- Emas turun tertekan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi.
- Konflik AS-Iran meningkatkan risiko inflasi.
- Pasar menanti data tenaga kerja AS.
Ipotnews - Harga emas melorot, Rabu, seiring meningkatnya ekspektasi bahwa tekanan inflasi akibat konflik geopolitik akan membuat suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Investor juga mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah serta menanti sejumlah data ekonomi penting Amerika yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Emas spot merosot 1 persen menjadi USD4.440,99 per ons pada pukul 24.42 WIB, sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutup melemah 1,2 persen ke posisi USD4.466,90 per ons, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Rabu (3/6) atau Kamis (4/6) dini hari WIB.
Tekanan terhadap logam mulia terjadi di tengah kembali memanasnya konflik di kawasan Teluk. Serangan Iran ke Kuwait dilaporkan menyebabkan kerusakan pada bandara negara tersebut dan melukai puluhan orang. Pada saat yang sama, militer Amerika Serikat melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz, sementara upaya diplomatik untuk menghentikan perang belum menunjukkan kemajuan berarti.
Direktur High Ridge Futures, David Meger, mengatakan pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Meger, eskalasi konflik berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi. Kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lanjut, sehingga memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga logam kuning.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tersebut cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Kenaikan harga minyak turut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global. Di sisi lain, Indeks Dolar AS (Indeks DXY) mencatat penguatan untuk hari ketiga berturut-turut. Menguatnya dolar AS membuat emas dan logam lainnya yang diperdagangkan dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams kembali menegaskan bahwa dirinya belum melihat kebutuhan bagi bank sentral untuk mengubah tingkat suku bunga jangka pendek saat ini.
Namun, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack sebelumnya menyatakan bahwa the Fed mungkin perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat apabila tekanan inflasi yang sudah tinggi terus meningkat.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan ketenagakerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) Amerika periode Mei yang akan dirilis Jumat. Data tersebut dipandang sebagai salah satu indikator utama yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga the Fed pada bulan-bulan berikutnya.
Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta AS sepanjang Mei bertambah lebih besar dibandingkan perkiraan pasar. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih cukup kuat dan dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot anjlok 2,2 persen menjadi USD73,40 per ons. Platinum ambles 3,5 persen jadi USD1.868,58, sementara paladium juga menyusut 3,5 persen ke USD1.321,97. (Reuters/AI)
Sumber : Admin