Mengelola Risiko dan Membangun Kekayaan
Thursday, December 18, 2025       17:00 WIB

Sekarang kita akan membahas tentang bagaimana mengelola risiko dan membangun kekayaan. Membangun kekayaan, yang bukan diperoleh melalui warisan atau pun menang lotere, tentunya membutuhkan kerja keras, hidup hemat  di bawah  kemampuan, dan keberanian mengambil risiko.
Kekayaan harus dibangun sedikit demi sedikit dalam waktu yang cukup lama. Keberanian mengambil risiko di sini berarti bahwa kita harus berani berinvestasi, dengan adanya risiko mengalami kerugian jika investasi kita gagal.
Jadi, keberanian mengambil risiko bukan berarti bahwa semua risiko akan dihadapi tanpa perhitungan, tetapi selalu hanya mengambil risiko yang terukur dengan baik ( calculated risk ). Berani mengambil risiko tidak berarti bahwa kita tidak pernah gagal, tetapi berarti bahwa kita berhasil mengelola risiko yang ada sehingga semua risiko yang mungkin terjadi sudah kita perhitungkan terlebih dahulu.
Tetapi, sebelum mulai berinvestasi, kita pun harus terlebih dahulu mengumpulkan cukup banyak 'modal awal' investasi, yang dapat kita peroleh dengan jalan menabung ( savings ). Jadi, Langkah pertama untuk membangun kekayaan harus dimulai dengan menabung. Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa kita dapat membangun kekayaan hanya dengan menabung saja.
Menabung hanyalah langkah awal saja. Selanjutnya, kita harus berinvestasi. Karena investasi selalu mengandung risiko, maka kita juga harus belajar untuk mengelola risiko pada waktu kita membangun kekayaan itu.
Menabung: Langkah Awal dalam Membangun Kekayaan
Kita telah banyak membahas tentang pentingnya menabung. Menabung itu sangat penting, bahkan para perencana keuangan akan menempatkan tindakan menabung pada urutan pertama dalam Perencanaan Keuangan Pribadi ( Personal Financial Planning ). Pada situasi normal, jumlah uang yang harus disimpan sebagai tabungan, pada umumnya disarankan oleh para perencana keuangan sebesar 6 (enam bulan) pengeluaran rutin kita.
Artinya, jika terjadi sesuatu pada diri kita, misalnya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), maka kita masih memiliki cukup uang (dana likuid) tanpa harus melikuidasi aset-aset kita yang lain, seperti misalnya aset investasi Dana Pensiun (investasi jangka panjang).
Investasi dalam Aset Keuangan ( Financial Assets )
Setelah kita menempatkan dana yang cukup sebagai tabungan, dalam bentuk Dana Cadangan ( Reserve Fund ) atau Dana Darurat ( Emergency Fund ), kita lalu menjadi siap untuk mengambil langkah selanjutnya untuk mencapai cita-cita keuangan kita.
Sebagai perencana keuangan independen, kami selalu menganjurkan kepada para pembaca IPOTNEWS untuk memiliki aset investasi jangka panjang berupa aset-aset riil ( non-financial assets ), seperti emas dan properti, di samping aset-aset keuangan ( financial assets ) yang berupa surat-surat berharga termasuk unit penyertaan Reksadana Konvensional dan Reksadana Bursa (ETF).
Aset-aset keuangan, walau pun memiliki banyak keunggulan, seperti (a) nilainya dapat diketahui setiap saat, (b) mudah dipecah-pecah menjadi jumlah yang lebih kecil, (c) mudah dipindah-tangankan, dan (d) mudah dilikuidasi menjadi uang tunai. Namun aset keuangan memiliki satu kelemahan utama yaitu bahwa nilai asset keuangan dapat turun drastis dalam sekejap pada saat kondisi ekonomi menjadi buruk.
Misalnya, aset keuangan berupa instrumen berpendapatan tetap (obligasi) akan turun nilainya pada waktu suku bunga naik, sementara instrumen ekuitas akan turun nilainya ketika kesempatan berinvestasi sulit diperoleh.
Untuk mengatasi masalah itu, kita harus melakukan diversifikasi risiko tidak hanya di dalam aset keuangan itu sendiri, tetapi juga diversifikasi ke dalam aset non-keuangan ( real assets ).
Mengelola Risiko Investasi
Dua tipe aset riil ( non-financial assets ) yang sering kami anjurkan untuk dimiliki oleh setiap pembaca setia IPOTNEWS adalah emas batangan dan tanah-bangunan (properti). Emas batangan kami anjurkan jika Anda belum memiliki dana yang cukup untuk membeli aset tanah dan bangunan (properti) yang lebih mahal harganya. Memiliki aset tanah dan bangunan (rumah tinggal) juga kami anjurkan kepada para pembaca setia IPOTNEWS, terutama  untuk tujuan diversifikasi risiko .
Sampai di sini, Anda mungkin bertanya mana yang lebih baik, membeli tanah bangunan (rumah tinggal) atau menyewa saja? Pertanyaan ini telah menjadi pemikiran banyak orang, karena fakta di lapangan bahwa harga properti tidak seperti dulu lagi (yang cenderung naik terus).
Kami telah menjawab pertanyaan ini dalam artikel yang kami tulis sebelumnya yang berjudul ' Mana yuang Lebih Baik Membeli atau Menyewa Saja? '. Kami memandang masalah membeli atau menyewa properti ini dari empat sudut pandang ( perspektif financial planner independen ), yaitu: 1) Jumlah uang yang ada, 2) Jiwa wiraswasta ( entrepreneurship ), 3) Faktor usia, dan 4) Kesempatan berinvestasi yang ada.
Para Perencana Keuangan ( Financial Planner ) yang lain, dalam nasehatnya untuk mengelola risiko dan membangun kekayaan, mungkin akan banyak menganjurkan investasi ke dalam aset-aset keuangan ( financial assets ) saja. Ini tidak salah, terutama jika aset investasi kita masih terbatas jumlahnya.
Sekarang, kita akan membahas tentang bagaimana mengelola risiko dan membangun kekayaan melalui investasi pada aset-aset keuangan ( financial assets ):
  • Para pembaca setia IPOTNEWS tentu sudah tahu, bahwa sebagai investor, mereka harus mengambil risiko untuk menjadi kaya.
  • Risiko melekat erat dalam setiap kegiatan berinvestasi, dan risiko tidak dapat sepenuhnya dihilangkan.
  • Anda dapat mengurangi risiko portofolio dengan cara mendiversifikasikan investasi Anda pada aset-aset (instrumen-instrumen) yang berisiko rendah, berisiko menengah, dan berisiko tinggi.
  • Anda akan memiliki toleransi risiko ( risk tolerance ) yang lebih besar ketika usia Anda masih muda, yang berarti bahwa Anda dapat berinvestasi pada instrumen-instrumen yang lebih berisiko ketika usia Anda masih muda.
  • Ketika usia Anda telah semakin tua, Anda wajib meninjau ulang portofolio investasi Anda dan melakukan penyesuaian ( rebalancing ) pada komposisi investasi Anda.
  • Risiko adalah komponen kunci dalam membangun kekayaan, dan imbal hasil ( return ) yang tinggi selalu datang bersamaan dengan kemungkinan mengalami kerugian yang lebih besar ( risk-return trade off ).
  • Banyak investor yang telah paham bahwa jika seseorang ingin mendapatkan imbal hasil ( return ) yang lebih tinggi, maka ia harus mengambil risiko yang lebih besar.
  • Tetapi, mengambil risiko yang lebih besar tidak berarti kita boleh mengambil risiko sesuka hati kita. Hal yang harus dilakukan oleh investor adalah mengambil risiko yang terukur ( calculated risk ), dan secara teratur melakukan  rebalancing  aset investasi Anda, untuk menjaga keseimbangan bobot risiko aset-aset yang dimiliki pada waktu mencari imbal hasil ( return ) yang lebih besar.

Apakah yang Dimaksud dengan Risiko?
Risiko tidak dapat dihindarkan dari setiap investasi. Sebagai seorang pemodal ( investor ), Anda akan berhadapan dengan banyak tipe risiko. Beberapa jenis risiko yang umum adalah:
  • Risiko Bisnis: Ini adalah risiko internal mau pun risiko eksternal yang berpengaruh buruk terhadap keuntungan ( profit ) Perusahaan, termasuk di antaranya masalah ekonomi, bencana alam, dan efisiensi operational Perusahaan.
  • Risiko Nilai Tukar: nilai tukar mata uang yang bergerak naik turun dengan tajam dapat mempengaruhi nilai investasimu.
  • Risiko Inflasi: Ini adalah risiko naiknya harga-harga yang dapat mengurangi tingkat laba dari investasimu.
  • Risiko Suku Bunga: Ini adalah risiko kerugian kalau suku bunga berubah.
  • Risiko Likuiditas: Ini adalah risiko yang dihadapi ketika kita tidak dapat menjual investasi kita dengan cepat (tanpa menurunkan nilai jual secara tidak wajar) pada saat kita membutuhkan uang tunai.
  • Risiko Pasar: Ini adalah risiko di mana kita mengalami kerugian berupa turunnya nilai investasi kita akibat dari perubahan pada harga pasar secara keseluruhan.

Dalam perencanaan keuangan pribadi, risiko tidak selalu berupa turunnya nilai investasi. Risiko yang dihadapi, dan harus selalu diperhitungkan, termasuk di antaranya adalah: (1) risiko hidup lebih lama daripada jumlah harta yang terkumpul, (2) risiko inflasi yang mengakibatkan turunnya daya beli uang yang dimiliki, dan (3) (khusus bagi pensiunan yang menyimpan seluruh Dana Pensiunnya di dalam aset keuangan berupa instrument ekuitas dan hidup mengandalkan penarikan Dana Pensiun saja), risiko urutan terjadinya imbal hasil ( sequence of return risk ).
Timbal Balik Risiko dan Imbalan ( Risk-Reward Trade-off )
Sebagai pemodal yang berinvestasi pada aset-aset keuangan, Anda telah tahu bahwa Anda harus bersedia untuk mengambil risiko yang lebih besar jika Anda ingin mendapatkan imbal hasil ( return ) yang lebih besar. Hal ini dikenal sebagai prinsip timbal balik antara risiko dan imbalan ( risk reward trade off ). Berapa banya risiko yang Anda ambil bergantung pada beberapa faktor, termasuk di antaranya sasaran-sasaran keuangan yang Anda hendak Anda capai.
Usia Anda saat ini juga mempengaruhi besarnya risiko yang dapat Anda ambil sehubungan dengan keputusan investasi yang Anda ambil. Pemodal berusia muda, dengan jangka waktu investasi ( investment horizon ) yang lebih lama, akan mempunyai kaparitas yang lebih besar untuk menanggung risiko, terlepas dari besarnya toleransi risiko ( risk tolerance ) yang dia miliki.
Mengelola Risiko dan Membangun Kekayaan
Di dalam setiap instrumen investasi keuangan terkandung risiko, baik itu berupa instrumen surat hutang atau pun berupa instrumen surat saham (ekuitas). Walau pun Anda tidak dapat menghindari risiko keuangan yang ada dalam portofolio investasi Anda, selalu terdapat cara-cara di mana Anda dapat mengelola dan mengurangi risiko dalam portofoliomu dan meningkatkan imbal hasil ( return ) investasi Anda.
Cara yang terbaik untuk mengelola risiko investasi Anda adalah dengan (1) mengetahui sasaran keuang yang ingin Anda capai, (2) mengetahui bagaimana risiko dan imbalan ( risk and reward ) bekerja, dan (3) memahami toleransi risiko yang Anda punya.
Anda dapat mendiversifikasi portofolio investasi Anda atas beragam investasi aset-aset Keuangan, mulai dari aset keuangan yang berisiko rendah hingga aset keuangan yang berisiko tinggi
  • Aset Keuangan yang berisiko rendah: tabungan dan deposito bank, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan unit penyertaan Reksadana Pasar Uang ( Money Market ). Imbalan yang diterima pemodal adalah nilai investasi yang aman dan likuiditas yang terjamin, tetapi dengan risiko pertumbuhan nilai investasi yang sangat kecil.
  • Aset Keuangan yang berisiko sedang: suatu portofolio yang merupakan gabungan dari saham-saham dan obligasi-obligasi dengan peringkat investasi, atau unit penyertaan reksadana campuran yang dikelola oleh Manajer Investasi berpengalaman dan bereputasi baik. Portofolio ini merupakan gabungan antara stabilitas dan potensi pertumbuhan.
  • Aset Keuangan yang berisiko tinggi: portofolio terdiri dari beberapa posisi dalam aset-aset keuangan yang terkonsentrasi pada saham-saham, atau dalam unit penyertaan reksadana bersifat ekuitas. (Mengambil posisi dalam saham-saham Perusahaan yang tidak terdaftar di Bursa Efek Indonesia tidak kami sarankan karena pertimbangan risiko likuiditas). Walau pun posisi yang terkonsentrasi pada beberapa saham tertentu dapat memberikan potensi keuntungan yang besar, kerugiannya adalah tingkat risiko yang terlalu besar dalam jangka pendek.

Para pemodal yang masih berusia muda dapat berinvestasi seluruhnya pada aset bersifat ekuitas, karena para pemodal berusia muda pada umumnya mempunyai toleransi risiko yang tinggi, dan juga mempunyai jangka waktu investasi yang panjang.
Hal ini penting karena volatilitas pasar dapat mengakibatkan perusahaan yang bagus sekali pun dapat jatuh harganya. Hanya pemodal yang memiliki jangka waktu investasi ( investment horizon ) yang panjang yang akan dapat muncul kembali ( recover ) setelah diterpa volatilitas harga yang tinggi.
Perencana Keuangan ( Financial Planner ) yang baik akan menganjurkan Anda untuk meninjau kembali dan menyesuaikan portofolio investasi Anda ketika situasi keuangan Anda berubah, untuk memastikan bahwa portofolio Anda tetap sesuai dengan sasaran keuangan jangka pendek dan sasaran keuangan jangka panjang yang ingin Anda capai.
Perlu juga diingat bahwa kesediaan Anda untuk mengambil risiko dapat berubah sejalan dengan bertambahnya usia Anda, berkurangnya jangka waktu investasi yang ada, dan semakin dekatnya masa pensiun.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS