- Mata uang emerging market Asia menguat didorong optimisme AI dan harapan damai AS-Iran.
- Won Korea memimpin kenaikan, baht dan yen turut menguat di tengah sentimen pasar yang membaik.
- Meski tekanan mereda, reli dinilai rapuh karena risiko geopolitik dan lonjakan harga energi masih membayangi.
Ipotnews - Mata uang negara-negara emerging market Asia berlanjut menguat seiring menguatnya perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI). Sentimen pasar membaik berkat harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Laman Bloomberg, Rabu siang (6/5), melaporkan won Korea memimpin kenaikan, dengan mencatatkan peningkatan terbesar dalam hampir tiga minggu. Kenaikan tersebut antara lain didorong lonjakan nilai pasar Samsung Electronics Co mencapai USD1 triliun di tengah lonjakan permintaan chip.
Nilai tukar baht Thailand terhadap dolar AS naik meningkat 0,8% - kenaikan terbesar sejak 17 April. Sebagian besar mata uang Asia lainnya juga menguat, terutamamata uang yang sensitif terhadap pergerakan harga minyak.
Sementara itu, yen menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan, kembali memicu spekulasi kemungkinan intervensi otoritas Jepang.
Reli terjadi seiring optimisme baru terhadap AI yang mengangkat pasar Asia, sebagai bagian penting dari ekosistem AI global. Presiden AS Donald Trump juga menangguhkan rencana pengawalan kapal melalui Selat Hormuz setelah bentrokan dengan Iran, sebagai upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
"Penangguhan Project Freedom oleh Trump, yang dapat meningkatkan harapan negosiasi antara AS dan Iran," mendorong mata uang berisiko tinggi menguat, kata Kiyong Seong, kepala strategi makro Asia di Societe Generale SA di Hong Kong.
Meski demikian masih sulit untuk memastikan apakah tekanan terburuk bagi mata uang Asia telah berlalu, "skenario terburuk berupa eskalasi kembali aksi militer dapat dihindari," ujarnya seperti dikutip Bloomberg.
Kondisi tersebut meredakan sebagian tekanan pada mata uang Asia. Lonjakan harga minyak pekan lalu - dipicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata AS-Iran - sempat menekan mata uang negara dengan impor minyak tinggi seperti rupiah Indonesia dan rupee India ke level terendah sepanjang masa.
Hal tersebut mendorong intervensi berulang dari bank sentral, termasuk Bank Indonesia dan Reserve Bank of India, untuk menahan pelemahan. Mereka juga menargetkan pembatasan pada para spekulan. BI memperketat aturan pembelian dolar pada Selasa, sementara RBI sementara membatasi penggunaan derivatif rupee offshore .
RBI juga mempertimbangkan rencana agar bank milik negara menjual obligasi dalam mata uang asing guna menarik arus modal masuk dan menopang rupee, ungkap sumber Bloomberg yang mengetahui hal tersebut.
Meski demikian, reli ini mungkin tidak bertahan lama karena kinerja mata uang Asia yang terkait dengan perdagangan AI dan pergerakan harga minyak mulai menunjukkan perbedaan. India, Indonesia, dan Filipina belum sepenuhnya merasakan dampak biaya energi yang tinggi, sementara won Korea kemungkinan tetap didukung oleh arus masuk ke pasar saham, menurut Eugenia Victorino, kepala strategi Asia di Skandinaviska Enskilda Banken AB.
"Kami masih melihat pasar terlalu melebihkan peluang penyelesaian cepat," ujar Eddie Cheung, ahli strategi emerging market senior di Credit Agricole di Hong Kong. "Gencatan senjata masih rapuh," ujarnya. (Bloomberg/AI)

Sumber : admin