- Harga minyak Brent dan WTI naik 1,3% terdorong ketegangan di Venezuela dan Iran.
- Kontrol ekspor Venezuela oleh AS dan kerusuhan Iran picu kekhawatiran pasokan.
- Kenaikan terbatas karena surplus pasokan global tetap ada.
Ipotnews - Harga minyak menguat untuk hari kedua, Jumat, melonjak lebih dari 1%, dan berada di jalur kenaikan mingguan ketiga. Kenaikan ini didorong kekhawatiran terkait ketidakpastian pasokan dari Venezuela serta meningkatnya ketegangan di Iran, yang dapat mengganggu produksi energi global.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, menguat 83 sen, atau 1,3%, menjadi USD62,82 per barel pada pukul 14.30 WIB, demikian laporan Reuters, di Singapura, Jumat (9/1).
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melesat 76 sen, atau 1,3%, ke posisi USD58,52 per barel.
Kedua benchmark ini sebelumnya melejit lebih dari 3% sehari sebelumnya. Brent diperkirakan melambung sekitar 2,7% dalam sepekan, sementara WTI mencatatkan kenaikan mingguan 1,4%.
Menurut analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, hambatan dalam aliran minyak yang terkena sanksi dan sinyal permintaan yang stabil mampu menahan tekanan pasar, meski prediksi kelebihan pasokan global untuk 2026 tetap ada. "Eskalasi ketegangan geopolitik menambah momentum saat ini pada harga minyak," ujar Sachdeva.
Kenaikan harga kali ini dipicu sejumlah faktor geopolitik. Langkah Presiden AS Donald Trump terkait sektor minyak Venezuela menciptakan ketidakpastian pasar. Trump baru-baru ini menahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan menyatakan AS akan mengelola penjualan minyak Venezuela, termasuk seluruh pendapatan dari ekspor minyak negara itu.
Pernyataan ini memicu ekspektasi kenaikan harga, karena volume minyak Venezuela yang sebelumnya dijual dengan harga diskon berpotensi dikontrol langsung oleh Amerika.
Raksasa energi, termasuk Chevron, Vitol, dan Trafigura, dilaporkan bersaing mendapatkan kontrak ekspor minyak Venezuela yang dibuka oleh pemerintahan AS. Langkah ini menandai tingginya minat pasar terhadap aset tersebut di tengah dinamika geopolitik dan sanksi internasional.
Selain faktor Venezuela, kerusuhan sipil di Iran, salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah, menambah kekhawatiran gangguan produksi dan ekspor minyak.
Beberapa wilayah, termasuk ibu kota Teheran serta kota besar seperti Mashhad dan Isfahan, melaporkan demonstrasi massal akibat tekanan ekonomi, yang sempat memicu pemadaman internet nasional. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian bagi pasar energi global.
Meski harga minyak meningkat, analis memperingatkan bahwa kenaikan ini berpotensi terbatas. Surplus pasokan global tetap menjadi faktor yang menahan lonjakan harga lebih jauh.
Haitong Futures mencatat kenaikan harga sebagian merupakan koreksi dari pengabaian risiko geopolitik sebelumnya, dan rebound harga minyak sulit dipertahankan jika ketegangan di Iran tidak meningkat lebih lanjut. (Reuters/AI)
Sumber : Admin