Mengapa Orang Sering Beranggapan Memiliki Keterampilan Keuangan yang Baik (Namun Kenyataannya Lain)
Monday, March 30, 2026       17:06 WIB

Pada artikel sebelumnya yang berjudul  'Kesenjangan Antara Persepsi Keahlian Finansial Yang Dimiliki Vs Kenyataan Finansial Yang Buruk'  kita telah mempelajari beberapa hal: (1) banyak orang yang menganggap bahwa dirinya memiliki ketrampilan keuangan yang tinggi ( overestimate their financial savviness ), (2) banyak orang-orang cerdas ( intelligent ) yang melakukan kesalahan yang mahal karena adanya salah persepsi bahwa kecerdasannya dalam satu bidang secara langsung juga akan berimbas pada kemampuannya dalam mengambil keputusan keuangan, (3) tanda-tanda yang paling jelas bahwa sesorang telah  over-estimate  ketrampilan keuangannya adalah (i) tingkat utangnya terus naik secara konsisten, dan (ii) tingkat Dana Cadangan (Reserve Fund) tidak bertambah atau bahkan terus menurun, (4) untuk menjembatani kesenjangan antara keyakinan (persepsi) ketrampilan keuangan dan kenyataan keuangan yang ada, kita harus terus menerus mengedukasi diri kita atas berbagai topik mengenai keuangan yang belum kita ketahui.
Hal-hal yang seringkali merupakan penyebab seseorang melakukan kesalahan bahwa dirinya memiliki ketrampilan keuangan ( financial savviness ) yang baik, padahal sesungguhnya tidak ( mismatch between perceived and actual financial skills ), adalah:
1. Kurangnya Pendidikan Keuangan
Sejumlah besar anak muda sekarang mempunyai gelar sarjana dalam berbagai bidang, tetapi mereka sedikit sekali (jarang) yang pernah mengikuti program edukasi ketrampilan keuangan. Akibatnya timbul rasa percaya diri berlebihan ( over-confidence ) yang semu, bahwa gelar pendidikan tinggi yang dimilikinya (misalnya sebagai dokter, insinyur, atau sarjana hukum, dan lain-lain) akan secara otomatis juga berimbas pada kemampuannya dalam mengambil keputusan keuangan. Padahal, ketrampilan keuangan itu harus diperoleh melalui edukasi dan praktek secara langsung ( studied and learned ).
2. Adanya bias-bias kognitif
Orang seringkali salah memperkirakan ( under-predict ) biaya-biaya yang dibutuhkan dan resiko-resiko atas keputusan keuangan yang diambilnya, sehingga mengakibatkan timbulnya harapan yang tidak realistik akan kesehatan keuangannya. Sebagai contoh, pada waktu menyusun Perencanaan Keuangan ( Financial Planning ), orang sering menaksir bahwa pekerjaannya cukup aman dan gajinya akan naik terus secara berkala. Pada kenyataannya sekarang ini, pekerjaan yang dulu dapat dilakukan dengan berbekal pengetahuan dari bangku kuliah, seringkali sudah sangat berbeda dan harus ditangani dengan cara-cara yang sama sekali baru.
3. Adanya perbedaan pendidikan dan rasa percaya diri
Perbedaan antar generasi (generasi muda vs generasi sebelumnya) sering menunjukkan adanya perbedaan tingkat keyakinan dalam mengambil keputusan mengenai masalah-masalah keuangan. Sebagai contoh, generasi muda saat ini cenderung menganggap bahwa berutang (ke bank) sebagai sesuatu yang normal. Sementara generasi sebelumnya cenderung akan menghindari utang sedapat mungkin.
Atau, generasi muda saat ini sudah tidak tabu lagi untuk berutang ke bank (konvensional), sementara generasi sebelumnya mungkin masih berpikir bahwa berutang ke bank tidak baik. Bahkan, menyimpan uang di bank (konvensional) dan mendapatkan bunga, adalah riba yang haram hukumnya.
Sebaliknya, berjual-beli saham ( trading stock ) dianggap tidak haram karena tidak melibatkan bunga. Tetapi sesungguhnya, berdagang saham ( trading stock ) jauh lebih beresiko dibandingkan dengan menyimpan deposito di bank.
4. Adanya Ilusi Positif ( Positive illusion )
Banyak individu yang berpegang teguh pada kepercayaan (yang salah) tentang tanggung-jawab keuangan yang harus ditanggungnya, yang dapat berakibat pada perasaan aman yang palsu ( false sense of security ). Ambil contoh, seseorang mengambil KPR ( mortgage ) berbunga mengambang ( floating rate ) dan berjangka waktu 25 tahun di suatu Bank BUMN .
Walau pun saat ini bunga bank relatif stabil, tetapi tidak ada jaminan bahwa utang KPR ( mortgage ) yang diambilnya akan tetap sama sampai utang itu lunas. Faktor-faktor ini seringkali menyumbang pada kepercayaan bahwa ia memiliki ketrampilan keuangan yang baik, walau pun sebenarnya tidak.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS