraina yang kian rapuh serta kekhawatiran kelebihan pasokan global.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melemah 72 sen, atau 1,14%, menjadi USD62,45 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Selasa (2/12) atau Rabu (3/12) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 68 sen, atau 1,15%, menjadi USD58,64 per barel. Kedua acuan tersebut sebelumnya menguat lebih dari 1% pada sesi Senin.
Fokus investor pada hari itu beralih ke perkembangan diplomatik setelah Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, di Kremlin, untuk membahas kemungkinan terobosan dalam upaya mengakhiri perang di Ukraina.
"Harga minyak terkendali karena ekspektasi terobosan dalam pembicaraan damai yang berpotensi melonggarkan pembatasan terhadap pasokan Rusia," ujar Clayton Seigle, analis Center for Strategic and International Studies. "Namun harapan itu kemungkinan pupus, dan pasar justru akan menghadapi risiko gangguan lebih besar karena energi masih menjadi sasaran kedua pihak."
Sebelum pertemuan tersebut, Putin mengeluarkan pernyataan keras dengan memperingatkan negara-negara Eropa bahwa Rusia siap bertempur jika terjadi perang. Dia juga mengancam akan memutus akses Ukraina ke laut sebagai respons atas serangan drone terhadap kapal tanker "shadow fleet" Rusia di Laut Hitam.
Putin dijadwalkan memulai kunjungan dua hari ke India, Kamis, untuk menawarkan lebih banyak penjualan minyak, sistem rudal, dan jet tempur, dalam upaya memulihkan hubungan energi dan pertahanan yang melemah akibat tekanan Amerika terhadap negara Asia Selatan itu.
"Retorika yang beragam dari Rusia memicu gejolak kecil pada harga minyak, yang awalnya mendapat dukungan dari asumsi bahwa Rusia akan terus memasok minyak ke India," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group. Namun komentar Putin menunjukkan bahwa kesepakatan damai mungkin tidak sedekat yang diharapkan pasar, tambahnya.
Di sisi fundamental, kekhawatiran kelebihan pasokan (oversupply) menekan harga, meski sebagian terimbangi oleh serangan terhadap infrastruktur energi Rusia serta meningkatnya ketegangan antara Amerika dan Venezuela. Senin, Caspian Pipeline Consortium (CPC) mengumumkan telah melanjutkan pengiriman minyak dari salah satu titik tambat di terminal Laut Hitam setelah serangan drone besar dari Ukraina pada akhir pekan.
Selasa, sebuah kapal tanker berbendera Rusia yang mengangkut minyak biji bunga matahari juga melaporkan serangan drone di lepas pantai Turki.
Selain itu, pernyataan Trump yang menyebut bahwa wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela "harus dianggap tertutup" memicu ketidakpastian baru di pasar minyak, mengingat negara tersebut merupakan produsen penting.
Sementara itu, OPEC + pada pertemuan Minggu sepakat mempertahankan tingkat produksi untuk kuartal pertama 2026, langkah yang mencerminkan kehati-hatian kelompok tersebut dalam menggenjot pangsa pasar di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan yang membayangi. (Reuters/AI)
Sumber : Admin