Minyak Melambung 3% Dipicu Risiko Gagalnya Perundingan Amerika–Iran
Thursday, February 05, 2026       03:49 WIB
  • Harga minyak melonjak 3%, Brent ke USD69,46 dan WTI ke USD65,14, dipicu risiko gagalnya perundingan AS-Iran.
  • Ketegangan geopolitik meningkat, termasuk insiden militer dan ancaman gangguan pasokan melalui Selat Hormuz yang krusial bagi minyak global.
  • Faktor suplai campuran, stok minyak AS turun dan produksi melemah, sementara impor minyak Rusia ke India terus menurun.

Ipotnews - Harga minyak melesat sekitar 3%, Rabu, setelah laporan media menyebutkan rencana perundingan antara Amerika dan Iran yang dijadwalkan berlangsung Jumat berpotensi gagal.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung USD2,13 atau 3,16% menjadi USD69,46 per barel, demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (4/2) atau Kamis (5/2) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melonjak USD1,93 atau 3,05% menjadi USD65,14 per barel.
Laporan media  Axios  menyebutkan Amerika Serikat menolak permintaan Iran untuk mengubah lokasi perundingan yang direncanakan pada Jumat. Informasi tersebut dikutip dari dua pejabat Amerika.
Pergerakan harga minyak sepanjang pekan ini cenderung berfluktuasi seiring tarik-menarik sentimen antara kabar upaya perundingan untuk meredakan ketegangan AS-Iran dan meningkatnya kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
"Jika terjadi perang terbuka di Iran, pasokan sekitar 3,4 juta barel per hari dari negara tersebut berisiko terganggu. Namun yang lebih signifikan adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak cair global," kata Ajay Parmar, Direktur ICIS .
Dia menambahkan, premi risiko tersebut masih membayangi pasar dan menjadi alasan utama mengapa harga minyak saat ini bertahan di level yang lebih tinggi dibandingkan kondisi fundamentalnya.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah militer Amerika, Selasa, menembak jatuh drone Iran yang disebut "bergerak agresif" mendekati kapal induk AS di Laut Arab.
Dalam insiden terpisah, sekelompok kapal cepat Iran dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman, menurut sumber maritim dan konsultan keamanan. Seorang pejabat regional menyebutkan bahwa AS dan Iran sejatinya dijadwalkan menggelar perundingan di Oman pada Jumat.
Sebagian besar ekspor minyak negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak melewati Selat Hormuz, terutama menuju pasar Asia, sehingga setiap eskalasi ketegangan di kawasan tersebut berpotensi berdampak besar terhadap pasokan global.
Di sisi lain, impor minyak Rusia oleh India merosot sepanjang Januari, melanjutkan tren penurunan sejak Desember. Penurunan ini terjadi ketika kilang-kilang di India mencari sumber alternatif akibat tekanan sanksi Barat serta berlanjutnya perundingan dagang antara Amerika Serikat dan India, berdasarkan sumber dan data yang dikutip  Reuters. 
Terkait pasokan AS, Badan Informasi Energi melaporkan stok minyak mentah Amerika turun pekan lalu seiring badai musim dingin yang melanda wilayah luas negara tersebut. Persediaan minyak mentah AS menyusut 3,5 juta barel menjadi 420,3 juta barel, sementara produksi minyak melemah ke level terendah sejak November 2024.
Penurunan tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat  Reuters  yang memperkirakan kenaikan stok sekitar 489.000 barel. Namun demikian, analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai dampak positif dari penurunan persediaan itu cenderung terbatas karena tidak sebesar pengurangan lebih dari 11 juta barel yang sebelumnya diperkirakan American Petroleum Institute. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

berita terbaru