- Harga minyak naik dipicu isu Iran-Oman dan risiko pasokan Timur Tengah.
- Brent ke USD79,67 dan WTI USD75,38 per barel.
- Ancaman keamanan jalur energi menopang harga.
Ipotnews - Harga minyak menguat, Kamis, seiring investor tetap mencermati perkembangan pembicaraan antara Iran dan Oman terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di saat yang sama, laporan mengenai dugaan serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah dan Teluk Aden kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 22 sen atau 0,28 persen menjadi USD79,67 per barel pada pukul 13.53 WIB, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Singapura, Kamis (6/8).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menguat 16 sen atau 0,21 persen ke posisi USD75,38 per barel. Pada perdagangan sehari sebelumnya, Brent ditutup menguat tipis, sedangkan WTI berakhir sedikit melemah.
Sentimen pasar masih dipengaruhi perkembangan diplomatik antara Iran dan Oman. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kedua negara mencapai kesepahaman mengenai koordinat geografis jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Pengumuman bersama disebut tengah difinalisasi dengan syarat tidak ada campur tangan dari pihak ketiga.
Meski demikian, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin bahwa perkembangan tersebut akan segera mengakhiri ketegangan di kawasan. Analis XS.com, Linh Tran, menilai komunikasi diplomatik yang berlangsung sejauh ini baru sebatas meningkatkan harapan bahwa situasi dapat mereda. Namun, risiko yang berkaitan dengan aktivitas militer, keamanan jalur pelayaran, dan pasokan minyak dari Timur Tengah masih tetap tinggi.
Sumber senior Iran dan dua pejabat kawasan sebelumnya mengungkapkan kepada Reuters bahwa rancangan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan memberikan Teheran kewenangan mengawasi kapal-kapal yang memasuki Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Jika terealisasi, langkah itu akan menjadi salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran dalam perundingan tersebut.
Hingga kini pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi atas proposal tersebut. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah dekat. Namun, sejumlah pejabat AS berulang kali menegaskan Washington tidak akan menyetujui pengaturan yang memberikan Iran kendali atas akses menuju salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Di sisi lain, Iran memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru dari Amerika Serikat terhadap wilayahnya akan dibalas dengan menyerang infrastruktur energi strategis di kawasan. Pernyataan tersebut, menurut sejumlah sumber, merupakan upaya Teheran meningkatkan biaya politik dan militer yang harus ditanggung Washington maupun sekutu-sekutunya jika konflik kembali meningkat.
Ekonom Nomura Securities, Yuki Takashima, mengatakan harga minyak kini kembali ke kisaran level yang terlihat ketika Amerika Serikat dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara pada 17 Juni. Menurutnya, investor saat ini menunggu kepastian apakah kedua negara mampu mencapai kesepakatan damai yang bersifat permanen.
Namun demikian, optimisme pasar masih dibatasi oleh ancaman gangguan keamanan di jalur pelayaran Laut Merah. Takashima menilai kekhawatiran terhadap potensi serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial membuat risiko disrupsi pasokan energi dari Timur Tengah tetap tinggi.
Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal terhadap sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat kota pelabuhan Yanbu di Laut Merah, serta menyerang kapal tanker Saudi lainnya di Teluk Aden. Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Saudi mengenai kedua insiden tersebut.
Data pengiriman juga menunjukkan ekspor minyak mentah dan kondensat dari negara-negara Teluk sepanjang Juli relatif stabil, tetapi volumenya masih sekitar 40 persen lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum pecahnya konflik di kawasan.
Sementara itu, data Badan Informasi Energi AS (EIA) memperlihatkan persediaan minyak mentah meningkat pekan lalu. Kenaikan stok dipicu penurunan aktivitas pengolahan di kilang serta sedikit meningkatnya volume impor minyak, yang turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar energi global. (Reuters/AI)
Sumber : Admin