Mengapa Banyak Pekerja Bergaji Besar Tetap Hidup dari Gaji Bulan Ini ke Gaji Bulan Berikutnya
Thursday, December 04, 2025       16:40 WIB

Bank of America Institute melaporkan dalam temuannya yang terbaru bahwa pada tahun 2025, hampir 24% dari seluruh rumah tangga ( households ) di AS yang disurvei hidup hanya mengandalkan gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya ( living paycheck to paycheck ).
Hidup mengandalkan gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya didefinisikan oleh  Bank of America Institute  sebagai rumah tangga yang menghabiskan 95% atau lebih dari penghasilannya untuk belanja keperluan sehari-hari ( necessities ) seperti biaya perumahan, biaya makan sehari-hari, gas, utilititas, internet, transportasi publik, dan perawatan anak ( childcare ).
Hidup hanya mengandalkan gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya membuat rumah-tangga hanya memiliki sedikit sekali (atau bahkan tidak ada sama sekali) dana yang tersisa untuk ditabung (sebagai  Reserve Fund  atau  Retirement Fund ) atau untuk belanja barang (atau jasa) tidak wajib ( discretionary goods or nice-to-have purchases ).
Kita tidak memiliki data statistik mengenai kondisi keuangan rumah-tangga di Indonesia saat ini. Walau pun demikian, kami berharap bahwa kondisi keuangan rumah-tangga di Indonesia tidak terlalu buruk jika dibandingkan di AS.
Saat ini kami ingin menyoroti situasi keuangan di mana seorang pekerja yang telah memiliki gaji yang cukup besar (katakanlah beberapa kali di atas UMR = Upah Minimum Regional), tetapi ternyata pekerja itu tetap masih harus hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya.
Mengapa para pekerja hidup  Paycheck to Paycheck ?
Ada beberapa alasan yang sering dikemukakan orang untuk menjelaskan situasi ekonomi rumah-tangganya yang harus hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan depan, yaitu: (1) Naiknya biaya hidup sehari-hari, (2) Daya beli dari upah pekerja yang tidak bertambah (relatif terhadap angka inflasi), dan (3) Adanya beban utang yang cukup besar.
Kami ingin menambahkan dua alasan lainnya sehingga seorang pekerja yang telah menerima gaji cukup besar (beberapa kali nilai UMR) masih sering terjebak pada kondisi yang buruk dan harus hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya. Alasan pertama adalah faktor eksternal (di luar kontrol pekerja itu), yaitu (4) Adanya ketidakpastian ekonomi. Alasan kedua adalah faktor internal (di dalam kontrol pekerja itu), yaitu (5) Adanya inflasi gaya hidup ( lifestyle inflation ).
Faktor eksternal adalah kondisi ekonomi Indonesia yang serba tidak pasti belakangan ini, seperti: beban akibat pandemi yang baru selesai, dan pengaruh deflasi ekonomi yang menyusulnya (deflasi adalah kebalikan dari inflasi, yaitu harga barang atau jasa yang mengalami penurunan harga), telah menyebabkan berbagai gejolak dalam keuangan keluarga, seperti penurunan pendapatan yang parah (banyak pekerja yang dirumahkan atau bahkan terkena PHK akibat dari deflasi sehingga perusahaannya tidak dapat menjual barang yang diproduksi).
Berbeda dengan faktor eksternal yang berada di luar kontrol pekerja, pekerja yang hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya ada pula yang disebabkan faktor internal dalam diri pekerja itu, yaitu karena adanya inflasi gaya hidup ( lifestyle inflation ).
Misalnya, seorang penyelia ( supervisor ) dipromosikan menjadi Asisten Manajer dengan tambahan kenaikan gaji beberapa juta rupiah tetapi ia belum mendapatkan fasilitas mobil dinas. Akan tetapi, karena ia merasa bahwa karirnya sudah maju ke level manajerial, gaya hidupnya juga mulai berubah. Untuk pergi pulang kantor dia tidak mau menggunakan sepeda motor lagi, tetapi membeli mobil baru secara kredit ( leasing ) kepada perusahaan pembiayaan.
Akibatnya, adanya promosi karir tidak menambah jumlah dana yang dapat disimpan ( Reserve Fund ), atau menambah Dana Pensiun ( Retirement Fund ) yang dapat disimpan untuk masa depan yang lebih nyaman. Seringkali malah penambahan penghasilan yang terjadi masih lebih kecil daripada peningkatan gaya hidup yang menyertai promosi itu.
Peningkatan gaya hidup ( lifestyle ) yang lebih cepat dari tingkat pendapatan seseorang ini disebut sebagai inflasi gaya hidup ( lifestyle inflation ).
Survey Goldman Sachs Asset Management di AS
Menurut  Retirement Survey & Insights Report 2025  yang dilakukan oleh Goldman Sachs Asset Management, selain 57% dari rumah-tangga yang berpenghasilan kurang dari USD50.000 per tahun hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya (cukup masuk di akal), ternyata ada 40% dari rumah-tangga yang memiliki penghasilan lebih besar daripada USD 300.000 per tahun juga masih hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutny (kenyataan yang mengejutkan).
Dari survei yang dilakukan oleh  Goldman Sachs Asset Management  tersebut, dapat diketahui bahwa:
  • Mempunyai gaji yang besar tidak menjamin terciptanya stabilitas keuangan
  • Dari seluruh rumah tangga yang menjadi responden surve, 40% dari rumah tangga berpenghasilan USD 300,000 atau lebih, ternyata masih hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya ( living paycheck to paycheck ).
  • Sebagai akibat dari adanya berbagai prioritas keuangan yang saling berkompetisi untuk mendapatkan sumber daya (dana), seorang pekerja yang berpenghasilan tinggi pun seringkali hanya dapat menyimpan uang tabungan Dana Darurat ( Reserve Fund ) atau Dana Pensiun ( Retirement Fund ) yang lebih sedikit dari seharusnya.
  • Ketika kita berbicara tentang hidup hanya dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya, kita seringkali berpikir bahwa hal itu hanya terjadi pada rumah-tangga kelas menengah-bawah saja yang hidup pas-pasan. Tetapi,  Goldman Sachs' Retirement Survey and Insights Report  membantah anggapan tersebut.

Data temuan dari survei itu menunjukkan bahwa bahkan rumah-tangga berpenghasilan besar sekali pun tidak aman dari masalah keuangan, sekaligus menggarisbawahi pentingnya perencanaan keuangan untuk semua tingkat pendapatan.
Bagaimana menghapus kebiasaan buruk  living paycheck to paycheck 
Di Indonesia, para pekerja yang berpenghasilan besar pun (beberapa kali di atas Upah Minimum Regional) dapat terjebak untuk hidup hanya dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya  jika biaya-biaya tetap (non-discretionary expenses) telah memakan porsi yang terlalu besar dari pendapatan (gaji).  Seringkali, para pekerja bahkan tidak tahu ke mana uang gajinya dibelanjakan.
Untuk menghapus kebiasaan buruk untuk hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya, maka para pekerja harus pertama-tama (1) Ia harus tahu ke mana semua uang gajinya pergi, kemudian (2) Ia harus membuat anggaran belanja ( budget ) yang baik setiap bulan, dan terakhir (3) Ia harus mempunyai target untuk menyimpan tabungan Dana Darurat ( Reserve Fund ) dan Dana Pensiun ( Retirement Fund ) untuk masa depan yang lebih pasti dan nyaman.
Resiko tersembunyi dari gaji yang besar (yang sering disadari oleh pekerja)
Mempunyai gaji yang besar tidaklah secara langsung berarti bahwa seorang pekerja telah mencapai tingkat keamanan keuangan ( financial security ) yang cukup. Kesalahan terbesar para pekerja bergaji besar ini adalah tidak tahu ke mana semua uang gajinya dibelanjakan. Banyak dari para pekerja bergaji tinggi ini yang hanya kira-kira saja mengetahui ke mana uang gajinya dibelanjakan, atau hanya menyimpan uang tabungan tanpa target jumlah simpanan yang jelas.
Akibatnya, tanpa disadarinya, suatu saat jumlah belanja wajib ( non-discretionary expenses ) telah menjadi terlalu besar dibandingkan dengan jumlah penghasilannya, dan pekerja ini pun akhirnya terjebak untuk hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya (sambil berharap bahwa gaji yang diterimanya segera bertambah untuk bisa keluar dari situasi keuangan sekarang).
Persoalannya adalah, bahwa biaya-biaya tetap yang wajib ( non-discretionary expenses ) dikeluarkan ini, seperti biaya angsuran KPR, biaya cicilan mobil, atau biaya les musik untuk anak-anak, akan membuat penghasilan kita menjadi tidak fleksibel jika pada suatu saat penghasilan itu turun, atau muncul pengeluaran lain yang sangat mendesak.
Memutus lingkaran  living payceck to paycheck 
Fakta (yang mengejutkan) bahwa bahkan para pekerja yang mempunyai gaji besar ( high income earners ) banyak yang terjebak ke dalam lingkaran hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya membuka mata kita atas masalah yang lebih besar: hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya bukan hanya masalah yang dihadapi oleh pekerja yang ada di kelas ekonomi bawah yang hidup pas-pasan saja.
Para pekerja yang telah mempunyai penghasilan besar pun membutuhkan Perencanaan Keuangan ( Financial Planning ) sama seperti semua pekerja yang lain.
Banyak dari para pekerja bergaji besar menghadapi tantangan keuangan yang menghambat kemajuan mereka sendiri, seperti: (a) menabung suatu jumlah yang tidak tentu setiap bulan ( Reserve Fund ), atau (b) menyimpan Dana Pensiun ( Retirement Fund ) yang tidak cukup untuk hidup lebih nyaman pada masa pensiun.
Tanpa adanya tabungan Dana Cadangan ( Reserve Fund  atau  Emergency Fund ) yang memadai, maka ketika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, seperti misalnya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), mobil masuk bengkel karena tabrakan atau mogok, atau ada keluarga yang jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, maka kondisi keuangan pun akan cepat berubah dari baik menjadi buruk atau sangat buruk.
Hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya tidak selalu hanya karena penghasilan (gaji) kita yang terlalu kecil. Mungkin yang ada butuhkan sekarang hanyalah mengubah strategi pengelolaan dana (gaji) yang Anda terima setiap bulan, seperti: (1) menyimpan Dana Cadangan (Reserve Fund) yang cukup, (2) mengevaluasi pengeluaran (belanja) yang kita lakukan, dan (3) menyelaraskan gaya hidup ( life style ) kita dengan sasaran keuangan jangka panjang yang ingin kita capai.
Ingatlah selalu bahwa memperoleh penghasilan (gaji) yang besar tidak secara langsung berarti hidup kita akan menjadi lebih mudah dan stabil (aman) secara keuangan.
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS