- Emas naik 1,01% ke USD4.426, didukung pelemahan dolar dan imbal hasil AS.
- Pasar menanti data tenaga kerja AS untuk arah suku bunga the Fed.
- Emas berpeluang menuju USD4.500 jika bertahan di atas USD4.400.
Ipotnews - Harga emas kembali menguat, Kamis, setelah dolar AS dan imbal hasil US Treasury melorot. Investor kini menunggu data ketenagakerjaan Amerika yang dinilai dapat menentukan ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan Federal Reserve berikutnya.
Emas spot melompat 1,01% menjadi USD4.426,13 per ons pada pukul 14.19 WIB, setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah dalam hampir satu bulan, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Bengaluru, Kamis (3/9).
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember melonjak 1,27% menjadi USD4.470,80 per ons.
Dolar AS berada di bawah tekanan, sementara imbal hasil US Treasury tergelincir dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam greenback menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Perhatian utama pasar kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls Amerika yang akan dirilis Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator utama yang digunakan investor untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga the Fed.
Sebelumnya, laporan ADP National Employment menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta Amerika meningkat secara moderat sepanjang Agustus. Namun, laporan nonfarm payrolls pemerintah AS biasanya menjadi perhatian yang lebih besar bagi pasar.
"Laporan payrolls kemungkinan menjadi momen paling menentukan dalam pekan ini. Jika data lapangan kerja berada di bawah ekspektasi dan spekulasi kenaikan suku bunga pada September menurun, hal itu dapat mendorong harga emas lebih tinggi," kata Ilya Spivak, Head of Global Macro Tastylive.
Menurut Spivak, apabila harga emas mampu bertahan di atas USD4.400, pergerakan berikutnya berpotensi mengarah ke USD4.500 dan kemudian USD4.700 per ons.
Pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga AS pada pertemuan September mencapai 63%, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Data ekonomi terbaru juga menunjukkan aktivitas ekonomi AS meningkat secara moderat, lapangan kerja bertambah tipis, sementara harga mengalami kenaikan secara moderat dalam beberapa pekan terakhir. Laporan yang beragam tersebut dirilis the Fed, Rabu, dan diprediksi belum cukup kuat untuk meyakinkan perumus kebijakan mengenai arah suku bunga.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada 15-16 September. Investor akan mencermati data tenaga kerja dan inflasi yang tersedia sebelum pertemuan tersebut untuk memperkirakan apakah the Fed akan menaikkan suku bunga.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang memegang emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi geopolitik, sejumlah penasihat senior Presiden AS Donald Trump disebut berupaya mencegah perang dengan Iran berkembang menjadi konflik yang lebih luas menjelang pemilihan paruh waktu pada November. Empat sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan langkah itu dimaksudkan untuk membatasi potensi kerugian elektoral Partai Republik.
Para pejabat Gedung Putih disebut akan mempertimbangkan peningkatan aksi militer setelah pemungutan suara pada 3 November.
Logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,7% menjadi USD65,79 per ons. Platinum menguat 0,8% ke posisi USD1.773,59, sedangkan paladium melonjak 1% jadi USD1.358,78 per ons. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin