Market Menanti Arahan Dampak Konflik Timur Tengah, Greenback Melempem
Wednesday, March 11, 2026       13:48 WIB
  • Dolar turun karena pasar menunggu perkembangan konflik AS-Israel vs Iran dan sinyal kebijakan the Fed.
  • Euro, pound, dan Aussie menguat; Aussie terdorong ekspektasi kenaikan suku bunga.
  • Harga minyak turun setelah IEA pertimbangkan pelepasan cadangan besar, meredakan tekanan inflasi global.

Ipotnews - Dolar AS melemah, Rabu, karena trader menunggu sinyal arah berikutnya dalam konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Sinyal yang campur aduk mengenai kemungkinan resolusi perang membuat sentimen investor tetap rentan.
Pasar global memperkirakan Presiden AS Donald Trump akan berupaya mengakhiri konflik dalam waktu dekat, namun dia juga berulang kali mengancam serangan keras terhadap Iran terkait upaya Teheran menghentikan aliran pasokan energi melalui Selat Hormuz, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Rabu (11/3).
Dolar, yang sempat melonjak seiring naiknya harga minyak akibat perang, kini melepas sebagian keuntungan tersebut karena harapan akan penyelesaian cepat. Namun, analis tetap skeptis konflik akan segera berakhir.
"Kami memperkirakan perang akan berlangsung selama beberapa bulan, bukan minggu, sambil mengakui tingkat ketidakpastian yang tinggi," kata Kristina Clifton, Senior Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia.
Euro menguat 0,18% menjadi USD1,163175, sedikit menjauhi level terendah tiga bulan yang dicapai pada sesi Senin. Poundsterling naik 0,25% jadi USD1,3449. Yen berada di 158,14 per dolar AS, mendekati level terendah tujuh minggu yang sempat dicapai awal pekan ini.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, melemah ke 98,773, tidak jauh dari puncak tiga bulan yang dicapai pada Senin.
Seiring perang memasuki hari ke-12, Amerika dan Israel terus bertukar serangan udara dengan militer Iran di Timur Tengah. Pemerintah Teheran memperingatkan pasukan keamanan negara siap "dengan jari di pemicu" untuk menghadapi setiap kebangkitan protes anti-pemerintah.
Perkembangan cepat ini membuat trader sulit menentukan harga risiko dengan tepat. "Trader sebagian besar menunggu berita lebih lanjut dan kejelasan lebih besar agar risiko bisa dihargai lebih efisien," kata Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone.
Aussie Perkasa
Dolar Australia menjadi penggerak terbesar di pasar valuta selama dua hari terakhir, menembus level tertinggi sejak pertengahan 2022 di USD0,7182, dan terakhir menguat 0,86% menjadi USD0,718.
Kenaikan Aussie sebagian besar dipicu peringatan Deputy Governor Reserve Bank of Australia, Andrew Hauser, bahwa lonjakan harga minyak akan mendorong inflasi lebih tinggi dan menambah tekanan untuk kenaikan suku bunga pada rapat kebijakan pekan depan.
"Perang di Timur Tengah berdampak besar pada ekspektasi suku bunga bank sentral," kata Clifton. "Sejak perang dimulai akhir Februari, pasar bergerak dari memperkirakan pemotongan suku bunga ke kemungkinan kenaikan, atau mengurangi jumlah pemotongan yang diprediksi sebelumnya."
Trader Fed funds futures kini memperkirakan pemotongan sebesar 39,7 basis poin hingga akhir 2026, menandakan keraguan pasar bahwa the Fed akan melakukan pemotongan 25 basis poin kedua tahun ini.
Sementara itu, pasar Eropa kini mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga ECB, meski pembuat kebijakan menegaskan bank sentral harus mengevaluasi kembali kebijakan dan mempertahankan kurs saat ini untuk sementara.
Fokus pasar lainnya adalah data inflasi AS Februari yang akan dirilis Rabu, dengan ekspektasi kenaikan harga konsumen inti sebesar 0,2% dan harga utama tumbuh 0,3%, menurut survei  Reuters. 
Sementara itu, harga minyak melorot setelah  Wall Street Journal  melaporkan IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah untuk menahan harga energi yang melonjak. (Reuters/AI)

Sumber : Admin