- Rupiah ditutup melemah 127 poin (0,71%) ke level Rp17.966 per dolar AS pada Rabu (3/6) akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS dan kekhawatiran inflasi global.
- Ketegangan geopolitik meningkat setelah konflik Israel-Iran meluas, termasuk serangan di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia, sehingga memicu spekulasi suku bunga The Fed akan tetap tinggi lebih lama.
- Sentimen domestik juga menekan rupiah, seiring inflasi Mei 2026 naik menjadi 0,28% (mtm) dan surplus neraca perdagangan April menyusut menjadi USD89,1 juta, mencerminkan tekanan terhadap daya beli dan ketahanan eksternal Indonesia.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (3/6), seiring meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global akibat lonjakan harga energi.
Mengutip data Bloomberg pada Rabu pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp17.966 per dolar AS, melemah 127 poin atau 0,71% dibandingkan penutupan perdagangan Selasa (2/6) yang berada di posisi Rp17.839 per dolar AS. Level penutupan hari ini memecahkan rekor penutupan terendah sepanjang masa yang dicatat pada Jumat (29/5) di level 17.881.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, penguatan indeks dolar AS pada Rabu dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, investor terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut ketika Israel masih mempertahankan operasi militernya di Lebanon selatan, sementara Iran menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.
"Di saat yang sama, pasukan Amerika Serikat dilaporkan melakukan serangan di Pulau Qeshm, Iran, yang berada di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Ia menambahkan, putaran pembicaraan antara Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung pada Rabu, namun ketidakpastian masih membayangi proses negosiasi antara Washington dan Teheran. Meskipun Iran dan Amerika Serikat pekan lalu menyatakan telah mencapai kesepakatan kerangka kerja sementara untuk menghentikan konflik, kesepakatan tersebut hingga kini belum memperoleh persetujuan resmi.
Media Iran melaporkan bahwa Teheran belum melakukan komunikasi dengan Washington selama beberapa hari terakhir sehingga memunculkan spekulasi bahwa proses negosiasi mengalami kebuntuan. Namun demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan masih terus berlangsung dan tetap optimistis kesepakatan dapat dicapai.
Ibrahim menilai, kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak telah memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve. "Saat ini pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni, namun pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini," sebut Ibrahim.
Data ekonomi AS yang dirilis Selasa menunjukkan jumlah lowongan kerja pada April meningkat di luar perkiraan pasar. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam periode yang lebih panjang.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah indikator ekonomi AS yang akan dirilis pada Rabu, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, survei sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik, menjelang publikasi data nonfarm payrolls pada Jumat mendatang.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan sentimen terhadap rupiah memburuk setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28% secara bulanan, meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13%. Kenaikan tersebut tercermin dari peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026. Sementara itu, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,08%.
Menurutnya, sejumlah faktor yang memengaruhi inflasi Mei 2026 antara lain harga pangan bergejolak (volatile food), harga energi, harga yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Selain itu, neraca perdagangan barang Indonesia pada April 2026 kembali mencatat surplus sebesar USD89,1 juta, sehingga memperpanjang tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus tersebut terutama ditopang oleh perdagangan nonmigas yang membukukan surplus sebesar USD3,53 miliar.
"Namun demikian, secara statistik surplus perdagangan April mengalami penyempitan yang cukup tajam. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan terhadap daya beli dan ketahanan eksternal Indonesia di tengah terganggunya pasokan global akibat blokade Selat Hormuz oleh pasukan Garda Revolusi Iran yang hingga kini belum menunjukkan kejelasan mengenai waktu pembukaannya kembali," jelas Ibrahim.(Adhitya/AI)
Sumber : admin