- Pasar opsi semakin mempricing skenario The Fed menahan suku bunga sepanjang 2026.
- Data tenaga kerja AS yang solid dan inflasi di atas target mengurangi peluang pemangkasan.
- Sentimen pasar ikut dipengaruhi tensi politik dan isu independensi bank sentral.
Ipotnews -- Semakin banyak trader yang fokus pada pasar opsi mulai mengesampingkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 2026. Alih-alih bertaruh pada penurunan suku bunga, para pelaku pasar kini memasang posisi yang akan diuntungkan jika bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter tanpa perubahan sepanjang tahun ini.
Pergeseran sentimen ini setidaknya sudah terlihat sejak Jumat lalu, ketika data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan penurunan tingkat pengangguran yang tidak terduga. Rilis tersebut nyaris menghapus peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed bulan ini, sekaligus mendorong trader menunda ekspektasi penurunan suku bunga ke periode yang lebih jauh.
Pasar tenaga kerja yang relatif stabil memberi alasan lebih kecil bagi bank sentral untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan, terutama setelah tiga kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin dilakukan tahun lalu, sementara inflasi masih berada di atas target The Fed.
"Kita melihat gambaran ketenagakerjaan yang campur aduk, ditambah masalah inflasi," ujar David Robin, ahli strategi suku bunga di TJM Institutional Services LLC. Menurutnya, probabilitas The Fed untuk menahan suku bunga setidaknya hingga Maret semakin meningkat, dan seiring berlalunya setiap jadwal rapat, peluang kebijakan tetap bertahan tanpa perubahan menjadi kian besar.
Meski pasar swap masih mencerminkan ekspektasi pemangkasan sekitar 50 basis poin pada 2026, arus transaksi opsi terbaru yang terkait dengan Secured Overnight Financing Rate ( SOFR )--yang sangat berkorelasi dengan suku bunga acuan jangka pendek The Fed--menyampaikan sinyal yang lebih hawkish.
Sebagian besar posisi opsi baru terkonsentrasi pada tenor Maret dan Juni, sebagai lindung nilai terhadap skenario tertundanya langkah pemangkasan berikutnya sebesar 25 basis poin. Posisi lain yang menyasar kontrak berjangka dengan jatuh tempo lebih panjang juga berpotensi diuntungkan jika The Fed tetap menahan suku bunga, dengan target berada di kisaran 3,5%-3,75% hingga akhir 2026.
"Terlepas dari seberapa besar probabilitas pasar menilai The Fed akan bertahan--5%, 10%, atau 20%--transaksi ini relatif murah dan menarik bagi manajer risiko yang disiplin," kata Robin.
Pandangan serupa mulai diadopsi sejumlah strategis. Setelah rilis data payrolls Jumat lalu, ekonom dan ahli strategi JPMorgan Chase & Co. menyatakan tidak lagi melihat pemangkasan suku bunga tahun ini, bahkan memproyeksikan kenaikan suku bunga pada 2027. Sebulan sebelumnya, HSBC Securities memperkirakan The Fed tidak akan mengubah suku bunga hingga 2027.
Perubahan sentimen di pasar opsi ini juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintahan Donald Trump dan pimpinan bank sentral di bawah Ketua The Fed Jerome Powell. Powell pada Minggu mengungkap adanya penyelidikan pidana oleh Departemen Kehakiman AS terhadap dirinya, yang ia sebut bermotif politik.
Langkah tersebut memicu kembali kekhawatiran atas independensi bank sentral dan memancing reaksi keras dari kalangan bankir sentral, investor, serta legislator yang memberikan dukungan kepada Powell. Situasi ini turut mendinginkan sentimen di pasar obligasi pemerintah AS.
Survei JPMorgan terhadap perubahan posisi klien pada pekan yang berakhir 12 Januari menunjukkan posisi short naik 4 poin persentase, sementara posisi long meningkat 3 poin persentase. Hasil ini mencerminkan level net long terendah sejak Oktober 2024, serta jumlah posisi short tertinggi sejak awal Oktober tahun lalu.(Bloomberg)
Sumber : admin