- Brent naik tipis, WTI turun.
- Harapan damai AS-Iran membayangi pasar.
- Stok minyak AS naik, risiko pasokan tetap tinggi.
Ipotnews - Harga minyak variatif, Rabu, dengan Brent menguat tipis sementara WTI melemah, mencerminkan tarik ulur sentimen antara harapan meredanya ketegangan Amerika dan Iran yang berpotensi memulihkan arus pelayaran di Selat Hormuz dengan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 9 sen atau 0,11 persen menjadi USD79,45 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (5/8) atau Kamis (6/8) pagi WIB.
Sebaliknya, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melorot 55 sen atau 0,73 persen jadi USD75,22 per barel.
Sentimen pasar dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah melakukan perundingan dengan Iran sepanjang hari, Selasa. Trump menggambarkan pembicaraan tersebut berlangsung positif, namun tetap memperingatkan bahwa Washington akan bertindak "sangat keras" terhadap Teheran apabila kesepakatan gagal dicapai.
Di sisi lain, Iran membantah adanya perundingan damai dengan Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan Teheran dan Oman telah mencapai kesepahaman mengenai mekanisme pengelolaan Selat Hormuz, sementara pengumuman bersama masih dalam tahap finalisasi.
Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai pasar tetap optimistis namun berhati-hati terhadap perkembangan tersebut. Menurutnya, kesepakatan yang sedang dibahas masih terlihat rapuh seperti berbagai upaya sebelumnya yang tidak bertahan lama.
Pada perdagangan Selasa, laporan mengenai kemajuan upaya mengakhiri konflik memicu kejatuhan harga minyak sekitar 5 persen, sehingga Brent ditutup di bawah USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.
Analis IG menilai persoalan utama dalam negosiasi masih berkaitan dengan apakah Iran akan tetap bersikeras mempertahankan tingkat kendali tertentu atas Selat Hormuz dan apakah Amerika Serikat akan menolak tuntutan tersebut.
Sementara itu, kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turut memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat 2,5 juta barel menjadi 407 juta barel pada pekan lalu. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan penurunan persediaan 1,5 juta barel.
Kenaikan stok terjadi seiring melambatnya aktivitas pengolahan di kilang minyak serta sedikit meningkatnya impor minyak mentah.
Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, mengatakan kontrak WTI mengalami tekanan lebih besar karena persediaan minyak di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, meningkat melebihi perkiraan pasar.
Meski demikian, penurunan harga minyak tertahan oleh meningkatnya risiko gangguan pengiriman di Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat Yanbu, salah satu pelabuhan utama ekspor minyak mentah kerajaan tersebut.
Selain ketegangan di kawasan Teluk, pasar juga mencermati meningkatnya serangan terhadap kapal, pelabuhan, dan terminal ekspor Rusia maupun Ukraina di Laut Hitam yang mengganggu rantai pasok berbagai komoditas global.
Gangguan juga meluas ke Caspian Pipeline Consortium (CPC), jalur utama ekspor minyak mentah Kazakhstan. Menurut sejumlah sumber perdagangan, operasi pipa tersebut beberapa kali dihentikan sepanjang pekan ini akibat masalah keamanan serta terbatasnya ketersediaan kapal tanker.
Dari sisi permintaan, pasar turut memperhatikan kebijakan China yang kembali melonggarkan pembatasan ekspor bahan bakar pada Agustus. Langkah tersebut diperkirakan dapat meningkatkan pasokan produk olahan minyak ke pasar internasional dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi prospek keseimbangan pasar energi global. (Reuters/AI)
Sumber : Admin