- Rupiah melemah ke Rp17.995 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (4/6), turun 29 poin (0,16%) dibanding penutupan sebelumnya akibat penguatan dolar AS.
- Sinyal hawkish The Fed menekan rupiah, setelah Gubernur Fed Dallas Lorie Logan menyatakan suku bunga AS masih berpotensi naik lagi tahun ini karena inflasi belum kembali ke target 2%.
- Dolar didukung data ekonomi AS yang kuat dan meningkatnya tensi Timur Tengah. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS, dengan peluang intervensi agresif dari Bank Indonesia.
Ipotnews - Sinyal bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve yang hawkish, mendorong pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam pembukaan perdagangan pagi ini.
Mengutip data Bloomberg pada Kamis (4/6) pukul 09.06 WIB, rupiah sedang diperdagangkan di level Rp17.995 per dolar AS, melemah 29 poin atau 0,16% dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (3/6) yang berada di posisi Rp17.966 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah masih tertekan pagi ini oleh sinyal pengetatan kebijakan moneter dari salah satu pejabat the Fed. "Benar, pejabat - pejabat the Fed masih bersifat hawkish dan mendukung dolar," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
Gubernur The Fed Bank of Dallas, Lorie Logan, mengatakan para pejabat bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga lagi pada akhir tahun ini untuk mengembalikan inflasi ke target 2% yang ditetapkan oleh bank sentral AS.
Logan mengatakan pasar tenaga kerja AS saat ini "secara umum berada dalam kondisi seimbang," investasi dalam kecerdasan buatan (AI) sedang berkembang pesat, dan kondisi keuangan masih "akomodatif." Namun, menurutnya, inflasi belum terlihat bergerak kembali menuju target 2% The Fed.
"Kondisi-kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter saat ini tidak menahan laju ekonomi," kata Logan pada Rabu kemarin dalam sebuah acara di El Paso, Texas.
Lukman memperkirakan rupiah bakal melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Data pekerjaan AS ADP dan ISM Jasa yang lebih kuat dari perkiraan juga ikut mendukung dolar AS.
"Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungknan BI akan mengintervensi secara agresif. Range hari ini antara Rp17.900 - Rp18.050 per dolar AS," jelas Lukman.
Ketidakpastian Kebijakan
Tak hanya rupiah, mata uang Asia pada pagi ini berada dalam tekanan akibat meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Analis mata uang senior MUFG Bank, Lloyd Chan, dalam sebuah laporan riset mengatakan bahwa kondisi makroekonomi AS yang tetap kuat terus memperkuat pandangan pasar bahwa suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) akan bertahan pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer). Pandangan tersebut didukung oleh sejumlah data ekonomi AS yang dirilis semalam dan menunjukkan ketahanan aktivitas ekonomi.
Menurut Chan, rupiah menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan mata uang regional lainnya karena dibayangi ketidakpastian kebijakan domestik serta kenaikan harga energi.
"Khusus untuk rupiah, kerentanannya diperparah oleh ketidakpastian kebijakan di dalam negeri dan harga energi yang lebih tinggi," tulis Chan.
Ia menambahkan bahwa rupiah terus melemah dan mencatat level terendah baru terhadap dolar AS. Kondisi tersebut mulai memengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset Indonesia.
Selain itu, likuiditas perdagangan pasangan dolar AS-rupiah disebut masih sangat ketat, sehingga meningkatkan risiko penguatan dolar lebih lanjut terhadap mata uang Indonesia.
Berdasarkan data FactSet, dolar AS menguat 0,3% menjadi Rp18.014, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi baru di level Rp18.038,50 per dolar AS.(Adhitya/Dow Jones Newswires/AI)
Sumber : Admin