Mandatori B50 Hemat Devisa Rp170 Triliun, Indonesia Tak Lagi Impor Solar: Bahlil
Thursday, July 09, 2026       15:34 WIB

Ipotnews - Pemerintah resmi meluncurkan Program Mandatori Biodiesel B50 sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ) Bahlil Lahadalia menyatakan implementasi kebijakan tersebut berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun. "Jadi dari B40 ke B50, kita bisa menahan devisa kita Rp170 T," ujar Bahlil saat peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Nilai penghematan devisa tersebut meningkat dibandingkan implementasi mandatori B40 yang sebelumnya diperkirakan mampu menghemat sekitar Rp133,3 triliun.
Selain mengurangi impor BBM, program B50 juga diproyeksikan meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun, dengan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO2 pada 2026.
Bahlil menambahkan, bahan bakar solar B50 yang berbahan baku minyak sawit akan meningkatkan penyerapan minyak sawit mentah (CPO) dari 15,2 juta ton menjadi sekitar 16,3 juta hingga 17 juta ton.
Penerapan B50 juga menjadi tonggak penting dalam upaya mewujudkan kemandirian energi nasional. "Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali," kata Bahlilseperti dikutip Antara.
Program Mandatori Biodiesel B50 mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50% ke dalam bahan bakar minyak jenis solar. Pelaksanaan program tersebut mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengenai kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50% pada solar. (Antara/AI)

Sumber : admin