- Harga minyak naik akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
- Risiko gangguan pasokan energi meningkat.
- Stok minyak AS turun tajam.
Ipotnews - Harga minyak melonjak sekitar 2 persen pada perdagangan Rabu, memperpanjang kenaikan sesi sebelumnya, setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dan perundingan antara Iran dan Amerika belum menunjukkan kemajuan berarti.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melesat USD1,81 atau 1,89 persen menjadi USD97,81 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (3/6) atau Kamis (4/6) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melompat USD2,26 atau 2,41 persen ke posisi USD96,02 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah konflik regional kembali memanas. Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke arah negara-negara tetangganya di kawasan Teluk, Kuwait dan Bahrain. Otoritas Kuwait dan media pemerintah setempat menyebut serangan itu menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm di Iran. Perkembangan terbaru ini memperbesar kekhawatiran pasar bahwa konflik dapat meluas dan mengancam pasokan energi global.
Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, mengatakan peluang tercapainya gencatan senjata saat ini semakin menurun. Menurutnya, arah perkembangan konflik bergerak ke jalur yang tidak diharapkan pasar.
Ketidakpastian juga terlihat dari jalannya perundingan diplomatik antara Teheran dan Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan komunikasi dengan Amerika belum terputus, namun negosiasi belum menghasilkan kemajuan. Kedua pihak masih mempelajari berbagai dokumen yang telah dipertukarkan dalam proses pembicaraan.
Sebelumnya, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Teheran belum memberikan tanggapan kepada Washington dalam beberapa hari terakhir. Pertukaran pesan melalui mediator juga disebut dihentikan sementara hingga syarat Iran terkait penghentian pertempuran di Lebanon dipenuhi.
Di saat yang sama, Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon yang disebut sebagai serangan terdalam dalam 25 tahun terakhir. Konflik tersebut telah berlangsung sejak 2 Maret ketika kelompok Hizbullah melancarkan serangan sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran.
Dalam sebuah wawancara podcast yang dirilis Rabu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Trump juga menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei terlibat dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Pelaku pasar energi menilai lambatnya kemajuan diplomasi menjadi faktor utama yang terus mendorong premi risiko pada harga minyak.
Kepala Pengembangan Bisnis XS.com, Simon-Peter Massabni, mengatakan tren kenaikan harga minyak semakin menguat karena eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung lebih cepat dibandingkan perkembangan upaya diplomatik.
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan terus menjadi hambatan serius bagi arus pasokan energi global dan memberikan tekanan kenaikan yang berkelanjutan pada pasar minyak dunia.
Sentimen positif bagi harga minyak juga datang dari peringatan Badan Energi Internasional (IEA). Lembaga tersebut memperingatkan persediaan minyak global berpotensi mencapai level kritis menjelang puncak permintaan musim panas apabila laju pengurasan stok terus berlanjut seperti saat ini.
Analis LSEG , Emril Jamil, mengatakan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta peringatan IEA mengenai rendahnya persediaan minyak dunia menambah premi risiko pada harga acuan minyak global.
Dari sisi fundamental, data persediaan minyak Amerika turut memperkuat kenaikan harga. Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS merosot 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei.
Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam survei Reuters yang memperkirakan pengurangan sekitar 4 juta barel.
Berkurangnya stok minyak terjadi di tengah kuatnya permintaan ekspor dan aktivitas pengolahan kilang, sementara konflik yang melibatkan Amerika, Israel, dan Iran memasuki bulan keempat.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai penurunan besar persediaan minyak AS kali ini didorong oleh berkurangnya stok komersial maupun cadangan strategis secara bersamaan. (Reuters/AI)
Sumber : Admin