- Mayoritas ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada Rabu (22/7), menandai kenaikan keempat secara berturut-turut.
- Keputusan diperkirakan didorong oleh upaya menjaga stabilitas rupiah, meningkatnya inflasi, serta ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah dan prospek kenaikan suku bunga The Fed.
- Meski demikian, sekitar 40% ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75% karena nilai tukar rupiah dinilai mulai stabil setelah serangkaian kenaikan suku bunga sebelumnya.
Ipotnews - Mayoritas ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur yang berakhir Rabu (22/7). Jika terealisasi, langkah tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga keempat secara berturut-turut di tengah fokus bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Berdasarkan survei Reuters terhadap 33 ekonom yang dilakukan pada 13-20 Juli, sebanyak 20 responden atau lebih dari 60% memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 6,00%. Sementara itu, suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) diperkirakan naik menjadi 5,00%, dan suku bunga fasilitas pinjaman (lending facility) menjadi 6,75%.
Prediksi tersebut muncul di tengah penguatan rupiah sekitar 1% sejak lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB/A-2 dengan prospek stabil pekan lalu. S&P menilai pemerintah tetap berkomitmen menjaga batas defisit anggaran sebesar 3% terhadap PDB sebagai jangkar utama kebijakan fiskal.
Meski demikian, sepanjang tahun ini rupiah masih melemah sekitar 7% terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana belanja pemerintah Presiden Prabowo Subianto, kebijakan ekspor komoditas yang menuai kontroversi, serta munculnya pertanyaan mengenai independensi Bank Indonesia.
Di sisi lain, tekanan inflasi juga meningkat. Inflasi tahunan Indonesia pada Juni tercatat 3,34%, mendekati batas atas target BI sebesar 1,5%-3,5%. Kenaikan harga minyak dunia akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah turut memperbesar tekanan inflasi, sehingga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Senior ASEAN Economist OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran, menilai kondisi eksternal masih sangat bergejolak dan kekhawatiran terhadap arus modal asing belum sepenuhnya mereda.
Menurutnya, Bank Indonesia memiliki ruang untuk melanjutkan kebijakan moneter yang ketat karena stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama. Dengan inflasi yang mulai meningkat, BI diperkirakan akan semakin waspada sehingga kenaikan suku bunga pada Juni lalu belum menjadi akhir dari siklus pengetatan.
Namun demikian, tidak semua ekonom memiliki pandangan yang sama. Sebanyak 13 dari 33 responden atau hampir 40% memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75%.
Chief ASEAN Economist Nomura, Euben Paracuelles, menilai rupiah relatif stabil meskipun konflik Iran kembali memanas. Menurutnya, BI memiliki ruang untuk menahan suku bunga setelah sebelumnya menaikkan BI-Rate secara agresif sebesar 100 basis poin selama Mei dan Juni, lebih besar dibandingkan banyak bank sentral di negara lain.
Secara global, banyak bank sentral di negara maju maupun berkembang mulai kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Pasar juga memperkirakan Federal Reserve masih akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi tahun ini, yang berpotensi mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, sebagian ekonom menilai BI telah mengantisipasi langkah tersebut. Ekonom Permata Bank, Faisal Rachman, mengatakan kenaikan kumulatif BI-Rate sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026 telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada akhir tahun.
Perbedaan pandangan tersebut juga tercermin dalam proyeksi suku bunga hingga akhir 2026. Sebagian ekonom memperkirakan BI-Rate tetap bertahan di 5,75%, sementara satu responden memproyeksikan suku bunga dapat meningkat hingga 6,50%. Namun, mayoritas responden, yakni 13 dari 24 ekonom, memperkirakan BI-Rate akan berada di level 6,00% pada akhir Desember 2026.(Reuters)
Sumber : Admin