- Harga minyak naik 2% akibat eskalasi konflik AS-Iran.
- Brent ditutup di USD91,01 dan WTI USD84,91 per barel.
- Pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan energi Timur Tengah.
Ipotnews - Harga minyak melonjak sekitar 2 persen ke level tertinggi dua pekan, Selasa, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Kekhawatiran tersebut dipicu eskalasi serangan antara Amerika dan Iran serta ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi yang diumumkan kelompok Houthi Yaman.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melompat USD1,79 atau 2 persen menjadi USD91,01 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Selasa (21/7) atau Rabu (22/7) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menguat USD1,68 atau 2 persen menjadi USD84,91 per barel.
Level tersebut merupakan penutupan tertinggi bagi Brent sejak 10 Juni dan WTI sejak 11 Juni. Kenaikan itu juga mempertahankan Brent di wilayah teknikal overbought selama tujuh sesi perdagangan berturut-turut, rekor terpanjang sejak Juni 2025.
Analis Gelber & Associates mengatakan reli harga minyak saat ini lebih dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan logistik dan distribusi energi dibandingkan hilangnya pasokan secara langsung.
"Reli tidak semata-mata karena hilangnya pasokan minyak saat ini, melainkan karena pasar memberikan probabilitas yang lebih tinggi bahwa jalur logistik akan tetap tidak stabil sepanjang pekan ini, terutama jika ekspor minyak Arab Saudi ke Asia atau pelayaran di Laut Merah menghadapi gangguan tambahan," tulis perusahaan konsultan tersebut dalam sebuah catatan riset.
Ketegangan meningkat setelah dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia memutar balik pelayarannya di Laut Merah menyusul ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Pada malam sebelumnya, pasukan Amerika melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah selatan dan barat Iran. Sebagai respons, Teheran menyerang fasilitas milik AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Selain itu, setidaknya satu kapal tanker dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Kelompok Houthi, Senin, mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, memperluas cakupan konflik dan meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi global serta perdagangan internasional di luar kawasan Teluk.
Data pelayaran LSEG menunjukkan dua kapal tanker yang baru memuat minyak Arab Saudi untuk dikirim ke China dan India pekan ini berbalik arah dan bergerak menuju Terusan Suez. Meski demikian, sejumlah sumber menyebutkan bahwa pelabuhan ekspor minyak Yanbu di pesisir Laut Merah masih beroperasi normal.
Di sisi lain, data Joint Organizations Data Initiative ( JODI ) memperlihatkan ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Mei turun untuk bulan ketiga berturut-turut dan mencapai level terendah dalam catatan data yang tersedia.
Pasar juga mencermati perkembangan konflik Rusia-Ukraina yang semakin meluas. Tiga sumber industri mengatakan Caspian Pipeline Consortium (CPC) menghentikan penerimaan minyak dari Kazakhstan setelah sebelumnya menangguhkan aktivitas pemuatan pada Senin akibat serangan terhadap kapal tanker minyak di terminal Laut Hitam.
Rusia menuduh Ukraina berada di balik serangan terhadap kapal-kapal tanker CPC, namun hingga kini pemerintah Ukraina belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan laporan persediaan minyak mingguan Amerika Serikat. Laporan dari American Petroleum Institute (API) dijadwalkan dirilis Selasa malam waktu setempat, sementara data resmi Energy Information Administration (EIA) akan diumumkan pada Rabu.
Analis memperkirakan perusahaan energi AS menarik sekitar 500 ribu barel minyak mentah dari fasilitas penyimpanan selama pekan yang berakhir pada 17 Juli.
Jika perkiraan tersebut terbukti akurat, maka itu akan menjadi penurunan persediaan selama dua pekan berturut-turut. Sebagai perbandingan, stok minyak AS berkurang 3,2 juta barel pada periode yang sama tahun lalu, sementara rata-rata penurunan selama lima tahun terakhir (2021-2025) mencapai 1,2 juta barel. (Reuters/AI)
Sumber : Admin