Menghadapi Tantangan Keuangan Masa Kini
Wednesday, August 06, 2025       16:18 WIB

Kali ini kita akan membahas hasil survei yang dilakukan oleh Charles Schwab tentang Kekayaan Modern ( Modern Wealth ) pada bulan April dan Mei 2025. Charles Schwab Corporation adalah perusahaan jasa keuangan multi-national dari Amerika Serikat. Survei yang dilakukan oleh Charles Schwab Corp.  bertujuan untuk membantu nasabahnya membangun kekayaan dan mencapai sasaran-sasaran keuangannya .
Survei dilakukan terhadap dua ribu responden dari Amerika Serikat. Belum ada survei sejenis yang pernah dilakukan dengan menyasar responden dari Indonesia, tetapi kami berpendapat bahwa survei di Amarika Serikat dapat dipakai sebagai  proxy  untuk kondisi manajemen kekayaan ( wealth management ) di Indonesia, dengan membuat beberapa penyesuaian.
Beberapa butir penting dari survei tersebut disajikan di bawah ini:
Kekayaan bukanlah semata-mata tentang uang
Responden survei cenderung untuk mendefinisikan arti kekayaan sebagai kesehatan fisik dan mental yang baik, hubungan keluar ga yang berkualitas, pengalaman hidup yang beragam, prestasi dan pencapaian-pencapaian yang berhasil diraih, dan banyaknya waktu luang yang dimilik, dibandingkan dengan semata-mata kekayaan bersih yang dimiliki atau jumlah kepemilikan material yang ada.
Mencapai perasaan nyaman secara keuangan hari ini lebih menantang dibandingkan tahun lalu
Jumlah uang (kekayaan) yang harus dimiliki untuk membuat responden merasa  nyaman secara keuangan  telah meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Perasaan nyaman secara keuangan adalah perasaan yang  lebih berwujud (tangible) . Kita menghubungkan perasaan nyaman secara keuangan dengan berbagai hal dalam hidup sehari-hari, seperti pengalaman akan inflasi yang tinggi ketika kita harus membayar lebih mahal untuk bahan makanan dibandingkan dengan tahun yang lalu; atau ketika kita harus menanggung suku bunga yang lebih tinggi ketika kita mengambil KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) atau KPR (Kredit Perumahan Rakyat), atau ketika kita harus berjuang keras untuk membayar tagihan biaya perawatan kesehatan yang naik membubung tinggi.
Kenaikan biaya-biaya ini adalah pengalaman-pengalaman dalam kehidupan nyata yang akan mengarahkan kita untuk berpendapat bahwa kita membutuhkan lebih banyak uang untuk merasa nyaman secara finansial dan mempertahankan standar hidup kita saat ini - terutama ketika memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan di masa depan seperti jaminan sosial dan menabung untuk masa pensiun.
Apa langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengontrol masa depan keuangan kita?
Meskipun tidak berbeda secara berarti dibandingkan dengan penelitiang-penelitian sebelumnya, para responden dalam survei tahun ini jelas mengidentifikasikan bahwa diperlukan lebih banyak uang untuk dapat dianggap  kaya , dibandingkan dengan tahun lalu. Beberapa alasan yang paling sering dikemukakan mengapa para responden mengindikasikan demikian adalah: tingkat inflasi/ biaya hidup lebih tinggi (73%), kondisi perekonomian lebih buruk (62%), dan suku bunga pinjaman lebih tinggi (43%).
Meskipun kita tidak dapat mengontrol inflasi, kondisi perekonomian, atau suku bunga, tetapi kita dapat mengontrol kehidupan finansial kita dengan cara mengidentifikasi sasaran-sasaran keuangan kita dan menyusun suatu rencana keuangan dan manajemen kekayaan ( wealth management ) untuk mencapainya.
Apakah kondisi perekonomian hari ini (di Indonesia) lebih baik atau lebih buruk dibandingkan tahun lalu masih dapat diperdebatkan, bergantung pada bagaimana mengukur kondisi ekonomi tersebut (dan siapa yang mengukurnya). Meskipun IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) hari ini lebih tinggi dibanding tahun yang lalu, indikator-indikator yang lainnya, seperti inflasi, suku bunga pinjaman dan kemudahan mendapatkan pinjaman, dan angka pengangguran yang sangat tinggi masih membuat banyak warga Indonesia berpendapat bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini memburuk.
Dalam hal suku bunga pinjaman (KPR), kita semua tahu bahwa banyak penduduk Indonesia yang belum memiliki rumah. Tetapi, berapa banyak rumah baru yang dibutuhkan (untuk dibangun) harus dilihat dari dua sisi: kebutuhan dan daya beli. Dengan kondisi angka pengangguran yang sangat tinggi, kebutuhan akan rumah yang tinggi tidak dengan serta merta mendorong kebutuhan akan kredit KPR yang melonjak, karena rakyat yang membutuhkan rumah ternyata tidak mempunyai daya beli (akibat dari tidak mendapatkan pekerjaan).
Generasi muda sekarang lebih banyak yang telah memiliki rencana keuangan
Satu hal yang menarik dari Survei Kekayaan Modern ( Modern Wealth Survey ) tahun 2025 oleh Schwab adalah bahwa di US, 39% dari Gen Z telah menentukan sasaran-sasaran keuangan yang ingin dicapainya dan telah mendokumentasikannya dalam suatu Rencana Keuangan ( Financial Plan ) yang formal, dibandingkan dengan generasi sebelumnya ( baby boomers ). Sebagai tambahan referensi, yang dimaksud dengan Gen Z adalah mereka yang terlahir pada tahun 1997 sd 2012, dan generasi  baby boomers  adalah mereka yang terlahir pada tahun 1946 sd 1964.
Di Indonesia, seandainya survei sejenis juga dilakuan di sini, kemungkinan besarnya adalah kita akan mendapatkan bahwa sebagian generasi muda kita juga telah mulai menyusun rencana keuangan ( financial plan ), terutama mereka yang bermukim di kota-kota besar di Indonesia di mana akses terhadap informasi sudah sangat umum. Walau pun demikian, tentu saja kami belum berani untuk mengatakan bahwa jumlah Gen Z yang telah memiliki perencanaan keuangan telah sama besar dengan 39% seperti di US (di mana perencanaan keuangan sudah lebih umum diterima).
Dugaan saya, akses terhadap informasi yang lebih luas, adanya pilihan perencanaan keuangan yang murah dibandingkan dengan generasi sebelumnya, telah membuat hal seperti itu menjadi mungkin di Indonesia. Sumberdaya dan sarana untuk perencanaan keuangan telah semakin terjangkau dan murah- atau bahkan gratis (misalnya perencanaan keuangan oleh IPOTNEWS).
Pergeseran yang terjadi dari sebelumnya tidak memiliki rencana keuangan, atau rencana manajemen kekayaan dalam bentuk apa pun, menjadi rencana keuangan formal yang memasukkan sasaran-sasaran keuangan yang ingin dicapai, tentu saja menjadi hal yang sangat menggembirakan. Kita juga tahu dari hasil survei tahun ini bahwa seseorang yang memiliki rencana keuangan akan lebih mungkin untuk mengatakan bahwa saya sekarang sudah makmur ( wealthy ), atau mengatakan bahwa saya sudah berada pada jalur yang tepat untuk menjadi kaya, dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai rencana keuangan. Para responden  survei  juga lebih berkecenderungan untuk berkata bahwa mereka hidupnya telah lebih nyaman secara keuangan.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS