- IHSG turun sekitar 3,8% sepanjang pekan, menuju penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni, berkinerja terburuk di ASEAN tahun ini.
- Bursa saham regional bergerak variatif, sedangkan mata uang regional menguat.
- Sentimen regional masih dibayangi imbal hasil US Treasury dan harga minyak di atas US$100 per barel.
Ipotnews - Bursa saham Indonesia bergerak menuju pekan terburuk dalam lebih dari tiga bulan, jelang akhir pekan ini, Jumat (2/10), ketika bursa saham regional bergerak variatif. Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi, harga minyak, dan penguatan dolar AS membuat mata uang regional menuju penurunan mingguan.
Laman Reuters melaporkan, IHSG telah turun sekitar 3,8% sepanjang pekan ini, menuju penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni. Pelemahan terjadi setelah pemberlakuan aturan bursa baru yang menurunkan harga minimum saham menjadi Rp1 dari sebelumnya Rp50, mulai awal pekan ini.
Aturan tersebut bertujuan meningkatkan likuiditas dan pembentukan harga ( price discovery ), namun memungkinkan saham yang sebelumnya tertahan di batas harga minimum lama untuk diperdagangkan lebih rendah.
Sejumlah saham mencatat penurunan berulang yang mendekati batas penurunan harian bursa sebesar 15%. Saham GoTo Gojek Tokopedia () rontok 42% sepanjang pekan ini.
IHSG menjadi indeks dengan kinerja terburuk di ASEAN tahun ini, turun lebih dari 30%, setelah peringatan penurunan peringkat MSCI pada Januari lalu . MSCI mempermasalahkan struktur kepemilikan yang tidak transparan, keterbatasan visibilitas free float , dan kekhawatiran mengenai data perdagangan memicu aksi jual secara luas.
Kendati demikian, mendekati pukul 15:30 WIB, IHSG berbalik naik 0,50% setelah sempat tertekan hingga tengah hari tadi. Rupiah juga naik hampir 0,5% menjauh dri Rp18.000 per dolar.
Mata uang regional bergerak cenderung menguat menjelang akhir sesi perdagangan hari ini, tetapi masih menuju penurunan mingguan. Tingginya imbal hasil US Treasury menopang dolar AS, yang berada di dekat level tertinggi dalam 17 bulan, sementara harga minyak bertahan di atas USD100 per barel.
Lukman Leong, Kepala Analis Doo Financial Futures, menilai penguatan pada hari ini sebagai "kelegaan jangka pendek", bukan perubahan sentimen yang lebih luas. Menurutnya, penguatan mata uang regional dipicu meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober, serta penurunan imbal hasil obligasi AS jangka pendek.
Baht Thailand menjadi mata uang yang paling rentan baru-baru ini karena harga minyak yang tinggi mengancam meningkatkan biaya impor. Baht menjadi mata uang regional dengan kinerja terburuk pekan ini, melorot 0,7%, dan menuju penurunan mingguan keempat berturut-turut.
Menambah sentimen hati-hati, gejolak di pasar obligasi global masih berlanjut. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2002 pada perdagangan Kamis malam, setelah mencatat kenaikan kuartalan terbesar dalam 32 tahun.
Meski demikian, obligasi pemerintah negara-negara emerging market Asia mengungguli obligasi negara maju pada September. Imbal hasil di sebagian besar kawasan Asia meningkat jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik sekitar 53,5 basis poin bulan lalu. Sementara itu, imbal hasil obligasi acuan 10 tahun Jerman dan Prancis masing-masing naik 25,49 bps dan 68,75 bps.
Sebagai perbandingan, imbal hasil di Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Indonesia, dan Malaysia hanya naik antara 7 hingga 16 basis poin.
"Banyak perekonomian Asia memasuki periode ini dengan inflasi yang relatif stabil dan posisi eksternal yang lebih kuat," kata Leong, seperti dikutip Reuters.
Menurutnya, bank-bank sentral Asia bergerak relatif lebih awal ketika terjadi guncangan inflasi global, sehingga membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Hal tersebut, ditambah cadangan devisa yang lebih besar dan neraca eksternal yang lebih tangguh, membantu pasar obligasi domestik menyerap kenaikan imbal hasil global dengan lebih baik.
Pada Jumat, pasar saham Asia bergerak beragam. Thailand dan Malaysia masing-masing naik 0,25% dan 0,6%, sementara Singapura turun 0,6%.
Indeks saham Korea Selatan dan Taiwan, bergerak berlawanan arah. Kospi Korea Selatan melemah 0,11%, sedangkan Taiex Taiwan menguat 0,25%. Sementara itu, won Korea meningkat 0,8% dan Dolar Taiwan naik hampir 0,5%. (Reuters/AI)
Asia stock indexes and currencies at 0709 GMT
Country | FX RIC | FX DAILY % | FX YTD % | Index | Stock DAILY % | Stock YTD % |
Japan | JPY | +0.16 | -0.74 | N225 | -0.94 | 31.79 |
China | CNY | - | +4.22 | SSEC | - | -3.19 |
India | INR | - | -6.69 | NSEI | - | -14.19 |
Indonesia | IDR | +0.34 | -6.77 | JCI | -0.32 | -30.72 |
Malaysia | MYR | +0.02 | -0.61 | KLCI | 0.34 | -2.63 |
Philippines | PHP | +0.32 | -5.95 | PSEI | -0.01 | -7.00 |
S. Korea | KRW | +0.64 | +6.62 | KOSPI | 0.46 | 66.20 |
Singapore | SGD | +0.05 | +0.48 | STI | -0.66 | 21.18 |
Taiwan | TWD | -0.17 | -1.43 | TAIEX | 0.25 | 67.37 |
Thailand | THB | +0.21 | -6.32 | SET | 0.25 | 24.46 |
Sumber : admin